Selasa, 09 Oktober 2012

SPIRITUAL ORANG BINGUNG

  • Aku tak punya agama
    Tapi beriman
    Seperti Adam telanjang di tengah padang
    Sebelum tanah disekat-sekat dan rumah mewah jadi kebanggaan
    Agama mempesonaku memang
    Tapi keimanan membebaskanku

    Dengan gaya humornya yang khas, dai sejuta umat, almarhum bapak KH. Zainudin MZ, dalam  salah satu kaset dakwahnya pernah menyentil soal  orang-orang yang tak beragama. Dalam kotbahnya kurang-lebih  beliau katakan begini, “Orang ini (orang-orang tak beragama) memandang agama tidaklah lebih dari baju dan celana. Dan karena menurut pandangannya, semua baju dan celana yang dilihatnya itu semua sama baik dan benarnya, orang ini jadi bingung sendiri. Karena kebingungannya itulah, akhirnya orang ini malah pilih tak pakai baju dan celana, alias telanjang!”
    Semua yang dengar kotbah itupun langsung tertawa, tak terkecuali saya. Tapi saya tertawanya cuma setengah, sebab apa yang dikotbahkan bang Zainudin diatas, menurut saya kebenarannya juga cuma setengah.
    Pendapat bang Zainudin yang mengatakan orang-orang tak beragama itu sebagai orang-orang yang telanjang, itu memang benar adanya. Dan bagi saya, pernyataan itu justru saya rasakan sebagai sebuah sanjungan yang membuat besar kepala saya saja. Sebab bukankah semua agama pada dasarnya mengajarkan akan haqiqat diri manusia yang sesungguhnya memang telanjang? La haula quata illa billah {tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dari Allah}. Bang Zainudin sendiri ketika pertama kali dilahirkan tentu juga tidak dibawa-pakaiin Tuhan,  kopiah, baju koko dan sarung khan? Tapi terlahir telanjang. Begitupun dengan baju/jubah  yang pongah-mahal yang sering jadi pertanda status social dan tingkat kesucian moral kita? Tidakkah pada saat-saat mempribadi, baju/jubah kebanggaan kita itu kita tanggalkan juga?
    Yesus juga pernah berkotbah, ”Manusia tidak akan pernah bisa masuk Surga, jika tidak lebih dulu bisa menjelmakan diri jadi anak kecil.” Anak kecil dimaksud, bukankah artinya polos, jujur, tulus atau telanjang? Budha juga mengajarkan, bagaimana mencapai kebahagiaan Nirwana dengan jalan mengatasi ruang-jiwanya dari himpitan benda-benda dan hasrat diri, melalui jalan mengosongkan diri. Telanjang. Ilmu tasawuf yang oleh imam Al-Ghazali dikatakan sebagai ilmu yang tertinggi, begitu kita selami lebih dalam itu ilmu, bukankah disitupun pada akhirnya kita hanya akan ditelanjangi? Dikembalikan keasal-muasal kita yang seperti bayi suci yang terlahir telanjang.
    Jadi entah sadar atau tidak, dalam hal ini secara tidak langsung bang Zainudin sebenarnya telah menyanjung orang-orang tak beragama itu sebagai orang-orang yang telah bisa menempatkan dirinya sebagai hamba Tuhan yang sejati. Orang-orang telanjang yang berarti orang-orang yang telah bisa dan berani bersikap laku jujur dan tulus. Keberanian bertelanjang diri yang dalam orang beragama hanya masih jadi impian serta retorika belaka? Maka disini saya hanya bisa berdo’a, moga ketelanjang diri/kejujuran itu masih jadi mata uang yang berlaku dia agama manapun.
    Dan ini pendapat bang Zainudin yang saya tidak setuju, yang mengatakan orang-orang tak beragama itu sebagai orang yang “bingung”. Untuk mudahnya, saya buat gambaran ketika zaman orde baru dulu. Pada saat itu ada dua parpol dan satu golongan, dan kita harus memilih satu diantara ketiga pilihan legal-formal yang ada itu. Sementara diluar ketiga pilihan itu ada partai liar atau golput, orang bilang. Pertanyaannya disini, benarkah golput itu partainya orang bingung? Bingung karena melihat ketiga pilihan diatas itu semua sama baik dan benarnya? Ataukah justru sebaliknya, orang-orang masuk golput itu sebagai sebuah ekspresi kekecewaan dan ketidak puasan dahaga berpolitik mereka dengan ketiga pilihan legal-formal yang ada? Dengan kata lain, orang-orang golput itu sebenarnya orang-orang yang kritis.
    Jadi ketika kita menyorot tentang orang-orang yang tak beragama, disitu memang ada dua kemungkinan. Pertama, orang tak beragama karena orang itu memang belum kenal atau tahu agama.  Kedua, orang tak beragama karena merasa dahaga rohaninya tak terpuaskan oleh agama-agama yang ada, Seperti fenomena yang terjadi di Eropa dan Amerika dengan apa yang dinamai gerakan new age. Mereka yang mengikuti gerakan ini,  umumnya orang-orang dari kalangan menengah keatas. Jadi secara ekonomi dan intelektual mereka adalah orang-orang yang berkecukupan. Jadi untuk mendapatkan kitab suci atau pengetahuan agama, bukanlah hal yang sulit bagi mereka. Tapi karena agama-agama formal-terorganisasi tidak bisa memenuhi akan dahaga rohaninya dan dirasa-pandang sering kurang toleran dengan keyakinan-keyakina diluarnya. Sebagai konsekwensinya, gerakan new age menjauh dari agama-agama formal, kearah agama-agama timur, agama-agama pribumi Amerika atau keyakinan-keyakinan/kepercayaan yang lebih feminis.
    Kembali kesoal orang-orang yang tak beragama. Seperti halnya golput di zaman orde-baru atau gerakan new age di Eropa atau Amerika, itu juga suatu pilihan yang didalamnya juga ada konpensasinya yang menuntut tanggung-jawab dan keberanian bersikap. Apalagi disini mengaku sebagai orang yang tak beragama, tidak masuk mainstream, sangat berat itu tanggung-jawab dan beban mental yang harus diembannya. Salah-salah bisa dituduh kafir, atheis, abangan, klenik, paranormal, PKI dan aneka tuduhan konyol dan ngawur lainnya.
    Jadi memang suatu hal yang mustahil, jika ada orang bingung kok punya keberanian bertangung-jawab dan bersikap sebagai dirinya sendiri. Sebab orang bingung itu memang orang yang tidak tahu dan berani jadi dirinya sendiri. Orang bingung itu orang yang ketakutan membuka dan mengakui realita yang ada dalam diri pribadi dan masyarakatnya. Orang bingung itu orang yang selalu mencari patokan-patokan yang pasti. Kemana angin bertiup, kesitu orang bingung menuju. Orang bingung itu bukan burung bersayap yang bebas terbang kemana, tapi kuda pedati. Dan begitu orang berwibawa/kharismatik datang, orang bingung itu paling mudah untuk dikendalikan.
     Diperintah apapun orang bingung tidak akan pernah mempertanyakan apalagi berani membentah. Sekalipun perintah itu hanya bersifat simbolik belaka, seperti panjangkan jenggot dan pakai jubah. Orang bingung pasti akan dengan takzim akan mengikuti itu perintah. Karena pada dasarnya, orang bingung itu memang orang yang mengalami semacam krisis identitas. Mereka butuh identitas, eksistensinya ingin diakui. Maka pakai baju-celana atau simbol-simbol kesucian agamapun menjadi hal yang dianggap sangat penting bagi mereka. Karena corak-warna baju-celana yang mereka kenakan itu akan menunjukkan eksistensinya.
    Orang bingung memang akan menemukan semacam ketentraman disitu. Karena terlepas dari keharusan bersikap dan berfikir sendiri. Jadi sikap sectarian dan fanatisme dalam beragama itupun sebenarnya salah satu dari cirri-ciri pribadi yang bingung dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat yang hiruk-pikuk, pluralis dan saling mempengaruhi ini. Sebagai konsekwensi dari kebingungannya itu, akhirnya orang-orang inipun jadi bersikap eksklusif. Jika hal yang demikian ini tidak disertai adanya kesadaran analisa diri dan keberanian berfikir, memang biasa menjerumuskan seseorang pada sikap-sikap yang ekstrem. Pandanganya jadi simplistic, membeku, dogmatis dan tak punya lagi kerendahan hati, yang ada justru rendah diri. Dan sudah menjadi pemandangan yang umum, untuk menutupi rasa rendah diri atau keminderannya itu, orang  lalu suka mengagungkan budaya kekerasan dan  bersikap over. Berani mati, mengangap diri paling suci, benar dan sempurna sendiri. Sementara diluar  diri dan kelompoknya dipandang  hanyalah dunia yang sudah rusak tempat orang-orang sesat beranak-pinak. Sampai titik ini, akhirnya religiusitasnya hanyalah lebih banyak didorong oleh semangat berkelompok dan kekecutan hati andai harus kehilangajn arti saja. Takut jadi manusia telanjang!
    Dari uraian diatas, disini dapat kita tarik suatu kesimpulan; Pada siapakah sebenarnya kata ”BINGUNG”  itu lebih pantas untuk kita kalungkan?

