Temanku dengan bangganya mengaku sebagai seorang atheis. Tiap hari dia
menghujat-maki Allah. Katanya, Tuhan itu tidak ada, Tuhan itu buta,
tuli, goblok, kerdil, banci, tidak adil dan sebagainya. Bapaknya yang
tahu itu, jadi malu dan marah besar. Temankupun diusir dari rumah dan
tinggal di pondokku.
Aku juga punya seorang teman yang berprofesi sebagai
pelukis. Pada beliau ini aku banyak menimba ilmu seni maupun spiritual,
tapi beliau tak pernah mau kupanggil guru, alasannya, “Seni dan
spiritual itu seperti dua anak kembar. Tak ada guru dan murid disini
sesungguhnya, yang ada kita semua adalah sama-sama murid yang tengah
belajar pada sang guru kehidupan. Bedanya, mungkin aku sudah anak SD
yang sudah pintar ngoceh berteori, kamu masih anak TK yang suka
bernyanyi-nyanyi. Tapi haqiqatnya kita sama, kita masih sama-sama murid
yang masih belajar.”
Temanku yang atheis itupun akhirnya aku pertemukan dengan
temanku yang pelukis. Dan inilah pendapat sang pelukis tentang temanku
yang atheis. “Dibawah sadarmu, sesungguhnya engkau mengakui akan
keberadaanNya, Kalau tidak mengakui, ngapain kamu memaki-maki sesuatu
yang tak ada. Kamu juga butuh Tuhan, paling tidak Tuhan bisa kau jadikan
tong sampah untuk membuang segala kekotoran sumpah-sampah-serapah di
hatimu. Bukankah Bimbo juga menyanyikan, bahwa Tuhan sebagai tempat
mengadu dan berkeluh kesah? Nah, dengan begitu bisa jadi kau ini
sesungguhnya lebih banyak berhubungan/berkomunikasi dengan Tuhan,
dibandingkan dengan mereka-mereka yang mengaku theis. Bagi Tuhan makian
dan pujian tak ada bedanya. Bahkan bisa jadi, Tuhan itu lebih suka
makian yang keluar dari ketulusan jiwa, daripada puji-pujian yang hanya
jadi penghias bibir saja.”
Perkenalanku dengan sang pelukis ini, memang membuatku
merasa disuguhi alternatif spiritual ditengah dominasi otoritas tafsir
oleh elite agama, seperti kyai, pendeta, pastor, biksu ataupun sarjana
agama. Kamipun sering berdiskusi dengan santai dan terbuka tentang agama
dan spiritual, tanpa pernah dilandasi kemuntlakan kebenaran karena kami
memang sama-sama merasa tidak tahu dan masih belajar tentang apa itu
yang namanya kebenaran.
Sang pelukis ini terus-terang memang mengaku sebagai orang
yang tak beragama. Ia seorang penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME.
“Spiritual negeri sendiri, nih.” Katanya suatu kali. “ Tapi itu juga
hanya sebuah kotak. Dan bagiku sendiri, orang bebas saja mau masuk kotak
emas, kotak besi, kotak kayu, kotak kardus ataupun kotak sabun. Yang
penting bisa seperti kata Mohamad Sobary, ‘dalam kotak tanpa terkotak’”.
Yah dari sang pelukis inilah aku belajar spiritual secara
santai, dengan melampoi formalitas agama dan menolak pendekatan agama
yang legallistik (Fiqhiyah} yang terlalu mementingkan ritual (syar’iah}
dan mau benar sendiri. Penekanan formalistik yang sering mengental jadi
sikap eksklusif yang tak mampu melihat kenyataan hidup yang dinamis dan
kompleks. Dari menjalani laku spiritual secara santai itu pula aku rasa,
hingga sang pelukis itu meneguk energi keimanan yang mencerahkan.
Hingga ketika dia aku pertemukan dengan temanku yang atheis, dia masih
bisa tersenyum dan bisa melihat sisi-sisi spiritual dari seorang yang
mengaku atheis. Coba kalau temanku yang ngaku atheis itu aku pertemukan
dengan agamawan formal-ritualis, mungkin sudah akan habis dipukuli dia.
Orang Jawa bilang, “ngelmu iku kelakone kanti laku”.
