Sabtu, 26 Januari 2013

SPIRITUAL YANG MEMBEBASKAN

-
Ketika terjadi konflik Syi’ah di Sampang Madura, untuk mengatasi masalah itu ada seorang tokoh masyarakat yang memberi advis begini; Jalan terbaiknya ialah para pengikut Syi’ah beralih menjadi Suni!.
            Penyelesaian secara instan seperti itu bukanlah cerita baru, beribu tahun yang lalu para paus dan ulama juga sudah suka kotbah seperti itu. Pindah agama, tinggalkan ajaran sesat dan bagi kau terbukalah pintu Surga!. Dan beberapa waktu kemudian kita semuapun tahu, pertikaian itu sebenarnya bukan konflik antara Syi’ah Vs Suni. Tapi hanya pertikaian keluarga yang berlatar-belakang perebutan harta-warisan dan perempuan belaka!.
            “Semakin banyak kau bisa membunuh musuhmu, semakin luaslah kavling di Surga bakal kau miliki!”, Itulah fatwa terkenal yang sama-sama keluar baik dari kaum Muslim maupun Nasrani dalam Perang Salib. Zaman ketika agama hanya dijadikan kedok untuk melindungi kepentingan ekonomi dan kekuasaan sejumplah kecil orang. Agama telah kehilangan semangat profetiknya dan terlalu banyak diwarnai ambigiutas dan paradok. Kotbah tentang kebajikan agama yang mengajarkan tentang perdamaian, cinta-kasih dan menghargai sesama, tapi dalam praktiknya hingga kini diseluruh penjuru dunia masih saja terjadi konflik antar suku, pemusnahan etnis, pengusiran sebuah bangsa, yang kesemuanya itu sering dibalut oleh keyakinan sempit dalam beragama.
            Dalam kaca-mata para  ilmuwan sudah sampai pada suatu kesimpulan: AGAMA MATI SEIRING TERBITNYA MODERNISME!. Agama dianggap tidak lebih dari sis-sisa kepercayaan dari masa gelap yang mewartakan dunia apokalipstik di masa depan. Transendensipun telah direduksi jadi kabar angin dan itu jadi isyarat awal dari kebangkrutan agama-agama formal!.
            Sejak Galileo dijatuhi hukuman oleh gereja, kemajuan ilmu dan kedudukan agama memang seperti anjing dan kucing, saling mencurigai dan membenci. Agama mencurigai ilmu pengetahuan sebagai sumber kesesatan, dosa, sekularisme dan atheisme. Sementara ilmu-ilmu modern pada masa pencerahan (aufaklarung) menghinakan agama sebagai kekolotan yang tak dapat ditanggung oleh kemajuan zaman. Karena itu agama pasti akan segera lenyap dari kehidupan manusia. Tidak hanya agama. Filsafat yang memperdebatkan ilmu pengetahuan macam Positivisme, Neokantianisme dan Mazhab Wina juga pernah di curigai dan disingkiri oleh ilmu.
            Anda mau berpandangan, bahwa yang menjadi asas cuma materi dan apa yang dinamakan roh, nyawa atau Tuhan itu hanya tipuan angan-angan atau produk materi belaka. Atau anda mau mempertahankan yang sebaliknya?. Semua terserah dan kembali kepada keputusan kita masing-masing Aku sendiri memilih, disaat-saat kesadaran yang paling cerah (meditatif), nyawa, roh atau Tuhan berbayang pada diri kita. Dan dalam kesadaran yang paling cerah itu, kita hanya diam membisu dan pasrah berserah diri secara totalitas pada segala kehendaknya. Biarlah semua terjadi menurut kehendaknya, bukan kehendakku.
