Minggu, 24 Maret 2013

CATATAN DARI DAERAH KONFLIK




            Ini catatan saya, ketika satu kapal dengan para pengungsi dari Ambon, yang menghindar dari konfflik berlatar belakang Sara, kesenjangan social, kecemburuan ekonomi dan perebutan kekuasaan yang terjadi disana. Sangat kompleks permasalahannya. Jadi hanya orang berkaca-mata kuda yang katakan, konflik di Ambon itu sebagai perang agama!.
            Saat itu saya berada di dek teratas dibagian buritan kapal. Tempat yang nyaman buat nongkrong memandangi luasnya lautan biru. Sebab disitu disediakan meja-kursi dan ada warung kecil yang menyediakan aneka minuman, makanan kecil ataupun mie rebus. Saat itu saya satu meja dan berkenalan dengan beberapa pengungsi dari Ambon. Mungkin karena factor trauma psikologis, mereka jadi sangat hati-hati sekali dalam berbicara dan yang dibicarakan juga hanya yang bersifat umum-umum saja.
            Suasana jadi sedikit tegang, ketika salah seorang pengusngsi disitu bertanya pada saya dengan nada dingin, “Apa sih sebenarnya agama anda itu?”
            Pada awalnya saya ragu untuk berterus-terang, tapi celakanya, saya ini bukan tipe orang yang pintar  menutupi suara hati. Jika hati saya bilang “A” ya mulut ngomong “A”. Jika hati bilang “B”, mulut juga ngomong “B”. Maka dengan terus –terang saya katakana, “Saya orang tidak punya agama!”
            “Anda orang atheis?”
            “Tidak. Saya memang bukan orang beragama, tapi saya percaya adanya Tuhan.”
            Suasana tegang yang sempat terciptapun seketika mencair, begitu orang yang menanyai saya itu langsung tersenyum begitu mendengar pengakuan saya. Bagiku, pandangan orang itu yang menganggap saya bukan sebagai musuh atau ancaman, itu sudah lebih dari cukup. Soal pandangan orang itu yang masih  menganggap  saya seperti alien atau mahkluk asing dari dunia antah-berantah, itu bukan masalah. Itu hanyalah masalah waktu saja. Saya sendiri sudah terbiasa, berhadapan dengan orang yang berpandangan, bahwa orang yang tak beragama itu sama saja atheis. Bahkan ada yang lebih ngawur lagi, ada yang memvonis, bahwa orang tidak beragama itu sama saja dengan PKI!.
            Sambil tersenyum getir si penanya saya itupun kemudian berujar, “Saya tidak tahu. Apa jadinya dunia ini, jika isinya hanya orang-orang tidak beragama seperti anda ini. Sedang ada agama dan orang-orangnya mengaku beragama saja, masih pada saling bunuh, bakar, siksa, rampok, perkosa, dan sebagainya!”
            “Seperti anda, saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.” Jawab saya. “Tapi satu hal yang saya tahu pasti, dalam hati anda sendiri sebenarnya meragukan keberadaan agama yang bisa membuat manusia jadi lebih baik.”
            “Maksud anda?”
            “Bukankah tadi anda katakan sendiri, orang punya agama saja masih pada saling bunuh, bakar, siksa, perkosa dan sebagainya?. Dan sekarang anda lihat, saya orang yang tidak punya agama ini. Bukannya bermaksud menyomnongkan diri, tapi alhamdulilah, syukur puji Tuhan. Sampai sekarang saya belum pernah melakukan tindakan kriminal. Apalagi sampai jadi pembunuh sesama manusia.
            Inilah kesalahan kita selama ini, yang suka menilai dan memandang seseorang itu bukan dari moralitas dan tingkah lakunya. Tapi lebih suka menilai dan memandang orang lain itu dari apa agamanya, sukunya, rasnya, orientasi sexsualnya, gendernya dan sebagainya. Orang lain jika dilihatnya tidak sama agamanya dengan kita, divonis salah, sesat, kafir dan harus ditaubatkan dari keyakinannya?  Pandangan seperti itu khan picik dan sempit sekali. Bagaimana kita akan bisa jadi bangsa yang besar, jika cakrawala pemikiran masyarakatnya sedemikian kerdilnya.”