Melalui proses. Pengetahuan memang bisa dikomunikasikan dan diajarkan.
Tapi kebijaksanaan tidak bisa di transferkan begitu saja. Manusia tidak
bisa bijaksana, suci, bersih hati dan bersikap dewasa hanya karena
membaca kitab suci. Ajaran, doktrin maupun pegangan moral memang tidak
bisa mengenai manusia secara muntlak. Itulah sebabnya ajaran-ajaran
mulia dan agama diturunkan, tapi dosa tetap saja mengalir terus. Jika
kita masuk rumah ibadat yang suci, tidak berarti begitu keluar dari
rumah ibadat kita langsung akan jadi orang suci. Temanku malah begitu
keluar rumah ibadat, langsung nyuri sandal hahaha……………….
Jadi kita memang harus mau dan berani terjun langsung dalam
laku/proses, berbuat, merenung, dan merasakan. Seperti besi yang di
tempa, disitu akan terlihat hasilnya seperti apa. Karena hanya dengan
demikian, akhirnya akan ada satunya antara apa yang ada di hati, mulut
dan perbuatannya. Fiqih maupun kalam memang dapat membantu perjalanan
menuju Tuhan, tapi itu bukan sebuah cara akhir. Masih ada bentuk lain
yang lebih ideal untuk mencapai singasana Tuhan, yaitu dengan laku
selalu “eling pada Tuhan” kata orang Jawa, atau laku tharekat bahasanya
orang Islam.
Jadi pencarian dan pengenalan akan Tuhanlah yang mestinya
menjadi wacana utama dalam beragama/spiritualitas, bukannya justru
pergulatan agama secara sempurna formal-ritualis yang diutamakan. Karena
hanya dengan spiritual yang demikian ini, akhirnya keyakinan seseorang
akan timbul karena dilandasi semacam suara kebenaran yang berintikan
penyadaran diri. Bukan sekedar tiruan dari pemikiran dogama atau
doktrin. Dengan kesadaran yang demikian, akhirnya ibadahpun menjadi
semacam kebutuhan, tidak lagi sekedar karena ingin memenuhi kewajiban
belaka, apalagi beribadah hanya karena terdorong oleh aneka ketakutan,
takut masuk neraka, takut tak kebagian kavling di Surga, takut
dikucilkan, takut mertua dan sebagainya.
Kesadaran. Sampai disini spiritual sepertinya memang
tidak butuh lagi cap, merk, legitimasi, pengakuan atau kesepakatan orang
lain. Karena spiritual disini memang tidak lagi diwarnai lagi oleh
aneka pamrih atau kepentingan apapun, selain hanya buat menyembah dan
berserah diri pada yang Esa. Disini jadinya berdo’ sebisanya juga tidak
apa-apa, soal diterima atau tidak do’a kita itu, itu toh urusan uhan.
Dan menurut saya, do’a yang terbaik adalah do’a yang keluar dari suasana
batin kita masing-masing. Jujur dan tulus. Daripada do’a penuh
puja-pujian yang bagus dan panjang-panjang tapi Cuma hafalan di mulut
seperti kefasihan burung berkicau saja. Itu khan namanya menipu.
Jadi bagaimana mungkin kita bisa bersikap-laku jujur dan
tulus kepada sesama manusia, jika dihadapan Tuhan saja kita tidak bisa
dan mau bersikap-laku jujur dan tulus. Disini jadi terlihat jelas,
memang ada yang lebih vital/prinsipil daripada sekedar ekssistensi dalam
spiritual, yaitu esensi. Isi itu lebih penting daripada wadahnya, sebab
itu realita yang akan jadi penilaian Tuhan. Jadi ketika kita bicara
soal orang-orang yang tak beragama, esensinya sebenarnya mereka sama
juga dengan orang-orang yang beragama. Sama-sama sebagai hamba yang
rindu akan Tuhannya. Hanya caranya saja yang berbeda. Orang beragama
mencari Tuhan lewat ajaran, sementara orang tak beragama mencari Tuhan
lewat laku/proses atau penghayatan langsung. Yang dalam dunia Islam, hal
seperti ini {penghayatan} dilakukan oleh para sufi dengan jalan
tharekat, yaitu syestim atau metode untuk bisa lebih dekat dan mengenal
Tuhan dengan mengadakan semacam olah batin, riyadhah {latihan-latihan}
dan mujahadah {perjuangan kerohanian).