            Sampai titik ini pikiran kita tidak mampu menjangkaunya. Spiritual macam ini juga tidak bisa diprogramkan dan dimassalkan sebagaimana agama. Itu juga bukan spiritual achievement, kita tidak bisa dan mau mendikte Tuhan. Disinilah bukti nyata, bahwa Tuhanlah yang maha kuasa bukan kita. Hal itulah yang menyadarkan kita, bahwa tidak mungkin orang mampu mempercayai adanya tuhan, tanpa mengakui dirinya sendiri terbatas. Dan keterbatasan/ketidak sempurnaan, bukanlah jadi alasan kita untuk terus-menerus menghalalkan kerakusan. Keadan tidak sempurna itu justru jadi alasan kita untuk bersedia rendah hati, bersedia ditegur, mengerti rasa malu dan dosa!.
            Sampai titik ini, saya melihat kecerdasan spiritual bangsa sendiri. Bangsa yang tidak pernah melahirkan agama-agama formal. Karena spiritual sejatinya memang tidak bisa diformalkan, dimassalkan atau didogmakan seperti agama. Hubungan manusia dan Tuhannya itu bersifat unik, khas dan mempribadi. Tidak ada seorangpun atau lembaga  yang punya otoritas untuk menilai kedekatan seseorang itu dengan Tuhannya. Spiritual bukanlah soal pintar-pintaran kotbah atau tebal-tebalan kitab suci. Spiritual adalah proses pengenalan dan pendekatan diri pada kasunyatan (sejatinya realita/Tuhan) kata orang Jawa.  Dan dari kedekatan dan pengenalan kita akan kesejatian Tuhan, kitapun akan bisa menjalani hidup seperti kehendakNya.
            Telah tiba saatnya membangkitkan jiwa-jiwa yang tenggelam yang masih tetidur pulas dan tidak menjalankan hidup seperti kehendak Ilahi. Jika para nabi mendekatkan dan membangunkan kesadaran umatnya akan keberadaan Tuhan lewat aneka muzizat yang aneh-aneh.. Di zaman kontenporer ini, ilmu pengetahuan, kreatifitas dan kecerdasan itulah muzizat yang diturunkan Tuhan di zaman modern ini. Agama, budaya dan tradisi, tanpa pengetahuan hanya akan menciptakan stagnasi bahkan dekandensi berpikir. Orang yang tidak biasa berpikir secara rasional dan kontekstual, kesadarannya akan mudah dinina-bobokan oleh janji-janji surgawi agama.
            Tapi cerdas saja tanpa dilandasi keyakinan adanya Tuhan, hanya akan menciptakan manusia-manusia atheis sombong yang siap menghalalkan segala cara untuk bisa meraih ambisi-ambisinya.
            Jadi jelas sudah, kenapa agama dan ilmu pengetahuan itu sering tidak akur. Karena pada dasarnya, keduanya sama sombong dan besar kepalanya. Yang agamawan, berkeyakinan, semua tanya bisa dicari jawabnya dalam kitab suci. Sementara ilmuwan merasa semua tanya ada jawabnya dalam dialitika pemikiran kritisnya. Yang satu MEMBERHALAKAN AGAMA! Satunya lagi MEMBERHALAKAN KECERDASANNYA!. Apa bedanya?. Tidak ada bedanya, keduanya sama-sama tidak menyembah sejatinya Tuhan.
            Barang siapa memuja/memberhalakan selain sejatinya Allah, orang itu pasti akhirnya akan diperbudak olehnya dan menjadi manusia robot yang tak berjiwa. Tapi barang siapa mau mencari dan mencintai sejatinya Allah, orang itu akan menemukan jatidirinya sendiri dan kebebasannya yang hakiki. Jiwanya akan merdeka sekaligus penuh kasih-sayang. Dan itu bukan kemewahan yang nikmat, tapi kewajiban yang dalam bagi seorang spiritualis.
Spiritual itu dinamis dan penuh dialitika. Spiritual itu akan membebaskan/memerdekakan jiwa dan pikiran kita. Kita akan bebas memilih para pemimpinnya, bebas ikut dalam politik, bebas dari acuan tradisi dan tahayul. Bebas pula dari kekurangan materi. Dan dalam semangat kebebbasan itu, alternative-alternatif bias diperoleh dan kemungkinan-kemungkinan baru untuk menyelesaikan suatu permasalahan dapat dicari.