    Apa yang mesti aku lakukan. O, Muslim?
    Aku tak mengenal diriku sendiri
    Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Gabar, bukan Muslim

    Begitulah tulis sufi Muslim besar Jallaludin Rumi, dalam sebuah sajaknya. Dan benarkah sajak diatas mencerminkan kebingungan penulisnya? Ataukah justru sebaliknya menunjukkan akan keluasan wawasan dan kedalaman pemahamannya tentang spiritualitas. Dalam bahasa verbalnya mungkin beliau ingin katakan,”Tak masalah orang itu mau pakai baju-celana merah, putih atau hitam, yang penting orang itu punya ahklak/iman.”

    Hatiku telah mampu untuk setiap bentuk:
    Dialah padang bagi kijang dan sebuah biara bagi Nasrani
    Dialah pura bagi berhal dan Ka’abah bagi berhaji
    Dialah lembar dari Taurat dan kitab Qur’an yang suci

    Itulah sepotong sajak dalam “Tarjumah Al-Ashwag” karya sufi Muslim termasyhur, Ibn’Arabi. Yang menyatakan diri sebagai pengikut agama Cinta dan Kasih: “Kemanapun unta-unta cinta itu pergi, kesana pulalah agama dan imanku lekat.”
    Benarkah sajak Ibn’Arabi diatas juga hanya menunjukkan akan kebingungan penulisnya yang tak jelas apa agamanya? Ataukah justru sebaliknya, menunjukkan kecerdasan dan kebrlianan spiritual penulisnya?  Dalam bahasa verbalnya, mungkin beliau ingin katakan, “komitmen saya pada isi, bukan pada baju dan celana!’
    Dengan kata lain, baik Rumi maupun Ibn’Arabi diatas sebenarnya adalah orang-orang besar yang telah bisa mendekati kebenaran hidup yang hakiki, yang didekatinya dengan kepribadian yang menyeluruh, seimbang dan harmonis. Orang-orang yang telah bisa keluar dari kepompong sutra emas agama dan terbang sebagai kupu-kupu indah di taman kemanusian yang utuh.
    Dan orang-orang yang telah bisa beriman dengan melampaui atau keluar kotak agama. Orang-orang yang telah bisa lebih mencintai Tuhan daripada agama, Ukhuwah/kerukuran merekapun jadinya bukan lagi sekedar ukhuwah Islamiyah lagi. Hanya rukun pada sesama Muslim saja. Tapi ukhuwah mereka sudah setingkat lebih tinggi dan luas, yaitu ukhuwah imaniah atau ukhuwah basyariah. Rukun dengan sesama orang beriman dan sesama umat manusia.
Facebook © 2012 · Bahasa Indonesia
Tentang · Buat Iklan · Buat Halama