Tuhan sudah lebih dari cukup memberi petunjukkNya lewat
kitab suci dan contoh ketauladanan lewat laku hidup para nabi. Doktrin
seperti itulah yang diamini banyak orang beragama saat ini. Padahal
doktrin itulah sebenarnya yang telah membuat pedangkalan Iman orang
banyak saat ini. Itu doktrin yang menidurkan dan membunuh Tuhan, doktrin
yang memberi jarak antara Tuhan dan manusia. Doktrin seperti itulah
yang membuat banyak orang takut akan perubahan. Doktrin itulah
sesungguhnya yang telah menempatkan agama sebagai BERHALA BARU.
Jadi tanpa dikurung baju agamapun orang bisa dan boleh
berkomunikasi dengan Tuhan. Dan jika kita sudah berbaju agama, pada
titik akhir keimanan, kitapun mesti belajar untuk bisa membebaskan dari
semua itu. Kembali telanjang. Dalam kehidupan bermasyarakat, barangkali
kita memang butuh baju asketik. Tapi mestinya baju itu bukan Cuma
sekedar cerminan kemampuan intelektual kita saja, tapi juga potret dari
pergulatan batin kita. Tapi sayang, di zaman globalisasi yang
hiruk-pikuk ini, terlalu banyak orang yang bingung dan mengalami krisis
identitas. Mereka mencari patokan-patokan lahiri yang pasti, mereka
butuh identitas, ingin eksistensinya diakui, maka baju itupun menjadi
sesuatu hal yang penting. Busana anda menunjukkan siapa anda?
Jelas naluri keserakahanlah akhirnya disini yang lebih
banyak bicara. Beragamapun akhirnya hanya seperti menguyah moralitas
kosong. Membanggakan agamapun menjadi hal yang lumrah kita lihat, soal
realita sosialnya bagaimana itu bukan urusan? Tidak punya kemandirian
dianggap biasa. Hingga akhirnya memang jadi jarang sekali bisa kita
temui orang-orang yang berani bersikap lugas, jujur dan berani tampil
sebagai dirinya sendiri apa adanya. Jadi mungkin memang ada benarnya,
pendapat bapak Jakob Oetama, dalam bukunya “Pers Indonesia” yang
mengatakan bahwa masyarakat kita pada umumnya adalah masyarakat yang
tidak tulus?
Hal demikian ini yang berbeda dengan orang-orang yang tak
beragama. Mereka dinilai bukan dari bajunya, karena memang tidak punya
baju. Begitupun dengan kesolehan seseorang tidak dilihat hanya dari
kefasihannya dalam mengutip ayat-ayat Tuhan ditiap ucapannya, tapi pada
ahklak hidup dan perbuatannya nilai orang itu ditentukan. Biasanya dalam
komunitas orang-orang tak beragama ini juga punya etika moral; Lebih
baik berbaju sederhana tapi sesuai di hati, daripada berbaju jubah
megah-mewah tapi kedodoran. Lebih baik punya pengetahuan ilmu sedikit
tapi diamalkan, daripada hapal satu kitab suci tapi Cuma buat dipamer
dan nyanyi-nyanyikan saja.
Jika kita mau merenung sedikit dengan jujur, sebenarnya para
nabi itupun tidak bisa dikatakan sebagai orang yang beragama. Tapi
beliau-beliau ini adalah orang-orang yang beriman atau berTuhan. Beriman
itu tidak identik dengan beragama. Dalam bahasanya kaum Budhis, kita
harus bisa membedakan antara apa itu agama Budha dan apa itu yang
disebut Budha Dharma. Beriman itu hitungannyan perdetak nadi. Jadi bisa
saja detik ini anda beriman tapi detik berikutnya tidak. Sementara
beragama, tulis saja agama apa yang anda suka di KTP, dan itu artinya
anda sudah beragama?
Orang bisa disebut beragama karena punya dua hal mendasar,
yaitu punya kitab suci dan nabi. Dan sekarang kita lihat kehidupan para
nabi-nabi itu sendiri, bukankah mereka jadi nabi bagi dirinya sendiri?