 “Tapi saya tetap tak habis bisa mengerti, apa jadinya jika kehidupan ini hanya diisi oleh orang-orang tak punya aturan dan tak tahu agama seperti anda Ini”
            “Anda tentu tahu khan, siapa itu Sokrates, Plato atau Aristoteles? Jelas mereka bukan orang Yahudi, Hindu, budha, kristiani, ataupun Islam. Tapi mereka toh tahu dan bisa berkelakuan penuh keluhuran budi. Mereka juga bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk ataupun mana yang salah dan mana yang benar. Mereka juga bisa punya keteguhan hati untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan ditengah-tengah kesewenang-wenangan penguasa. Mereka juga bisa buktikan dalam hidup mereka meskipun tanpa agama, bahwa kwalitas hidup seseorang itu bukan diukur dari jabatan dan kekayaannya, melainkan dari konsistensinya untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
            Mereka orang yang belum terkontaminasi doktrin agama, dan sekarang anda lihat sendiri orang-orang yang katanya beragama itu moralital dan kelakuannya seperti apa???”
            “Tapi saya tetap berkeyakinan, orang itu akan lebih baik jika beragama daripada tidak!”
            “Saya hargai keyakinan anda itu dan yang terpenting harus bisa di buktikan. Tapi kalau boleh saya nanya, ‘Apa sih cirinya orang bisa disebut beragama itu?’ “  karena saya Tanya beberapa waktu orang itu hanya diam saja, akhirnya saya jawab sendiri pertanyaan saya itu. “Orang bisa disebut beragama karena punya dua hal yang mendasar, yaitu kitab suci dan nabi. Dan sekarang kita coba lihat kehidupan para nabi itu sendiri. Bukankah para nabi itu jadi nabi bagi dirinya sendiri? Dan kitab suci itu bukankah tercipta-susun setelah beberapa waktu nabi itu wafat? Dengan demikian bukankah bisa dikatakan, bahwa para nabi itu sendiri sebenarnya bukan orang-orang yang beragama? Karena tidak punya nabi dan kitab suci?
            Para nabi itu seperti saya khan, tidak beragama tapi percaya adanya Tuhan? Beragama itu tidak identik dengan berTuhan.  Dan bagi anda yang sudah ngaku beragama tapi masih suka rampok, siksa, bakar, bunuh dan perkosa sesamanya. Itu artinya anda baru beragama tapi belum berTuhan. Dan sekarang terserah anda mau pilih mana. Mau pilih Tuhan yang abadi atau pilih agama yang bisa di tafsir belok-belokkan sesuka hati itu”
            “Anda tak punya nabi dan kitab suci, tapi paling tidak anda khan punyalah guru, pembimbing, panutan atau apalah sebutannya.”
            “Pengalaman adalah guru yang terbaik, kata orang bijak. Jadi kemanapun saya melangkah, sebenarnya saya tengah bertemu dengan guru saya. Termasuk ketika saya bertemu anda kali ini, sebenarnya saya juga tengah bertemu dengan guru saya. Karena jujur saya harus akui, pertemuan kita kali ini memang memberi banyak sekali pelajaran dan inspirasi buat saya. Dan saya trmasuk tipe murid yang sangat hormat pada para gurunya hahaha………………“
            Pembicaraan kamipun terus berlanjut. Diskusi kamipun terus mengalir dafri topic yang satu ke topic yang lain. Bahkan beberapa pemuda disitu menanyakan, tentang bagaimana cewek-cewek di Jawa? Hahaha…………….. Pembicaraan yang hangat, penuh canda-tawa dan penuh keakrapan seolah seperti perjumpaan sahabat lama saja. Dan satu hal yang membuat hati saya sangat bahagia, ketika saya menatap mereka yang tadinya dingin seolah menyembunyikan dendam, curiga, derita dan amarah. Kini tidak ada lagi kesan itu. Yang ada hanya sorot mata yang berbinar-binar jernih. Dan saat itu saya hanya bisa berdoa’a, semoga sorot mata yang indah itu tetap seperti itu selamanya.
            Pengalaman adalah guru yang terbaik? Jadi betapa tololnya kita-kita ini jika tidak bisa mengambil hikmah/pelajaran dari kejadian nyata yang sungguh sangat mahal sekali harganya itu. Pelajaran yang tidak hanya harus ditebus dengan pengorbanan harta-benda, tapi juga harus mengorbankan banyak nyawa saudara-saudara kita sendiri.