SPIRITUAL ACHIEVEMENT


  •              Di tahun 60-an,  untuk mendapatkan suatu pembebasan psikologis atau untuk mendapatkan apa yang disebut SPIRITUAL ACHIEVEMENT, kaum Hippies menghisap ganja. Mereka juga anti kerja keras dan hidup leha-leha sangat hedonis. Orang hidup tanpa tujuan hidup. Tanpa makna yang lebih, selain sekedar untuk mendapat kekayaan dan kedudukan. Dan ketika semua itu sudah didapat, akhirnya hanya kekosongan dan kehampaan jiwa yang didapat, dan akhirnya larilah mereka ke daun ganja.
                Saat ini, kebanyakan agamawan/spiritualis juga hanya mengajarkan spiritual achievement, seperti bagaimana cara mendapat Surga dan menghindari Neraka, ajaran untuk bisa meraih kemenangan, kejayaan, kedigdayaan, kemuliaan.  Mengajarkan bagaimana membuka cakra, mata ketiga,  hingga bisa melihat alam ghaib, meramal dan jadi paranormal. Dan ini catatan saya, PAMRIH ATAS NAMA ROHANI TETAPLAH PAMRIH!. Maka tidak usah heran, karena tidak dilandasi oleh ketulusan, kemurnian dan kesucian jiwa, dikalangan orang-orang yang suka beribadah-meditasi seperti itu, sifat  palsu, serakah, arogan, fanatic, serba curiga, sadar kehebatan diri tidak hilang setelah itu.
                Bagaimana kita akan bisa berlaku tulus-jujur pada sesama, kalau pada Tuhan saja kita tidak pernah mau dan berani berlaku tulus-jujur. Jadi kalau saat ini banyak agamawan/spiritualis, tapi kelakuannya penuh paradokal. Jawabannya jelas, karena saat ini kebanyakan yang beredar hanyalah agamawan/spiritualis Google. Orang dianggap spiritualis tingkat tinggi jika bias  menghapal kitab suci dan bisa  memberi jawab atas segala pertanyaan dan bisa memberi jalan keluar atas semua persoalan.
                 Coba anda lihat, acara-acara keagamaan di televise,  isinya hanya mohon petunujuk umat, bagaimana menyelesaikan suatu permasalan pada sang tokoh agama. Yang seringkali, pertanyaan-pertanyaannya sangat remeh-temeh sekali. Hal seperti ini, jelas mendidik umat ketergantungan pada sang tokoh. Dan sang tokohpun sebenarnya juga tak beda dengan umatnya, sama-sama orang yang kecanduan. Hanya bedanya, disini sang tokoh kecanduan dengan kitab suci. Persis kita-kita mahkluk digital, pertanyan apapun kita tanya mbah Google. Kita bisa cerita banyak dan detail tentang negeri yang sangat jauh dan belum pernah kita kunjungi, dengan mengkopi-paste catatan mbah Google. Tidak ada bedanya dengan tokoh agama yang berkotbah tentang Surga-Neraka dengan mengkopi-paste kitab suci bukan?.
                Spiritual achievement = spiritual penuh pamrih = spiritual instan. Apapun bentuk dan kemasannya, intinya spiritual yang dekat dengan naluri otak pedagang.  Dan spiritual achievement itu yang kini jadi mainstream spiritual. Spiriutal yang tidak berdiri diatas pondasi ketulusan jiwa, tapi spiritual yang didirikan diatas tumpukan aneka macam pamrih, pamrih dapat pengikut, pamrih dapat keuntungan financial-non financial, pamrih biar dipandang sebagai orang suci dan sebagainya.
                Saya tidak menyalahkan spiritual achievement, hanya advis saya, hati-hati dengan spiritual macam ini. Karena seringkali, iklan mengalahkan realita dan propaganda sering menggerus akal sehat, dan janji-janji manis sering membuat kita buta dan lupa diri. Contoh terekstriem dari pengikut spiritual achievement, adalah para pelaku bom bunuh diri. Mereka lakukan itu semua, katanya karena membela agama dan pamrihnya agar dapat memperistri bidadari di Surga?. Pemikiran seperti itu khan jelas didasari keserakahan otak pedagang, yang mau dapat untung besar (surga) hanya dengan modal dengkul. Ingin dapat masuk Surga secara Instan dengan mencelakai orang-orang yang tak berdosa. Orang macam itu, bagiku tak ada bedanya dengan koruptor, rampok-jalanan dan pecandu narkoba. Sama-sama orang yang tidak bisa mensyukuri-menghargai atas rahmat-berkah yang diberikan Tuhan. Para pengecut yang tak berani menghadapi kenyataan hidup dan lari ingin menggapai mimpinya secara instan dan menghalalkan segala cara.
     Tapi mereka-mereka itu sebenarnya juga hanya korban iklan dan dogma. Jadi guru-guru spiritual mereka itulah (pinjam isitilah kata-katanya Yesus} sesungguhnya para ahli agama/kitab yang tidak lebih dari  KUBURAN YANG DI LABUR PUTIH. Putih bersih memang luarnya, tapi bangkai busuk menjijikkan isinya. Ahli kitab yang di jiwanya tidak ada ketulusan, tapi hanya aneka pamrih dan pamrih yang ada.
    Sudah bukan zamannya, spiritual digerakkan dengan jualan soal Surga dan Neraka. Dagangan Surga dan Neraka, terbukti hanya mendidik umat jadi bermental pengecut dan pragmatis. Sementara disisi lain, memberi tempat para bajingan-penipu berjubah-surban agama meneguk keuntungan. Dagangan soal Surga dan Neraka itu juga mengaburkan makna dasar hampir semua ajaran agama.
                Semua agama mengajarkan hal yang sama, mengajari umat untuk mencintai Tuhan dan sesamanya. Tapi iming-iming Surga dan ancaman Neraka, telah mengaburkan ajaran itu. Orang lebih sibuk memikirkan untuk bisa menggapi Surga dan menghindari Neraka dengan menelan bulat-bulat ajaran agama (fanatic).  Hingga entah sadar atau tidak,  sesungguhnya mereka telah menuhankan/memberhalakan agama.  Beranggapan bahwa ajaran agama itu yang akan menyelamatkan dan menuntun kita. Itu khan keyakinan yang fatal, karena sebagai spiritual, kita mestinya percaya, bahwa hanya Tuhannlah  yang akan menuntun dan menyelamatkan kita.
    Jadi sebenarnya sederhana saja,  untuk kita bias  mengetahui seorang guru spiritual itu jiwanya tulus, murni dan suci atau tidak. Yaitu dengan melihat pengajarannya; Kalau guru itu mengajarkan kita untuk menemukan dan jadi diri kita sendiri,  guru itu memang berhati suci dan luhur budi. Tapi jika orang itu hanya mengajarkan spiritual achievement, sekalipun orang itu hapal kitab suci atau bisa bermujijat yang aneh-aneh. Bisa jadi guru itu hanyalah tukang jual ayat atau paranormal yang sedang cari makan. Guru macam itu hanya akan mengajar dan mengejar kemampuan akademis (spiritual teori/google) dan cenderung mengabaikan perkembangan karakter, mental dan jiwa umatnya.
    Ada seorang sufi wanita terkenal dari Basrah yang bernama Rabiah Al Adawiah. Beliau ini bisa jadi contoh mengenai totalitas penyerahan seorang hamba pada Tuhan yang maha pemurah. Yang beribadah tanpa diwarnai pamrih dan kepentingan apapun, selain hanya buat berserah diri pada segala kebesaran dan kehendaknya. Dan  beliaupun bersumpah;  Jika aku beribadah karena takut siksaan Neraka, masukkan aku di api NerakaMu. Begitupun jika aku beribadah karena mengharapkan Surga, campakkan jauh-jauh Surga itu dariku!.
    Begitulah, ketika ibadah dilandasi oleh ketulusan, kemurnian dan kesucian jiwa. Tuhanpun akan berkenan membuka hijab (tabir) yang menutupi segala rahasiaNya. Dan kini, mata hati itupun diperkenan melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata wadag. Pengalaman kedekatan langsung dengan segala kebesaran Allah itulah, yang membuatnya tidak ngiler lagi dengan iming-iming kenikmatan Surgawi, sekaligus juga tidak gentar-takut lagi dengan cerita tentang siksa bara api Neraka.
    Dan  pengalaman spiritual macam itu bukan sebuah achievement. Spiritual sejati tetap tidak bisa dan mau mendikte Tuhan.  Hal seperti itu tidak bisa dicapai, semua itu terjadi semata-mata hanya hadiah dari yang maha pemurah. Maka tepat kiranya wejangan para bijak, bahwa orang sabar itu dicinta Tuhan.