Dan kitab suci, bukankah disusun oleh generasi berikutnya setelah sang
nabi itu sendiri wafat? Dengan demikian, bukankah sebenarnya para
nabi-nabi itu sendiri tidak bias kita sebut sebagai orang beragama?
Karena tidak punya kitab suci dan nabi?
Sejarah kehidupan Yesus mungkin bisa kita jadikan contoh
disini. Di zamannya yang dihadapi Yesus itu bukanlah orang-orang atheis
atau para penyembah berhala. Tapi yang dihadapi Yesus pada saat itu
adalah para ahli-ahli agama. Jadi bukan agamanya yang Yesus tentang,
tapi sikap hidup para ahli agama yang korup dan telah menghianati
kodratnya karena keterpesonaanya pada sangkar emas agama itulah yang
Yesus tentang. Maka Yesuspun lalu mengkritik dengan pedasnya para
ahli-ahli agama pada saat itu, yang dikatainya tak lebih dari kuburan
yang dilabur putih. Putih-bersih memang luarnya, tapi bangkai isinya.
Dan ironisnya, sejarah yang demikian terulang kembali di agama Khatolik
sendiri, yang kemudian kita kenal sebagai cikal-bakal lahirnya agama
Kristen Protestan dengan Marthin Luther sebagai panglima reformasinya.
Seperti Yesus, marthin Lutherpun mengkritik dengan pedas dan kerasnya
para pemuka agama Khatolik pada saat itu. “Sebuah ranting dapat dipotong
dengan pisau roti, tapi sebatang pohon besar memerlukan kampak untuk
merobohkannya.” Begitulah kata Marthin Luther yang kemudian memang dia
buktikan semua omongannya itu. Tiap hari ia mengayunkan kampak
kata-katanya dengan berani dan ganas. Dia katakan, dekrit kepausan
sebagai tahi sapi dan para uskup tak lebih dari monyet goblok.
Itulah zaman ketika pertikaian soal agama selalu terkait
dengan masalah politik dan ekonomi. Zaman ketika petani sudah terlampau
merasa tertindas oleh gereja yang manunggal dengan Negara. Jadi sejarah
awal semua agama sebenarnya semua sama saja, yaitu sebagai idiologi yang
membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang menghimpit. Tapi
seiring perjalanan waktu, persentuhannya dengan sejarah kekuasaan,
social, ekonomi dan politik, seringkali membuat agama hanya jadi
rangkaian doktrin kaku, membelenggu dan tak jarang menakutkan.
Jadi para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME itu,
pada dasarnya bukan anti agama. Justru sebaliknya mereka sangat
menghormati dan tak ingin mengotori kesucian agama. Karena dari agama,
kita memang bisa belajar tentang banyak hal. Kalau toh ada hal-hal yang
ditentang atau ditolak oleh orang-orang tak beragama, itu hanya terbatas
pada institusinya, budayanya dan ekspresi keagamaannya yang sering
cenderung arogan dan mengklaim paling benar, suci dan sempurna sendiri
itu. Sikap demikian yang sebenarnya bukankah berarti telah korup/khianat
dari semangat yang paling dasar dari agama itu sendiri?
Jadi para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME itu pada
dasarnya hanya orang-orang yang ingin dinilai dan tampil sebagai dirinya
apa-adanya. Maka spiritualnyapun disebut penghayat kepercayan terhadap
Tuhan YME. Bukan agama dan tidak pernah dimaksudkan untuk membuat agama
baru. Hal inilah yang sering ditakutkan para agamawan. Ketakutan yang
lahir dari ketidaktahuan belaka. Tidak tahu, tidak mau tahu, tapi sok
tahu. Akhirnya kesimpulan yang diambilnyapun hanya berisi was prasangka
belaka. Karena bagi para penghayat, jika sampai membentuk suatu agama
baru, setebal apapun itu kitab sucinya dan semulia apapun itu nabinya,
sebenarnya spiritual itu telah kehilangan rohnya, mati dan dogmatis.