Jadi intinya, spiritualis sejati itu memandang hidup dan Tuhan itu sebagai maha misteri. Hal itulah yang menyadarkan seorang spiritualis untuk selalu rendah hati. Tuhan juga bias member cahaya kebenaranNya lewat siapa, kapan dan dimana saja. Hal itulah yang menyadarkan seorang spiritualis untuk selalu TERBUKA DAN TOLERAN terhadap siapa saja. Kita sadar, kebenaran kini tidak bias digenggam sendirian oleh selapisan elite, nabi, dosen, tokoh masyarakaty. Penguasa, orang tua dan sebagainya. Di zaman kontenporer ini, kebenaran adalah suatu realitas yang dimiliki bersa,a. Dan hanya solidaritas berkomunikasilah yang bias melahirkan itu, yaitu lewat dialog.
Perbedaan pendapat dengan demikian adalah suatu rahamat. Jadi kalau ada ilmuwan, agamawan, ataupun orangyang ngku spiritualis, tapi alergi kritik, sombong, tertutup, fanatic dan merasa sudah paling benar, pintar, sempurna dan suci sendiri. Saya berani katakan; Mereka sejatinya manusia pemuja selain Tuhan. Bahkan kita juga boleh meragukan, orang itu sesungguhnya masih juga manusia yang terdiri dari daging dan roh ataukah hanya robot berotak yang tak berjiwa!.
Saat ini kebanyakan kesadaran jiwa manusia tenggelam dalam kegelapan, karena dalam spiritual terlalu banyak mencari hal-hal di luar diri dan dengan pemikiran yang bermacamacam> Tapi intinya hanya ingin menguasai dan biar terlihat lebih dibandingkan orang kebanyakan.Hal itulah sesungguhnya yang jadi penyebab utama banyak peristiwa-peristiwa yang tidak bias di nalar akal sehat bias terjadi, seperti kasus sampang, korupsi kitab suci, penghancuran rumah ibadah dan sebagainya.
Maka jika kita memang ngaku spiritualis, cari dan kembalilah pada sang jati-diri!. Belajar mencari yang ada didalam diri, supaya lebih mudah melihat yang di luar. Jernih jiwa, maka kita akan melihat dengan jernih pula hal-hal yang di luar. Kembali menemukan sang jatidiri dan hidup dalam bimbingan Ilahi. Itu inti spiritual yang ada dalam agama dan ajaran religious manapun yang dicai sejak zaman dulu. Intropeksi, mawas diri, berkumpul dan melakukan praktik spiritual dengan meditasi, dari situ kesadaran kita pasti akan bangkit dan hidup seperti kehendak Illahi, sesuai dengan kapasitas dan peran kita masing-masing.
Mencintai Tuhan dengan sepenuh jiwa raga dan mencintai sesama seperti bagaimana kita mencintai diri sendiri, itulah inti ajaran semua agama/spiritual. Dan tugas utama seorang spiritualis adalah membuka wawasan umat dan tidak takut kehilangan otoritasnya. Bimbing, berkati dan tunjukkan pada umat untuk bias menemukan jatidirinya sendiri, kaena itulah jalan untuk bisa menemukan Tuhan yang bersifat universal.  BHINEKA TUNGGAL IKA.
Kalau pengetahuan tentang keTuhanan dilandasi asas kebebasan penegenalan langsung akan haqiqat kesejatian Tuhan, umat pasti juga akan lebih cerdas dan memahami Tuhan yang menghendaki kehidupan manusia yang lebih sejahtera, tak peduli apa itu suku ras, agama, orientasi sexsualnya, gender dan sebagainya.
Religius sekaligus sosialistis terbuka, itulah dua gambar dalam satu mata uang yang tidak terpisahkan. Dan hal itu tidakkah sebenarnya sudah pula dirumuskan dalam dasar Negara kita. Pancasila?

Sabtu, 05 Januari 2013

Khilafah dan amnesia sejarah



                                                      Adagium kesohor yang mengatakan, periode Salafi sebagai  massa  keemasan Islam hanyalah omong-kosong besar. Sejak mangkatnya Muhamad, zaman al-khul fa’ar-r,syid’n, hingga runtuhnya khilafah Abbasiyah, zaman itu tidak banyak pencapaian yang gemilang. Di zaman itu, justru banyak bau anyir pertumpahan darah akibat pertikaian saudara seiman yang terjadi. Itu fakta sejarah yang tak terbantah!.