    Jadi jujur saja, kalau kita-kita ini memang belum kenal sejatinya Allah, ataupun mengerti apa yang dimaksud benar, sempurna dan suci, kita mestinya mau belajar rendah hati untuk menghargai proses kearah itu. Dan bagiku, itulah sesungguhnya makna sejatinya spiritual, yaitu proses pencarian yang terrus-menerus. Spiritual tak selalu bersifat liniar dan bisa dibatasi ruang-waktu. Spiritual bukanlah sesuatu yang final, persis dengan permainan ular-tanga. Jadi siapa merasa telah sempurna spiritualnya, sebenarnya orang itu telah game over!.
    Ketulusan jiwa juga tidak bisa dibentuk dengan kekerasan, paksaan dan ancaman. Ketulusan jiwa akan tumbuh dari jiwa yang sanggup berserah diri secara totalitas pada segala kebesaran dan kehendakNya dalam  ibadah atau meditasinya. Karena itu pengalaman spiritual tiap-tiap orang orang akan selalu  bersifat khas, unik dan mempribadi. Keunikannya tak terjelaskan,  Akal kita tak mampu menggapainya. Dalam kepasrahan-penyerahan diri itu, kita  akan langsung dituntunt oleh Allah, untuk memahami inti kebenaran yang memberi pengertian, makna dan tujuan kepada kejadian kita. Bisa jadi kebenaran/pencerahan, tuntunan dariNya itu SAMA DENGAN YANG PERNAH ORANG LAIN TERIMA. Tapi bisa juga yang kita terima itu sebagai kebenaran/pencerahan,tuntunan yang seperti absurd, ganjil dan tidak masuk akal.
     Jadi menurutku, kebenaran, pencerahan, tuntunan, dari allah itu ada dua macam. Satu, tuntunan (wahyu?) yang hanya untuk diri sendiri, dan dua tuntunan yang untuk umum. Yang pertama, namanya untuk diri sendiri, ya tuntunan hanya untuk dikonsumsi sendiri. Pengalaman spiritual yang semakin menguatkan keyakinan kita akan keberadaan Tuhan. Dan tak perlu untuk diceritakan pada orang banyak, karena jika diceritakan hanya akan menjerumuskan kita di kotak kesombongan. JIka diceritakan, lebih banyak tidak baiknya daripada baiknya.  Jika diceritakan, orang yang suka kita, bisa-bisa akan mengkultuskan kita sebagai orang suci? Sementara orang yang tidak suka kita, bisa jadi akan mengannggap kita tidak lebih dari orang gila yang sedang berhalusinasi.
    Dan kedua, pencerahan, kebenaran, tuntunan atau wahyu dari Allah yang bisa/boleh diungkap ke public. Cirinya pasti; JIka diungkap ke public, akan memberi  pula pencerahan dan manfaat bagi kehidupan banyak orang. Dan ini hal terpenting menurut saya,  kita tidak perlu kotbah, iklan dan koar-koar, “Ini wahyu dari Allah! Tuntunan dari Allah, ini bisikan dari Malaikat!” Dan sebagainya.  Jadi yang terpenting adalah buktikan! Apa yang kita lakukan itu memang dibimbing oleh tuntunan Allah yang pada akhirnya pasti juga akan memberi pencerahan, kebaikan dan manfaat bagi banyak orang.
    Yang terjadi sekarang umumnya khan terbalik. Orang berkoar-koar dahulu, ini wahyu dri Allah! Ini tuntunan dari Allah! Ini bisikan malaikat dan sebagainya. Yang biasanya juga lanatas disertai ancaman dan paksaan untuk mengikuti dan tidak boleh ditentang , kalau tidak mau  dilaknat Tuhan jadi penghuni Neraka. Padahal sejatinya Allah itu seperti apa dan dimana mereka juga tidak tahu.  Mereka tahu perintah itu juga cuma dari hasil membaca kitab-suci. Bacaan yang juga bisa ditafsir darimana dudut pandang sang pembacanya. Jadi menurutku, sudah saatnya spiritual meninggalkan object dan atau kajian yang mengawang, kajian dan atau object yang abstrak, a-historis harus ditinggalkan dan menangkap fenomen yang kongkret, historis dan actual.
    Ada kisah, orang yang tiap hari kerjanya hanya melantunkan ayat-ayat suci dan memuja-muji Allah di rumah ibadah. Dan seorang nabi ditanya pendapatnya tentang orang yang super sibuk beribadah itu. Tapi sang nabi bukannya menjawab, malah balik bertanya, “Kalau orang itu tiap waktu kerjanya hanya beribadah melulu, lalu bagaimana dia dapat makan?”. Orang yang ditanya sang nabi itupun menjawa, “Dia selalu dikasih makan oleh saudaranya.” Dan sang nabipun akhinya menyimpulkan, “Kalau begitu, sesungguhnya yang spiritualis sejati adalah saudaranya yang bekerja-keras dan memberinya makan itu!’
    Tuhan itu tidak gila pujian dan butuh penghormatan. Jujur, orang yang suka berdo’a panjang-panjang itu sesungguhnya yang gila pujian dan punya pamrih ingin di hormati sebagai orang suci?. Tuhan juga tidak perlu dilayani. Tapi melayani dan menghormati ciptaanNya, berarti kita juga telah melayani dan menghormati Dia yang mencipta. Maka spiritualis sejati akan selalu melayani dan menghormati sesamanya atas namaNya. Jadi spiritual tidak hanya dalam bentuk ritual ibadah-meditasi, tapi juga dalam bentuk kerja cucuran keringat  atau pemikiran dalam praktek hidup keseharian yang juga tetap bersandar pada segala kasihNya.
    Jadi kalau ada orang yang mengajarkan umatnya untuk TAKUT KEPADA ALLAH. Sekalipun orang itu hapal kitab suci, saya berani katakan  orang itu sesungguhnya masih jauh dari cahaya kasihNya. Orang macam itu hanyalah penipu yang sekaligus mengajarkan umat jadi penipu. Tuhan itu tidak untuk ditakuti, tapi dicintai. Kenapa? Karena sikap hormat orang yang ketakutan pasti tidak tulus. Sementara sikap hormmat yang dilandasi cinta pasti tulus, murni dan jujur. Spiritual yang dilandasi ketakutan dan tidak ketulusan jiwa pada Tuhan, produk keluarnya pasti juga hanya akan menakut-nakuti orang banyak. Sementara spiritual yang dilandasi cinta dan ketulusan jiwa pada tuhan, produk kel;uarnya pasti juga akan dalam bentuk cinta kasih pada sesama ciptaanNya.
    Kau hendak mengenal Tuhan?/ Maka janganlah kau jadi pemecah persoalan/ Seyogyanya, kau pandangi dahulu sekitarmu/ Disitu kau khanlihat Tuhanmu yang tengah bermain dengan anak-anakmu {Khalil Gibran}.
    Kita tidak mungkin bisa mengenal sejatinya Allah, sebelum kita bisa kenal/tahu siapa sejatinya diri pribadi kita. Dan kita juga tidak mungkin akan bisa mengenal siapa diri pribadi kita itu, sebelum kita mau mengenal orang kebanyakan. Spiritualis itu orang yang mencrai kebenaran, bukan orang yang mencari membenaran diri. Jadi spiritualis harus dan tidak takut terbuka terhadap aneka ajaran/pandangan daru luar. Apa-apa yang dari luar itu akan menguji, menguatkan, mungkin juga merontokkan keyakinan yang kita peluki selama ini. Kalau kenyataannya keyakinan yang kita peluki sel;ama ini memang tidak benar dan mewakili jati-diri kita, ya memang harus dirontokkan keyakinan itu, digantikan keyakinan yang lebih  jujur mewakili wajah diri. Spiritual  yang merupakan hasil pencarian diri, bukan spiritual dari warisan orang tua atau tekanan lingkungan belaka.
     Orang yang beribadah, meditasi atau sujud pada sejati Allah, hatinya akan penuh ketentraman dan kedamaian. Dan hanya dari jiwa yang damai akan melahirkan insan spiritual yang matang dan dewasa dalam hidup kesehariannya. Orang yang matang spiritualnya itu, selalu rendah hati, terbuka, toleran sederhana apa adanya, jujur, tidak serakah, pendedam, pemarahan, dan suka iri hati. Orang yang matang spiritualnya juga akan selalu menghargai kerja-keras, tak kenal putus asa, tak pernah demam tujuan dan selalu mensyukuri disetiap pahit-manis  disetiap langkah hidupnya. Orang yang dewasa spiritualnya adalah orang yang bisa dan berani menertawai dirinya sendiri. Mau menerima kritik yang paling pedas dan tak beralasan sekalipun dengan lapang dada.
    Dalam spiritual, pada haqiqatnya kita semua ini sama. Hanya sama-sama murid yang masih belajar pada sang GURU  SEJATI, yaitu Tuhan YME. Jadi meskipun saya bisa ngoceh banyak dan menulis sangat panjang. Sebenarnya aku tak bermaksud untuk menggurui. Saya hanya ingin berdialog, hingga ada proses sharing, untuk berbagi, bersama belajar dan mengajar, hingga semakin tumbuh keyakinan untuk menemukan sang jati diri kita masing-masing, yang akan berujung pada pengenalan haqiqat kesejatian Tuhan itu sendiri.
    Rahayu.