            Perjuangan menegakkan keadilan dan perdamaian itu memang terbatas oleh ruang dan waktu. Kita memang tidak bisa melawan kodrat alam sebagai mahkluk yang terbatas. Tapi itu bukan alas an kita untuk menyerah dan berhenti mengusahakan nilai-nilai universal, seperti halnya perdamaian. Justru keterbatasan itu yang menyadarkan kita, untuk bersedia ditegur, mengerti rasa malu, takut berbuat dosa dan selalu bersikap kritis agar tidak terbelokkan oleh dunia yang terus berubah ini.
            Pengalaman eksistensial mengenai keterbatasan diri dan dunianya, sekaligus memendam kerinduan untuk bisa menggapai perdamaian dan kebahagiaan yang hakiki. Cepat atau lambat, saya percaya itu akan mengantar siapapun orangnya pada kesadaran akan keberadaan Tuhan YME. Dialah sang penjamin kebahagian dan arah perjuangan hidup manusia.
            SEMAKIN JAUH AKU MENGEMBARA, SEMAKIN TERANG-BENDERANG TANAH MUASAL

Sabtu, 26 Januari 2013

SPIRITUAL YANG MEMBEBASKAN

-
Ketika terjadi konflik Syi’ah di Sampang Madura, untuk mengatasi masalah itu ada seorang tokoh masyarakat yang memberi advis begini; Jalan terbaiknya ialah para pengikut Syi’ah beralih menjadi Suni!.
            Penyelesaian secara instan seperti itu bukanlah cerita baru, beribu tahun yang lalu para paus dan ulama juga sudah suka kotbah seperti itu. Pindah agama, tinggalkan ajaran sesat dan bagi kau terbukalah pintu Surga!. Dan beberapa waktu kemudian kita semuapun tahu, pertikaian itu sebenarnya bukan konflik antara Syi’ah Vs Suni. Tapi hanya pertikaian keluarga yang berlatar-belakang perebutan harta-warisan dan perempuan belaka!.
            “Semakin banyak kau bisa membunuh musuhmu, semakin luaslah kavling di Surga bakal kau miliki!”, Itulah fatwa terkenal yang sama-sama keluar baik dari kaum Muslim maupun Nasrani dalam Perang Salib. Zaman ketika agama hanya dijadikan kedok untuk melindungi kepentingan ekonomi dan kekuasaan sejumplah kecil orang. Agama telah kehilangan semangat profetiknya dan terlalu banyak diwarnai ambigiutas dan paradok. Kotbah tentang kebajikan agama yang mengajarkan tentang perdamaian, cinta-kasih dan menghargai sesama, tapi dalam praktiknya hingga kini diseluruh penjuru dunia masih saja terjadi konflik antar suku, pemusnahan etnis, pengusiran sebuah bangsa, yang kesemuanya itu sering dibalut oleh keyakinan sempit dalam beragama.
            Dalam kaca-mata para  ilmuwan sudah sampai pada suatu kesimpulan: AGAMA MATI SEIRING TERBITNYA MODERNISME!. Agama dianggap tidak lebih dari sis-sisa kepercayaan dari masa gelap yang mewartakan dunia apokalipstik di masa depan. Transendensipun telah direduksi jadi kabar angin dan itu jadi isyarat awal dari kebangkrutan agama-agama formal!.
            Sejak Galileo dijatuhi hukuman oleh gereja, kemajuan ilmu dan kedudukan agama memang seperti anjing dan kucing, saling mencurigai dan membenci. Agama mencurigai ilmu pengetahuan sebagai sumber kesesatan, dosa, sekularisme dan atheisme. Sementara ilmu-ilmu modern pada masa pencerahan (aufaklarung) menghinakan agama sebagai kekolotan yang tak dapat ditanggung oleh kemajuan zaman. Karena itu agama pasti akan segera lenyap dari kehidupan manusia. Tidak hanya agama. Filsafat yang memperdebatkan ilmu pengetahuan macam Positivisme, Neokantianisme dan Mazhab Wina juga pernah di curigai dan disingkiri oleh ilmu.