                                                      Empat sahabat Muhamad, selain abu bakar, ketiganya juga mati terbunuh. Khalifah Usman misalnya, juga dibunuh oleh orang Muslim sendiri. Persendiannya dipatahkan. Dalam islam ada hokum untuk tidak boleh menunda-nunda pemakaman bagi orang mati, tapi jasad beliau sampai tertahan dua malam. Sebagian kaum Muslim juga tidak mau menyolatkan dan melarang dimakamkan di pekuburan Baqi. Dibawah lemparan batu akhirnya jasad beliau dimakamkan di di Hisy-Kaukab, area pekuburan orang Yahudi!. Kita juga tahu bagaimana tragisnya kematian Khalifah Ali (menantu Muhamad) dan anaknya Husain (cucu Muhamad).
            Jadi heran juga saya, di zaman gini masih ada juga orang-orang yang begitu bersemangat mengusung paham kekhalifah-an, yang ingin menyeragamkan aspirasi dan ekspresi sosio-budaya-politik keagamaannya dalam menterjemahkan Islam dalam bentuk yang tunggal/monolitik. Impian Islam yang satu itu ahistoris, impian itu hanya akan melahirkan klaim kebenaran yang absolut. Hal itu sekaligus hanya menunjukkan bahwa mereka itu orang-orang yang tidak sadar (amnesia) bahwa hidup social itu tidak bisa sendirian. Di hutanpun kita hidup bersama hewan, tumbuh-tumbuhan dan semak-belukar.
            Bagi saya, paham khilafah itu perlu diwaspadai, karena paham ini akan melemahkan sendi-sendi kehidupan kita baik secara pribadi, kelompok, maupun bangsa secara menyeluruh yang pluralis.
            Dalam logika orang kampung seperti saya, kalau ada kelompok yang merasa benar sendiri dan yang lain dituding sesat, saya rasa mereka akan kesepian dan bosan ada di Surga nanti, karena dalam persepsinya Surga hanya akan diisi oleh orang-orang yang sama-sama sepaham dengan mereka doang. Dalam bahasanya Michel Foucault, “Selama ini kaum yang berkaitan dengan moralitas tertinggi (agamawan), ternyata hanyalah konstruktor-konstruktor realitas yang bekerja hanya demi kepentingan diri dan aliran paham yang dianutnya saja.”
            Jika kita punya keberanian melampaui batas nilai-nilai budaya, tradisi, moralitas dan agama, maka mudahlah bagi kita untuk menunjukkan kebobrokan dalam system Khilafah itu. Bagi mereka yang familiar dengan pemikiran para ilmuwan dari kajian teori kritis macam Machiavelli, Karl-Mark, Nietzsche, Habermas atau Facault. Tentu tidak akan heran lagi melihat stuktur logika kekuasaan yang penuh imagologi dalam paham Khilafah itu. Isu agama yang hanya dipakai untuk kedok/menutupi kepentingan ekonomi dan kekuasaan segelitir kelompok kecil orang.
            Boleh-boleh saja kita percaya ajaran agama itu sangat mulia, tapi sejarah juga mencatat tak banyak penguasa yang mulia hanya karena hapal agama. Begitupun cita-cita revolusi (khilafah) boleh mulia, tapi pasti berbau terror!. Revolusi itu hitam-putih yang memuja permusuhan. Suka atau tidak, kita harus memihak. Yang menang dicatat sebagai pahlawan yang kalah di cap pengkhianat. Jangan harap ada toleransi dan diskusi. Diawal-awal kemenangan revolusi yang ada hanya kesibukan para penguasa mempertahankan kekuasaannya. Organisasi mata-mata dikokohkan, terror disebarkan agar orang tetap berpihak dan setia. Mencurigai, mengintimidasi, pengusiran, pembasmian dan daftar orang di penjara dan mati sia-sia akan sangat panjang.