    • Gardu Aktif tulisan bagus,subektif,agak akurat,non refrensi...
      tapi kok gak aa yg nanggepin yach???
      apa karena kepanjangan atau karena pada tertohok dg tulisan ini atau mereka males dg gaya seperti ini???

Kamis, 04 Oktober 2012

REVOLUSI SPIRITUAL


        Didalam Indonesia merdeka, kita merdekakan rakyatnya, kita merdekakan jiwanya (bung Karno}.

            Seperti halnya revolusi sosial, selalu dimulai dari kenyataan-kenyataan/ketimpangan social yang dirasakan oleh orang banyak dan disadarkan oleh satu-dua orang diantara orang banyak. Begitupun dengan revolusi spiritual, dimulai dari kenyataan-kenyataan/ketimpangan spiritual yang dirasakan oleh orang banyak, dan disadarkan oleh satu-dua orang diantara orang banyak.
            Dan sekarang kita lihat, bagaimana kenyataan-kenyataan spiritual yang dirasakan oleh orang banyak pada umumnya saat ini?.Apakah rakyat kita kebanyakan sudah merasakan hidup merdeka didalam kemerdekaan? Sebagai parameter hal itu bisa kita lihat pada mereka-mereka yang masuk golongan minoritas. Apakah mereka sudah merasa aman, bebas dan nyaman sebagai rakyat Indonesia?.  Melihat kenyataan seperti Ahmadiyah, Syia’ah, ataupun kepercayaan-kepercayaan local-tradisional yang ada saat ini. Saya bisa katakan, sebagian  besar rakyat kita sesungguhnya belum merasakan hidup merdeka didalam kemerdekaan.
            Bagaimana dengan jiwanya? Lebih parah lagi. Penuh paradokal. Orang ngaku beragama/spiritualis, bukannya jadi rendah hati, terbuka, toleran, percaya diri.  Justru jadi arogan, fanatic, tertutup dan hanya bisa membebek. Orang mengaku percaya Tuhan maha mendengar, tapi masih juga suka  teriak-teriak lewat pengeras suara memanggil-manggil namaNya. Percaya Tuhan maha tahu dan pemurah,  tapi tiap berdo’a isinya hanya  mendikte dan mengemis-ngemis melulu. Minta naik pangkat,  naik gaji, lancar rejeki, tambah kaya, sepertinya Tuhan itu kepala kepegawaian  di kantor kita saja. Allah kita sembah puja-puji segala kebesaranNya,  lalu kita perah rejeki dan berkahnya tanpa rasa malu.
             Paradokal spiritual seperti itu, sesungguhnya menunjukkan dengan jelas, bahwa keyakinan yang seperti itu sesungguhnya hanya ada di mulut saja. Belum sampai di hati. Teriakkan dan permintaan-permintaan macam itu, dengan jelas juga menunjukkan keserakahan jiwa pelakunya yang sesungguhnya masih buta dan tuli akan segala ke maha mendengaran dan maha pemurahnya Tuhan itu.
            Karena itu tidak usah heran, jika di negeri ini jadi sarangnya para koruptor. Karena dari hal yang paling mendasar, yaitu ibadah. Kitapun sudah terbiasa diajar untuk bermental korup, serakah dan tidak jujur. Kita diajar doktrin pengetahuan (teori) bahwa Tuhan itu maha segala-galanya, tapi kita tidak pernah diajar mengenal sejatinya Allah itu seperti apa. Kita tidak pernah diajar untuk berani berlaku jujur. Kalau memang belum kenal sejatinya Allah itu seperti apa, ya katakan saja apa adanya. Begitupun jika kita sudah percaya dan mengakui akan segala kebesaranNYa. Mestinya apa yang keluar dari mulut kita itu, bukan cuma cerminan kemampuan intelektual kita saja,  tapi memang pengalaman dari pergulatan batin yang telah menyaksikan sendiri akan segala kebesaranNya. Karena hanya dengan demikian, akan selalu ada satunya antara yang di hati, mulut dan perbuatan kita.
             Ini zaman, memang dimana orang lebih suka memuja kebisingan, omong-kosong, iklan dan pencitraan ornamen-ornamen luar yang dangkal, seperti surban, jubah dan jilbab yang rapat. Daripada menghargai ketulusan jiwa. Saat ini banyak orang yang suka asal bunyi (asbun), bahwa agamanya yang paling baik, benar, suci dan sempurna sendiri. Pertanyaan saya; Apa gunanya kita punya agama yang sempurna, kalau kelakuan kita penuh paradokal?.  Sama dengan pertanyaan; Apa gunanya kita punya computer canggih, kalau kita tidak bisa mengoperasikan dan memberi manfat bagi keseharian hidup kita?. Agamapun akhirnya hanya jadi alat menyebalkan, sebagai kesempurnaan yang mengganngu saja?.
            Dan celakanya, saat ini kebanyakan yang beredar adalah agamawan/spiritualis asbun. Spirituali asbun itu memang paling suka beredar dan narsis abis. Orang-orang sok suci dan sok tahu yang lidahnya paling fasih mengutip ayat-ayat dari kitab suci, untuk melegitimasi atas segala yang diucapkannya. Dan ujung-ujungnya kalau sudah terkenal, hanya akan jadi bintang iklan. Jadi corong budaya instan, konsumenrisme dan hedonis.
 Dan umat hanyalah jadi objek/konsumen yang dieksplotasi dan dijejali hasutan-hasutan doktrin yang tak boleh di kritik apalagi di bantah. Hingga umat tak tahu lagi dirinya sendiri. Lihat saja di bulan ramadhan/puasa yang seharusnya jadi bulan penghematan. Kenyataannya, justru terbalik/paradok, jadi bulan pengeluaran belanja yang lebih besar. Ironis sekali, bulan Ramadhan yang di kotbahkan dengan berbusa-busa sebagai bulan suci-spiritualis. Tapi dalam prakteknya, mengikuti ajaran Mark dan Engels, yang di tahun 1848  merumuskan, bahwa sang maha pengatur manusia adalah capital alias modal. Dinamika agama ekonomi ini, menciptakan akumulasi laba dan modal alias uang sebagai dogma dasar yang amat mempengaruhi perilaku manusia secara meluas saat ini.