            Anda mau berpandangan, bahwa yang menjadi asas cuma materi dan apa yang dinamakan roh, nyawa atau Tuhan itu hanya tipuan angan-angan atau produk materi belaka. Atau anda mau mempertahankan yang sebaliknya?. Semua terserah dan kembali kepada keputusan kita masing-masing Aku sendiri memilih, disaat-saat kesadaran yang paling cerah (meditatif), nyawa, roh atau Tuhan berbayang pada diri kita. Dan dalam kesadaran yang paling cerah itu, kita hanya diam membisu dan pasrah berserah diri secara totalitas pada segala kehendaknya. Biarlah semua terjadi menurut kehendaknya, bukan kehendakku.
            Sampai titik ini pikiran kita tidak mampu menjangkaunya. Spiritual macam ini juga tidak bisa diprogramkan dan dimassalkan sebagaimana agama. Itu juga bukan spiritual achievement, kita tidak bisa dan mau mendikte Tuhan. Disinilah bukti nyata, bahwa Tuhanlah yang maha kuasa bukan kita. Hal itulah yang menyadarkan kita, bahwa tidak mungkin orang mampu mempercayai adanya tuhan, tanpa mengakui dirinya sendiri terbatas. Dan keterbatasan/ketidak sempurnaan, bukanlah jadi alasan kita untuk terus-menerus menghalalkan kerakusan. Keadan tidak sempurna itu justru jadi alasan kita untuk bersedia rendah hati, bersedia ditegur, mengerti rasa malu dan dosa!.
            Sampai titik ini, saya melihat kecerdasan spiritual bangsa sendiri. Bangsa yang tidak pernah melahirkan agama-agama formal. Karena spiritual sejatinya memang tidak bisa diformalkan, dimassalkan atau didogmakan seperti agama. Hubungan manusia dan Tuhannya itu bersifat unik, khas dan mempribadi. Tidak ada seorangpun atau lembaga  yang punya otoritas untuk menilai kedekatan seseorang itu dengan Tuhannya. Spiritual bukanlah soal pintar-pintaran kotbah atau tebal-tebalan kitab suci. Spiritual adalah proses pengenalan dan pendekatan diri pada kasunyatan (sejatinya realita/Tuhan) kata orang Jawa.  Dan dari kedekatan dan pengenalan kita akan kesejatian Tuhan, kitapun akan bisa menjalani hidup seperti kehendakNya.
            Telah tiba saatnya membangkitkan jiwa-jiwa yang tenggelam yang masih tetidur pulas dan tidak menjalankan hidup seperti kehendak Ilahi. Jika para nabi mendekatkan dan membangunkan kesadaran umatnya akan keberadaan Tuhan lewat aneka muzizat yang aneh-aneh.. Di zaman kontenporer ini, ilmu pengetahuan, kreatifitas dan kecerdasan itulah muzizat yang diturunkan Tuhan di zaman modern ini. Agama, budaya dan tradisi, tanpa pengetahuan hanya akan menciptakan stagnasi bahkan dekandensi berpikir. Orang yang tidak biasa berpikir secara rasional dan kontekstual, kesadarannya akan mudah dinina-bobokan oleh janji-janji surgawi agama.
            Tapi cerdas saja tanpa dilandasi keyakinan adanya Tuhan, hanya akan menciptakan manusia-manusia atheis sombong yang siap menghalalkan segala cara untuk bisa meraih ambisi-ambisinya.
            Jadi jelas sudah, kenapa agama dan ilmu pengetahuan itu sering tidak akur. Karena pada dasarnya, keduanya sama sombong dan besar kepalanya. Yang agamawan, berkeyakinan, semua tanya bisa dicari jawabnya dalam kitab suci. Sementara ilmuwan merasa semua tanya ada jawabnya dalam dialitika pemikiran kritisnya. Yang satu MEMBERHALAKAN AGAMA! Satunya lagi MEMBERHALAKAN KECERDASANNYA!. Apa bedanya?. Tidak ada bedanya, keduanya sama-sama tidak menyembah sejatinya Tuhan.
            Barang siapa memuja/memberhalakan selain sejatinya Allah, orang itu pasti akhirnya akan diperbudak olehnya dan menjadi manusia robot yang tak berjiwa. Tapi barang siapa mau mencari dan mencintai sejatinya Allah, orang itu akan menemukan jatidirinya sendiri dan kebebasannya yang hakiki. Jiwanya akan merdeka sekaligus penuh kasih-sayang. Dan itu bukan kemewahan yang nikmat, tapi kewajiban yang dalam bagi seorang spiritualis.