            Setelah revolusi selesai, si tertindas ambil alih dan mulai berbuat seperti si penindas (Woody  Allen).
            Di Timur-Tengah sendiri paham Khilafah itu sudah tidak laku. Hanya dalam masyarakat yang amnesia sejarah dan suka inferior jika berhadapan dengan bangsa lain, yang mau menerima paham ini.  Melihat, bukan hanya idiologinya, tapi juga pendanaannya yang berasal dari luar, saya jadi curiga, jangan-jangan para pengusung paham kekhalifahan ini sebenarnya hanyalah gerombolan para penjual Negara yang bertudung dibawah kesucian agama. Paham khilafah itu sudah jelas-jelas gagal total dan hanya mewakili wajah kekuasan yang tiran dan serba formalis syaria’ah, tapi esensi spiritualnya sendiri penuh tanda tanya.
            Label syari’ah kini jadi sebuah trik marketing yang jitu untuk merup untung. Apapun kini latah semua dilabeli syaria’ah, termasuk promo property dan wisata. Tapi pernahkah kita bertanya hal-hal yang subtansi, misalnya, di bank syaria’ah itu tidak memungkinkankah terjadinya skandal pencucian uang?. Bagaimana menanggulangi masalah utang luar negeri secara syaria’ah?. Bagaimana agar upah meningkat sedangkan harga menurun secara syari’ah? Bagaimana mengatasi masalah banjir dan kemacetan secara syaria’ah?. Bagaimana agar departemen agama (penjaga syari’ah?) angka korupsinya bisa nol persen.
             Jika teladan hidup Muhamad sebagai tolak-ukurnya, jelas para khalifah sesudahnya hanyalah contoh ketidaksempurnaan dan sejarah Islam hanya sejarah tentang kemerosotan belaka. Tapi akan lain halnya jika kita ambil tolak ukur yang lain. Misalnya Bahdad di awal abad 9, di zaman Al-makmun yang mendirikan Bait-ul Hikmah (balai kebijaksanaan). Sebuah pusat kegiatan ilmiah dan perpustakaan umum yang  menurut Ibnu Khaldun, jadi awal kebangkitan ilmu, medis, sastra, dan kesenian yang tersohor dalam sejarah. Yang melahirkan orang macam Muhamad Ibnu Musa atau Al-Khawarizmi, yang daftar astronomi yang disusunnya dipakai dari  Cordova sampai Cina. Dan di abad 12 karya matematikanya dikenal di Eropa sebagai ilmu Al-Jabar.
            Menurut saya, zaman Bait-ul Hikmah adalah masa kejayaan dan kegemilangan dalam sejarah Islam yang sesungguhnya. Tapi jelas zaman itu bukan zaman yang tunggal Islam. Karena bait-ul Hikmah juga jadi pusat penterjemahan besar-besaran karya Yunani bahkan Hindu!. Jadi adakah Bait-ul Hikmah akan dinilai tinggi dan dihargai jika berdiri di zaman khilafah yang mengagung-agungkan kemurnian dan anti pengaruh di luar Islam?.
             Bagi saya, Indonesia adalah bait-ul Hikmah raksasa. Jadi sebenarnya kita punya potensi untuk menjadi bangsa yang besar. Kalau selama ini kita masih terseok-seok dihadapan bangsa lain, masalah yang paling mendasar adalah masalah mentalnya. Secara fisik kita sudah merdeka, tapi jiwanya bangsa ini masih terjajah. Salah satu mentalitas kaum yang terjajah adalah selalu inferior/minder jika berhadapan dengan bangsa lain.
            Maka advis saya, mari kita sejenak berpaling dari idiologi asing dan menoleh kedalam. Kembali ke tradisi bangsa sendiri. Kembali ke jatidiri bangsa sendiri.  Kita tafsir kembali, misalnya Pancasila dengan lebih kritis dan profresif, disitu akan bisa kita lihat, bergabungnya hasrat perubahan social secara radikal dengan keyakinan perlunya demensi moral (sila pertama) dalam masyarakat agar tidak terjatuh dalam totalliarianisme!.