 Kehidupan berbangsa saat ini yang morat-marit penuh paradokal, kemunafikan, kesejangan social, penindasan, krisis ketauladanan, dekandensi moral, korupsi, maraknya budaya kekerasan dan inferior dihadapan bangsa lain. Semua itu sesungguhnya merupakan cerminan dari sebagian besar jiwa manusia-manusia  Indonesia yang belum merdeka. Dan siapa yang menjajah bangsa ini, dengan tegas saya katakana AGAMA!. Agama yang senantiasa mengajarkan spiritual yang bersifat massal, legal, formal, ritual, tekstual dan normative belaka. Hingga orangpun merasa tidak malu dan berdosa korupsi, selama secara legal-formal tidak bisa dibuktikan di pengadilan?.
Kita telah jadi bangsa diatas kertas (penipu); Beras hasil import di kotbahkan kita surplus pangan. Kita telah jadi bangsa tak berdaulat/punya harga diri; Hasil bumi dikeruk keluar negeri, kita hanya bisa mengemis-ngemis minta tambahan komisi.  Kita tak punya lagi budaya malu; suka berbaju gamis dan sok suci, tapi kelakuannya seperti preman jalanan. Kita telah jadi bangsa pengecut, yang selalu berkiblat pada bangsa lain dan tak punya lagi kebanggaan sebagai orang Indonesia.
Inilah masalah mendasar bangsa kita saat ini, yaitu masalah mental. Dan melihat kenyataan-kenyataan spiritual bangsa kita yang penuh paradokal dan ketimpangan itu, menurut aku, memang sudah saatnya untuk terjadi revolusi spiritual itu. Revolusi mental, revolusi jilid dua, revolusi tanpa pertumpahan darah. Dan jika kita memang ingin mendapatkan jawaban yang mendasar, suka atau tidak suka, kita harus berani mengkritisi agama. Karena agama itu yang jadi mainstream ajaran spiritual yang ada saat ini, yang logisnya juga paling bertanggung-jawab menciptakan mental masyarakat kita yang seperti saat ini.
 Dan tegas saya katakana, kesalahan mendasar kita saat ini adalah, entah sadar atau tidak, kita telah menjadikan AGAMA ITU SEBAGAI BERHALA BARU!.  Agama yang sebenarnya hanyalah ALAT menuju Tuhan. Tapi  agama justru kini dijadikan tujuan  hidup itu sendiri. Bahkan dikalangan orang Islam, ada yang tidak bisa lagi membedakan antara agama Islam dengan budaya Arab.  Mereka menganggap belum sempurna Islamnya, kalau belum tampil dengan meng-Arabkan diri. A’u tidak boleh dibaca angu, dzubi tidak boleh dibaca dubi, ain tidak boleh dibaca ngain. Guru bahasa Arabkupun pernah membentakku,”Bahasa Arab itu tidak senbarangan, salah bunyi lain, bisa-bisa dosa kamu mengubah Al’quran.”
Gila! Mau belajar malah nyari dosa, pikirku. Dalam spiritual, jika pengujapan tajwid yang sempurna lebih utama daripada ketulusan jiwa. Ya, seperti yang kita lihat saat ini, hanya orang Arab dan mereka yang suka meng-Arabkan diri saja yang sepertinya punya otoritas atas agama. Kalau Tuhan tahunya juga cuma bahasa Arab, ya hanya orang Arab dan mereka yang suka meng-Arabkan diri saja yang punya kavling di Surga.
Jadi pencarian dan pengenalan akan Tuhanlah yang seharusnya jadi laku utama dalam kehidupan beragama/spiritual. Bukannya pengenalan wacana agama secara sempurna formal-ritualis. Sayang memang, dunia sufisme yang mengajarkan dan praktek pengenalan langsung akan haqiqat Tuhan itu sejak abad 18 sudah ditolak dan ditentang oleh gerakan Islam puritan yang rasional dan anti mistik. Islampun kemudian  lebih nampak sebagai gerakan social-politik yang mencoba melawan keterdesakan dari dunia/budaya barat. Karena itu tidak mengherankan, jika kehidupan beragamapun kemudian lebih hanya banyak digerakkan oleh semangat pakaian seragam belaka. Kesatuan, kekuatan, massa, militansi, seakan jadi ajaran utama agama. Dan ketika perlawanan menjadi hala yang terpenting, orang memang akan selalu cenderung berpikiran hitam-putih. Fanatik, siapa yang tidak bersama kami adalah musuh kami.
 Begitulah akibatnya, jika orang menjadikan agama sebagai tujuan, bukannya alat. Menjadikan agama sebagai berhala, bukan sekedar peta. Hatinya akan jadi buta dan otaknya jadi tumpul. Tidak bisa lagi menyadari, bahwa hubungan manusia dan Tuhannya itu sesungguhnya bersifat privat/mempribadi. Karena bersifat privat, ibadahpun sifatnya menjadi KEBUTUHAN bukan lagi  KEWAJIBAN!.  Karena jika ibadah kita terima sebagai suatu kewajiban, pasti akan bersifat massal, mekanik, menindas dan mudah melecehkan. Ada tukang becak yang pernah ngeluh padaku begini, “Kalau puasa ngak kuat narik. Kalau tidak puasa dikatai kafir dan tidak Islami.”
Begitulah akibatnya jika spiritual dibawah ikatan agama, hasilnya hanya epigonisme yang hanya berujung paradokal dan keluh-kesah melulu. Lain jika ibadah bisa kita terima sebagai kebutuhan yang bersifat privat. Ibadahpun akan lebih bersifat jujur mewakili wajah diri kita. Seperti kita butuh makan, tiap orang punya selera dan kapasitasnya masing-masing. Jadi hanya ketika ibadah telah bisa kita terima sebagai suatu kebutuhan, sikap TOLERAN akan tumbuh dengan sendirinya dari situ. Karena kita sadar, bahwa untuk hidup tidak semua orang memang harus makan nasi (ikut mainstream). Jadi memang tidak adil, bahkan merupakan penindasan, kesewenang-wenangan dan penjajahan spiritual, ketika seorang tukang becak yang bekerja keras memeras keringat, diwajibkan menjalankan ibadah puasa sama dengan tukang kotbah yang kerjanya Cuma jualan abab!.