Jadi spiritual disini memang ditempatkan pada posisinya yang tak
mandeg. Tapi seperti air yang mengalir tanpa jeda. Pencarian yang
terus-menerus. Jadi kata penghayatan itu memang punya makna proses
belajar. Semua manusia pada dasarnya sama, sebagai murid yang harus
belajar dan terus belajar pada sang guru sejati, yaitu Tuhan YME. Sampai
titik ini, manusia memang tidak lagi dibedakan dari sudut miskin-kaya,
pintar-bodoh, laki-perempuan, ras, agama, suku, orentasi sexsual,
ataupun status ekonominya.
Jadi seandainya diibaratkan manusia itu sebagai burung,
maka agama itu sebagai sangkar emasnya. Sementara keimanan adalah sebuah
sarang. Jelas ada yang beda disini antara sangkar dengan sarang, walau
keduanya mungkin punya fungsi yang sama sebagai tempat tinggal. Dalam
sangkar, segala kemudahan memang tersedia termasuk makanan masal-isntan
dari pabrik. Kepintaran kita dalam berkicau juga bisa diajar dengan
meniru kicoan burung juara nasional yang sudah dikasetkan. Tapi segala
kemudahan itu juga menuntut sebuah konpensasi, kita jadi tak mudah untuk
kawin baik secara phisik, spiritual maupun pemikiran. Bukankah
perkawinan beda agama {sangkar} di negara kita masih banyak kendalanya?
Karena lama keenakan didalam sangkar, sayap-sayap kita
juga bisa jadi lumpuh. Kita jadi tak punya kemampuan dan keberanian lagi
untuk terbang sebagai dirinya sendiri. Kita jadi canggung dan gagap
untuk bersosialisasi secara wajar dengan kehidupan di luar sangkar yang
beraneka-ragam dan warna. Dan semua itu adalah potret dari
keterpenjaraan jiwa. Kesempitan wawasannya menjadikannya picik, keras
kepala, merasa benar sendiri dan segenap ketidak mampuan untuk bersikap
kritis.Akan lebih celaka lagi jika kelas {mental} kita hanya kelas
burung pipit. Tentu akan terlihat aneh dan ganjil, jika burung pipit
dikasih kurungan dari emas yang sedemikian agung dan megahnya. Tidak
siap mental pasti. Akhirnya sering kita lihat dalam kehidupan
sehari-hari, orang beragama tapi maling dan korupsi dilakukan juga.
Beragama ya, tapi menghina, menyakiti, sewenang-wenang, membunuh,
dilakukan juga. Kedodoran beragamanya. Hal seperti ini jelas sebuah
dekandensi spiritual, yang menjurus ke sikap munafik. Ketika ada orang
yang merampas hak rakyat miskin, korupsi bahkan membunuh, tapi dianggap
sebagai orang saleh karena suka menyumbang ini-itu, sudah berhaji,
selalu pakai kopiah dan bawa tasbih kemana-mana.
Ini bedanya dengan keimanan {sarang}. Kita semua tentu
butuh sarang {rumah} untuk tinggal dan berlindung, Dan kita bangun
sarang sesuai kemampuan dan warna jiwa kita masing-masing. Seperti
burung pipit buat sarang kecil dan burung elang buat sarang besar.
Natural. Tapi besar atau kecil sarang yang kita buat itu haqiqatnya
sama, yaitu tidak pernah mengurung atau memenjarakan seperti sangkar.
Sarang seringkali memang sangat kecil dan sederhana sekali, tapi teramat
luasnya menampung kehangatan kasih-sayang.
Bahwasannya dalam agama itu diajarkan soal keimanan, itu
memang benar adanya. Jika digambarkan, ini jadi seperti sarang yang
berada didalam sangkar raksasa {Agama}. Dari gambaran ini akan jadi bisa
kita lihat dengan jelas, sebab-musababnya mengapa dikalangan agamawan
Islam formal-ritualis sering menolak dunia sufisme. Karena dunia sufisme
itu memang dunia yang menukik kedalam batin, keimanan atau sarang. Dan
jika seseorang itu telah bisa menyentuh-sujud didasar/haqiqat keimanan
yang ada di batin, otomatis dalam dirinya akan tumbuh pula kepercayaan
dan keberanian untuk jadi dirinya sendiri. Akan timbul kesadarannya,
bahwa keimanan itu membebaskan. Akibatnya, mereka yang mendalami sufisme
memang akan jadi seperti burung yang terbang lepas dari sangkar agama.