            KETUHANAN YANG MAHA ESA. Bertuhan itu tidak identik dengan beragama. Orang beragama belum tentu bertuhan. Tapi jika orang sudah bisa bertuhan, semua agama lewat. Bertuhan itu proses pencarian terus-menerus haqiqat kesejatian diri. Seperti arus air yang mengalir menuju samudera, disana tidak ada lagi pengotak-kotakkan, yang ada hanya Tuhan yang bersifat universal dan tidak perlu dibela. Jadi memang pantas disayangkan, jika dalam spiritual kita sudah merasa puas dan bangga hanya berhenti di bendungan besar ciptaan manusia yang bernama agama!.

Senin, 03 Desember 2012

BERTEMU MANUSIA AGUNG




            Diantara manusia, hanya pendeta, penyair dan prajurit yang agung………………………..Lainnya, hanya bagus buat dicambuk (Charles Baudelaire, dalam  Mon Coeur mis a nu}.
            Agung? Saya tahu betul, betapa omong-kosongnya itu. Menurut definisiku, keagungan seseorang itu tidak terletak pada profesi, jabatan, garis keturunan, kekayaan, ataupun dalam kata dan pemikirannya. Keagungan seseorang itu terletak pada kebesaran jiwanya, bukan pada kecerdasan otaknya. Manusia agung itu manusia yang tidak ingin menguasai dan dikuasai. Manusia agung sejati tidak pernah mau diagung-agungkan. Tidak pula pernah berhasrat meletakkan pandangannya yang bijaksana pada pribadinya. Manusia agung adalah manusia yang bias mengatasi ruang di jiwanya dari himpitan benda-benda, karena dia menghendaki suatu kebebebasan yang lebih punya arti. Manusia agung adalah manusia yang bias hidup bahagia sebagai dirinya sendiri apa-adanya. Manusia agung adalah manusia yang bekerja untuk akhirat, seolah ia akan mati esok hari. Dan bekerja untuk dunia, seolah ia akan hidup untuk selama-lamanya, tapi tidak dengan “keserakahan” untuk dirinya sendiri.
            Bicara tentang keserakahan, Michael Maccoby, dalam bukunya The Gamesmen, berkisah dengan bagus tentang para eksekutif dan manejer pada perusahaan-perusahaan besar di Amerika yang bergelut dalam rimba bisnis dengan idiologi jugle fighter.  Dalam hidup dan kerjanya yang ada hanya memakan atau dimakan, merontokkan atau dirontokkan, siapa yang tidak kuat akan binasa (Darwinisme). Ini buku memang berisi kisah orang-orang jenius yang berhasil menumpuk materi. Dengan kecerdasannya, memakan perusahaan-perusahaan kecil dengan sekali telan. Tapi ironisnya, disisi lain ini buku juga berkisah tentang cinta yang layu dan hati yang beku. Dalam kesuksessan materi, ternyata kasih-sayang, idialisme, kepekaan hati mereka tumpul. Mereka sangat inovatif dalam teknik baru dibidang industry dan keuangan- asal meningkatkan laba. Tak peduli hubungan dengan bisnis hanya merupakan cerita tentan manipulasi, rayuan dan penghianatan. Mereka adalah para egomaniak dan megalomaniak yang siap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
            The Gamesmen, adalah kisah para raja Midas modern yang diberi mujijat (kecerdasan lebih) oleh Tuhan, hingga apapun yang disentuhnya akan berubah menjadi emas. Sampai suatu saat sang raja mencium anak kesayangannya, barulah dia tahu arti keserakahan. Ada proses penghancuran/pembusukan dalam keserakahan, dan itu bukan orang lain, tapi dalam diri kita sendiri dan orang orang disekitar kita yang akan jadi korbannya. Bahagiakah raja Midas dengan hidupnya?
            Idialisme tanpa pijakan realitas menjadikan orang pemimpi sekaligus pembohong. Sedang realism tanpa nilai-nilai idial, akan menjadikan orang hidup tanpa kerendahan hati dan martabat.