Jadi bukan karena dilandasi egoentris, jika aku mencampakkan agama dan lebih suka mendalami-menjalani ajaran laku spiritual bangsa sendiri. Bukan karena di bangsa ini ada ajaran yang lebih baik, ada nabi yang lebih mulia atau ada kitab yang lebih tebal-sempurna. Tidak. Kekuatan utama ajaran spiritual bangsa kita, justru karena tidak menempatkan spiritual itu dalam bentuk kotak besi kaku-dogmatis dengan nama agama. Spiritual itu seperti air yang mengalir, spiritual yang terbuka, hidup dan terus berproses. Spiritual yang menekankan kesadaran, bahwa hubungn manusia dan Tuhannya itu bersifat mempribadi.
Inilah kecerdasan intelektual-spiritual bangsa kita, yang tidak pernah menciptakan agama (consensus kebenaran?) yang selalu berasumsi bahwa apa yang ada dalam agama itu selalu benar. Sekalipun itu hanya ilusi. Dan seperti dibuktikan dalam sejarah, agama adalah proyek kekuasaan. Komunikasipun dibetot dari rohnya, pelan-pelan demi consensus. Dengan bendera iman, semua jadi seperti rumus ilmu past yang harus diterima dengan taklid. Entah sadar atau tidak, disini telah terjadi pemberhalaan agama yang ditopang oleh kekuatan dan kekuasaan, baik dalam bentuk modal, tahta maupun senjata.
Jadi disini aku tidak ingin menuntut adanya perubahan ajaran agama. Disini aku hanya ingin MENYADARKAN kita semua, perlunya paradigm baru dalam memandang agama. Agama hanyalah alat yang juga sering dan bisa ketinggalan zaman. Seperti dalam sejarah gereja Khatolik misalanya, struktur masyarakat telah berubah dari masyarakat agraris menuju masyarakat industry, sementara ajaran gereja Khatolik masih berpegang pada system feodal-agraris. Baru dibawah Paus Leo XIII, gereja mencoba mengeluarkan ajaran social baru karena perubahan struktur masyarakat beserta implikasinya terhadap keadilan social.
Dan di zaman global-digital yang serba cair ini, menurut aku agama juga lagi-lagi terlambat bangun. Yang diwakili agamawan formal-ritualis yang otaknya masih feodal-tradisional; Spiritual hanya untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan. Padahal ini zaman, komunikasilah yang banyak menyelesaikan masalah, bukannya kekuasaan. Sudah bukan zamannya saat ini sikap idiologis {baca; merasa benar sendiri} sikap yang berorentasi dakwah eksklusif, yang memandang keyakinan yang dianut orang lain sebagai salah dan harus ditaubatkan dari keyakinannya.
Memang diperlukan adanya paradigm baru dalam spiritual saat ini. Kata paradigma menjadi populair sejak Thomas Kuhn menerbitkan bukunya,  THE STRUCTURE OF SCIENTIFIC REVOLUTION.  Kata paradigm adalah semacam grundmodell (model dasar) yang digunakan untuk memandang dan merancang sesuatu. Jadi kata pardigma itu mengandung makna yang dinamis bahkan revolutif. Sudah bukan zamannya sekarang seorang spiritualis itu terjebak dalam pemikiran yang dogmatis-formalis. Kita harus pakai otak sebagai karunia Tuhan, dan tidak menghujamkan segalanya hanya pada apa kata kitab suci jika menemui masalah social di dunia ini. Jadi bagaimana membuat iman kita pada Tuhan itu berarti dan apa relevansi iman itu bagi masalah ketidak-adilan yang kita hadapi. Jadi spiritual justru harus bisa jadi pembebas dari tata-nilai membelenggu-dogmatis yang hanya akan membuat kita jadi manusia kerdil, bodoh dan sempit wawasan.
 Kita tidak mungkin akan bisa menghargai bangsa sendiri, sebelum kita bisa menghargai diri kita sendiri. Kita juga tidak mungkin akan bisa mengenal sejatinya Tuhan, sebelum kita bisa dan mau mengenal siapa sejatinya diri pribadi kita sendiri. Jadi memang perlu kita itu untuk bisa mengenal siapa diri kita itu. Dan itu tidak pernah diajarkan, bahkan ditentang oleh agama. Tahu kenapa? Karena jika kita bisa mengenal diri sendiri, kita akan jadi punya percaya diri. Dan jika kita bisa mengenal sejatinya Ilahi, sebagai alat, otomatis agama akan tidak laku lagi alias bangkrut. Dan hal seperti itu jelas tidak pernah diinginkan oleh mereka-mereka yang suka MEMBERHALAKAN AGAMA.Karena mereka bisa hidup karena jualan agama, bisa menjajah bangsa lain karena bendera agama, bisa berkuasa karena bersenjata agama.
Akan panjang sekali ceritanya jika kita kupas relasi antara agama dan kekuasaan itu.  Mungkin lebih baik kita mulai saja dari hal yang paling mendasar dan sederhana; yaitu jika kita mati kelak, kita juga harus berjalan sendiri. Kita tidak bisa lagi membawa dan hapal kitab suci, para nabi dan orang suci juga tidak mungkin bisa nemani kita lagi. Karena itu kita memang butuh punya kepercayaan diri dengan jalan mengenal sang diri pribadi, yang akan berujung pada pengenalan haqiqat Tuhan itu sendiri. Sebagai spiritualis, kita tentunya percaya, hanya Tuhanlah yang akan bisa jadi pebimbing sejati kita, baik di dunia ataupun di alam nanti. Dan hanya orang-orang yang mencintai Tuhan diatas rasa cintanya pada apapun termasuk agama, yang akan berani selalu merevolusi jiwanya setiap saat.
Sekarang semua kembali kepada  kita masing-masing, merasa perlukah kita perubahan  atau revolusi spiritual itu?
  •  
Top of Form