Mereka akan jadi hidup seperti dengan aturannya sendiri, tidak terkukung
oleh syariat-syaria agama dan tidak Islami lagi? Seperti halnya
Al=Hallaq dan Syeh Siti Jenar itu?
Seorang sufi memang tidak punya religi, kecuali religi
kebenaran. Dan Tuhan adalah sumber kebenaran itu sendiri. Jadi memang
sudah semestinya sebagai orang yang beriman/berTuhan, jika yang utama
kita cari itu adalah kebenaran/Tuhan, bukannya mencari pembenaran diri
dengan bertudung kesucian agama. Jadi memang pantas disangkan, jika
orang beriman hanya berhenti dan merasa sudah puas pada tataran
“terpesona” pada hal-hal yang serba idieal dan mulia dari agama. Kita
sering lupa, bahwa ajaran itu bukan realita.
Seperti halnya dalam bidang-bidang lainnya, dalam bidang
spiritualpun ada juga kalangan elite dan awamnya. Pemahaman seorang guru
besar dengan seorang tukang bejak yang buta huruf tentang
spiritual/agama jelas berbeda. Tapi klaim bahwa seorang guru besar lebih
tahu dan dekat dengan Tuhan dibandingkan tukang becak, itu adalah
kesombongan dan kebohongan yang besar. Mungkin cerita Sidharthanya,
Herman Hensse bisa jadi contoh yang bagus disini. Bagaimana setelah
melakukan pencarian kesempurnaan hidup lewat ajaran-ajaran mulia dan
berguru menemui orang-orang suci. Akhirnya toh Sidhartha lebih suka
memilih tinggal dan hidup bersma Vasudeva, seorang tukang perahu yang
buta huruf tapi bijak, sederhana dan berbudi luhur.
Akhirnya Sidhartha juga belajar untuk memahami maknanya hidup
hanya dari suara arus air. Yang menurut Ibn’Arabi, segenap alam semesta
adalah tajjali atau penampakan dari Allah. Imam Al’Ghazali juga
katakan, tauhid sejati adalah penglihatan atas Allah dalam segala
sesuatu. Dengan demikian, bukankah mendengar suara alir air sungai yang
dilakukan Sidhartha itu sebenarnya sama juga sedang mendengar suara
Allah? Bukankah kearifan {wisdom} yang sederhana ini sebenarnya punya
nilai yang sama dengan metodologi para idiolog dan theology? Tapi
dihadapan agamawan formal-ritualis yang tak punya kerendahan hati, laku
spiritual seperti yang dilakukan Sidhartha itu tidakkah akan dituduh
sebagai laku animisme, musryik, tahayul, keberhalaan kufur, sirik dan
sebagainya?.
Tidak mampu untuk mengkomunikasikan atau mengungkapkan apa
yang bergulat dalam batinnya menjadi bahasa verbal atau idiom-idiom
theologies, itulah keterbatasan khas orang awam. Tapi meskipun demikian,
bisa jadi justru orang-orang seperti Vasudeva itu lebih bisa merasakan
kebahagiaan dan ketentraman batin. Mereka lebih mampu dalam
mengendalikan diri, dibandingkan dengan orang-orang seperti kita yang
doyan dan pintar ngoceh ini. Mereka lebih bisa dalam mendengar suara
hati nuraninya, lebih jujur, tulus dan bijaksana, daripada kita-kita
yang katanya orang-orang modern dan melek IT. Mereka lebih konsisten
dalam menyatukan antara apa yang ada di hati, mulut dan perbuatannya.
Sementara kekurangan dan keterbatasannya, justru jadi semacam
rambu-rambu yang selalu memperingkatkan dan menyadarkannya, akan
perlunya untuk selalu memelihara sikap rendah hati dan menghargai
sesama. Kesadaran sebagai manusia yang tidak sempurna itulah yang
justru jadi alasan kesediaan mereka ditegur, mengerti rasa malu dan
takut berbuat dosa.
Ada dua hal mendasar yang bisa aku tangkap dari laku
spiritual orang-orang seperti Vasudeva itu, yaitu beriman dengan santai
dan tanpa rasa takut!.