             Hidup ini singkat. Manusia juga terdiri dari daging dan roh, kesadaran itulah yang mendorong saya mencari hal-hal yang sifatnya spiritualistic. Dan beruntung, saya pernah bertemu dengan seorang petani tua sederhana, tapi masuk dalam definisiku sebagai manusia agung. Pak tani ini gaptek, jadi secara teoritis aku merasa lebih pintar daripada beliau> Di zaman digital ini, adakah kitab suci yang lebih sempurna/lengkap dari kitab Google?. Tinggal klik, semua tanya terjawab.  Tapi spiritual bukanlah soal pintar-pintaran kotbah teori atau banyak-banyakkan pengetahuan. Masalah utamanya adalah; Laku spiritual aku itu bikin hidup aku bahagia tidak?. Lahir-bathin aku jadi tentram atau tidak? Mengajari aku untuk mengenal dan jadi dirik aku sendiri atau tidak?.
            Jujur, aku merasa teknologi seringkali terasa sebagai jebakan. Kian lama kian rumit dan mahal. Apalagi kita hanya sebagai pembeli bukan pembuat. Kita jadi ketergantungan/kecanduan. Kesimpulannya: Manusia digital yang berkitab Google ataupun orang beragama yang berkitab suci, ujung-ujungnya sama juga, hanya jadi manusia pongah yang pintar berteori tapi hampa jiwanya. Dengan bendera ilmu dan iman, semua jadi seperti rumus ilmu pasti, semua diterima dengan taklid. Tingggal klik atau buka kitab, semua Tanya terjawab?. Spiritual yang instan, enak memang. Tapi betapa dangkalnya spiritual macam itu!.
            Dan hal-hal yang dangkal dan instan itu yang kini tengah laku di pasaran. Lihat di toko buku, buku-buku yang laris terjual adalah buku-buku panduan untuk bisa jadi spiritualis dalam semalam, cara cepat kaya dalam sekejap dan sebagainya. Bahkan ada agamawan yang ngasih petunjuk cara cepat masuk surga dan mengawini para bidadari secara instan dengan cara meledakkan diri. Tidak ketinggalan para dukun dan paranormal pasang iklan menjual hal yang sama, Tidak perlu puasa atau lakukan ritual yang berat-berat, asal ada uang anda akan bisa jadi sakti mandraguna dalam semalam. Dan itu semua tidak ada yang salah, karena ini memang zaman pragmatisme, dimana segalanya serba diukur dari capaian materi.
            Akupun dulu pernah juga terjebak cinta dan pemujaan pada hal-hal yang bersifat instan dan dangkal seperti itu. Sampai aku bertemu pak tani tua sederhana yang aku lihat sedemikian tenang hidupnya tapi pada dasarnya riang. Kepalanya yang senantiasa tegak, seakan sikap yoga yang telah menyatu dengan dirinya. Sekalipun tak pernah kudengar beliau bicara ayat, tapi kurasakan benar kehangatan rohaninya. Padanyalah akhirnya ku belajar spiritual dari sudut yang lebih sederhana, mempribadi dan jujur. Bukan dari cara pandang mainstream yang selalu bersifat massal, instan dan sering bertunpu pada perhitungan untung-rugi atau alku tidak laku (dagang).
 Meskipun aku belajar padanya, pak tani itu tak pernah mau aku panggil guru. Beliau lebih suka dianggap sebagai teman dialog. Ada proses sharing, berbagi, belajar dan mengajar. Kata beliau, “Kita semua ini sejatinya sama, hanya murid yang masih sama-sama belajar dan berguru pada sang guru sejati, yaitu Tuhan YME”.
Karena bagi beliau spiritual itu bukan dagangan, penampilan beliau juga apa adanya seperti umumnya petani. Tak pernah berjubah atau berlagak sok suci seperti kebanyakan spiritualis/agamawan yang suka kotbah tentang keindahan/keidealan kehidupan akhirat dan sepertinya menajiskan kehidupan duniawi. Tapi ironisnya, orang-orang yang lagaknya seperti tidak doyan kehidupan duniawi itu, hidupnya sendiri lebih banyak ditopang dari dana yang dihimpun dari sumbangan umat!!!.