    •  
    • http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-ash4/275742_100000305339212_722972788_q.jpg

HAI, ORANG-ORANG ISLAM, BUKALAH TOPENGMU


  •          Saat ini banyak orang Islam yang bermimpi di siang bolong, ingin kembali menghidupkan zaman ke khalifahan. Orang-orang yang meromantikkan ingin membangun Islam yang tunggal. Islam yang murni?.  Yang terwujud dalam ekspresi sosio-budaya pemeluknya dalam bentuk yang tunggal dan monolitik. Mau menyeragamkan ekspreai social-budaya-politik-keagamaan umat manusia dalam menterjemahkan Islam. Bagaimana mungkin mimpi seperti itu akan jadi kenyataan? Hanya kekecewaan dan kemarahan akhirnya pasti yang akan didapat. Itu ahistoris. Romantika itu sendiri sebenarnya juga palsu, sebab romantika itu sengaja hendak memaksakan diri berbicara melalui fungsi jiwa kita yang paling lemah serta kabur arah dan penangkapannya, yaitu sentimen kita.
            Memang pantas disayangkan, di Negara kita yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini pendidikan agama Islamnya pada umumnya hanya diajarkan lewat satu sisi cara pandang (ini bibit sentiment/fanatisme). Sementara aliran dan  mazhab-mazhab lainnya pada umumnya tidak diajarkan atau diperkenalkan, akibatnya pandangan masyarakat kita tentang agama pada umumnya jadi sempit, mudah melecehkan dan mengkafirkan mereka-mereka yang tidak segolongan/sepaham. Karena dalam keyakinannya, hanya ajaran Islam yang dipelukinya itulah yang paling benar.
            Al’quran dan hadist memang ajaran yang absolute sifatnya bagi umat Islam. Tapi begitu ajaran dasar itu di tafsirkan, hasil ijtihad atau pemikiran ulama itu sudah jadi relative sifatnya. Maka disini, perbedaan interprestasi adalah sesuatu hal yang wajar terjadi. Perbedaan bahkan pertentangan memang menjadi hal yang tak mungkin terelakan lagi. Seperti misalnya, menurut mazhab Syafi’I, ludah anjing itu najis, sementara menurut mazhab Maliki ludah anjing itu tidak najis.
            Disinilah kebesaran jiwa dan kelapangan dada kita diuji dalam kemampuannya menerima realita yang beraneka-ragam itu sebagai rahmat. Tuhanlah yang menciptakan semua keaneka-ragaman ini, Maka siapa tidak bisa menerima dan menghormati keanekaragaman (pluralisme), berarti orang itu juga tidak menghormati dan menerima Dia yang menciptakan keanekaragaman itu, yaitu Tuhan YME.
            Orang yang beriman pada Tuhan, akan selalu ada satunya antara yang di hati, mulut dan perbuatannya. Maka jika ada orang yang ngomong “Tuhan maha pengasih” tapi kelakuannya bengis, percaya Tuhan maha pema’af tapi orangnya pendendam, Percaya Tuhan maha mendengar, tapi paling suka teriak-teriak memanggil namaNya lewat pengeras-suara, percaya Tuhan maha pemurah, tapi tiap hari do’anya hanya minta/mengemis ini-itu padaNya. Manusia paradokal seperti  itu sesungguhnya hanyalah para penipu munafik dan pemuja berhala yang bernama Agama!. Maka tidak usah heran, jika sesama orang Islam saja mereka saling melecehkan, mengkafirkan bahkan bunuh-bunuhan seperti kejadian di warga Syiah Sampang ataupun terjadi pada warga Ahmadiyah. Karena dalam Islam sendiri sebenarnya memang ada banyak sekali aliran-aliran dan mazhab-mazhabnya.
             Inilah aliran-aliran dan mazhab-mazhab yang ada dalam Islam, dalam bidang akidah ada aliran Khawarij, Maturidiah, Mu’tazilah, Asy’iriah, Murji’ah dan Syi’ah. Dajam bidang ibadah serta fikih mu’amallah, ada mazhab Maliki, Hambali, Hanafi dan Syafi’i. Dalam tasawuf ada aliran Sunni dan Syi’ah. Dalam bidang falsafah ada aliran Al’farabi dan aliran Al’ghazali. Dalam bidang politik ada aliran Khawarij, syi’ah dan Sunni.
            Dan semua aliran dan mazhab-mazhab itu  bagiku hanya kotak berhala yang sering dijadikan topeng belaka. Kebanyak orang saat ini memang suka bertopeng kesucian dan kesakralan agama. Tidak punya lagi keberanian jadi dirinya sendiri seperti apa adanya. Saat ini memang banyak agamawan/spiritualis yang hanya seperti kuburan yang di labur putih (pinjam kata-kata Yesus ketika mengomentari para ahli kitab) putih bersih memang luarnya, tapi bau bangkai busuk isinya,
            Bukalah topengmu, maka kau khan lihat luas dan indahnya warna-warni kehidupan. Bukalah topengmu dan berkacalah, maka kau khan sadari; topeng memang banyak menyembunyikan keindahan namun tak pernah mampu menutupi keburukan jiwa. Orang yang beriman pada Tuhan akan jadi dirinya sendiri. Orang yang beriman pada Tuhan, bukanlah orang yang hapal isi kitab suci, tapi orang yang mampu dan berani terus belajar tentang keterbatasannya. Maka jika ada orang mengaku percaya pada Tuhan, tapi hidupnya penuh paradokal, munafik, sok suci, merasa paling tahu, benar dan sempurna sendiri. Maka tidak usah heran, jika orang-orang macam itu mulutnya paling fasih mengutip ayat-ayat dari kitab suci. Karena orang-orang macam itu sesungguhnya di hatinya bukan memuja Tuhan, tapi memuja BERHALA YANG BERNAMA AGAMA!.
.