Pak tani ini kalibernya menyumbang, bukan hidup dari sumbangan umat. Beliau memang bukan orang miskin (paling tidak secara spiritual). Dan menurut beliau, memang tidak masalah spiritualis itu hidup dalam kemewahan, selama tidak terpenjara olehnya, beliau tidak pernah mempertentangkan ide dan materi. Tapi mendamaikan, menyatukan sebagai sarana menuju takwa dan penyerahan diri yang lebih total pada Tuhan. Segala gebyar harta duniawi, baginya hanyalah alat, sarana, satu jalan untk memperluas kemungkinan. Jadi bukan tujuan.
Banyak sekali pelajaran kebajikan hidup yang aku peroleh dari beliau. Tapi intinya, AKU HARUS JADI DIRIKU SENDIRI!. Mengidolakan seseorang itu tidak jelek, tapi kalau alu lebih suka percaya pada diri sendiri. Dan Tuhan? Tuhan tidaklah untuk ditakuti, tapi dicintai. Tuhan itu maha indah, maka dekatkanlah selalu dirimu padaNya, maka kaupun akan bias melihat keindahan disetiap langkahmu. Dan hidup dengan keindahan itu yang akan membuat kita bersyukur, merasa cukup tanpa harus menjadi serakah. Tuhan juga tidak butuh puja-puji umatnya, tidak pula pernah memberi beban umatnya dengan tetk-bengek ritual yang aneh-aneh dan berat. Tuhan membebaskan umatnya dalam beribadah.
Dan ini ajaran sederhana beliau yang aku praktekkan hingga kini, “Eling lah selalu pada Tuhanmu setiap waktu. Tapi jika kau memang ingin memberi waktu khusus untuk beribadah/meditasi, bermeditasilah kau menjelang tidur sampai kau tertidur. Bermeditasilah, seakan-akan kau hendak memasuki keabadian pintu kubur. Dan bermeditasilah kau ketika bangun tidur, seolah olah kau baru terlahir dan akan memulai langkah hidupmu dengan kemurnian jiwa layaknya bayi yang baru terlahir.”
Ajaran yang sangat sederhana sekali. Tapi butuh kesabaran karena merupakan proses

Sabtu, 17 November 2012

INTERMEZO SI BAHLUL




            Alkisah, ada seorang beragama sok suci bernama Bahlul yang pergi ke kota orang kafir. Karena lelah, beliau ingin tidur. Tapi melihat banyak-ramainya orang kafir di situ, Bahlulpun jadi takut, katanya, “Wah, bisa hilang aku di tempat seperti ini, bagaimana nanti aku menemukan diriku kembali setelah bangun?”
            Orang disampingnya yang mendengar omongan Bahlul itupun langsung memberi advis, “  Tidur saja anda dengan berbantal kitab suci yang selalu anda bawa dan bangga-banggakan itu. Kalau nanti anda bangun tidur, lihat ada orang tidur berbantal kitap suci, ya itulah anda!”
            “Wah, benar juga, mana ada sih orang kafir yang berani tidur dengan berbantal kitab suci.” Pikir Bahlul yang langsung tidur pulas berbantal kitab suci.
            Tanpa sadar, ketika Bahlul tidur didatangi orang gila yang menukar bantalnya dengan buntalan-buntalan sampah!. Dan begitu bahlul bangun dari tidur, dilihatnya ada orang gila tidur berbantal kitab suci, “          NAH, ITU SAYA!” kesimpulannya. Tapi sedetik kemudian Bahlulpun menjadi bingung,            “TAPI KALAU ORANG GILA ITU SAYA. YA, ALLAH……………. LALU SAYA INI SIAPA?”
            (ORANG TUHAN TIDAK DIAJAR KITAB/ORANG TUHAN DI LUAR KAFIR DAN AGAMA. Puisi Jalalludin Rumi ini yang menginspirasi saya menulis anekdot ini)