Spiritual itu dinamis dan penuh dialitika. Spiritual itu akan membebaskan/memerdekakan jiwa dan pikiran kita. Kita akan bebas memilih para pemimpinnya, bebas ikut dalam politik, bebas dari acuan tradisi dan tahayul. Bebas pula dari kekurangan materi. Dan dalam semangat kebebbasan itu, alternative-alternatif bias diperoleh dan kemungkinan-kemungkinan baru untuk menyelesaikan suatu permasalahan dapat dicari.
Jadi intinya, spiritualis sejati itu memandang hidup dan Tuhan itu sebagai maha misteri. Hal itulah yang menyadarkan seorang spiritualis untuk selalu rendah hati. Tuhan juga bias member cahaya kebenaranNya lewat siapa, kapan dan dimana saja. Hal itulah yang menyadarkan seorang spiritualis untuk selalu TERBUKA DAN TOLERAN terhadap siapa saja. Kita sadar, kebenaran kini tidak bias digenggam sendirian oleh selapisan elite, nabi, dosen, tokoh masyarakaty. Penguasa, orang tua dan sebagainya. Di zaman kontenporer ini, kebenaran adalah suatu realitas yang dimiliki bersa,a. Dan hanya solidaritas berkomunikasilah yang bias melahirkan itu, yaitu lewat dialog.
Perbedaan pendapat dengan demikian adalah suatu rahamat. Jadi kalau ada ilmuwan, agamawan, ataupun orangyang ngku spiritualis, tapi alergi kritik, sombong, tertutup, fanatic dan merasa sudah paling benar, pintar, sempurna dan suci sendiri. Saya berani katakan; Mereka sejatinya manusia pemuja selain Tuhan. Bahkan kita juga boleh meragukan, orang itu sesungguhnya masih juga manusia yang terdiri dari daging dan roh ataukah hanya robot berotak yang tak berjiwa!.
Saat ini kebanyakan kesadaran jiwa manusia tenggelam dalam kegelapan, karena dalam spiritual terlalu banyak mencari hal-hal di luar diri dan dengan pemikiran yang bermacamacam> Tapi intinya hanya ingin menguasai dan biar terlihat lebih dibandingkan orang kebanyakan.Hal itulah sesungguhnya yang jadi penyebab utama banyak peristiwa-peristiwa yang tidak bias di nalar akal sehat bias terjadi, seperti kasus sampang, korupsi kitab suci, penghancuran rumah ibadah dan sebagainya.
Maka jika kita memang ngaku spiritualis, cari dan kembalilah pada sang jati-diri!. Belajar mencari yang ada didalam diri, supaya lebih mudah melihat yang di luar. Jernih jiwa, maka kita akan melihat dengan jernih pula hal-hal yang di luar. Kembali menemukan sang jatidiri dan hidup dalam bimbingan Ilahi. Itu inti spiritual yang ada dalam agama dan ajaran religious manapun yang dicai sejak zaman dulu. Intropeksi, mawas diri, berkumpul dan melakukan praktik spiritual dengan meditasi, dari situ kesadaran kita pasti akan bangkit dan hidup seperti kehendak Illahi, sesuai dengan kapasitas dan peran kita masing-masing.
Mencintai Tuhan dengan sepenuh jiwa raga dan mencintai sesama seperti bagaimana kita mencintai diri sendiri, itulah inti ajaran semua agama/spiritual. Dan tugas utama seorang spiritualis adalah membuka wawasan umat dan tidak takut kehilangan otoritasnya. Bimbing, berkati dan tunjukkan pada umat untuk bias menemukan jatidirinya sendiri, kaena itulah jalan untuk bisa menemukan Tuhan yang bersifat universal.  BHINEKA TUNGGAL IKA.
Kalau pengetahuan tentang keTuhanan dilandasi asas kebebasan penegenalan langsung akan haqiqat kesejatian Tuhan, umat pasti juga akan lebih cerdas dan memahami Tuhan yang menghendaki kehidupan manusia yang lebih sejahtera, tak peduli apa itu suku ras, agama, orientasi sexsualnya, gender dan sebagainya.
Religius sekaligus sosialistis terbuka, itulah dua gambar dalam satu mata uang yang tidak terpisahkan. Dan hal itu tidakkah sebenarnya sudah pula dirumuskan dalam dasar Negara kita. Pancasila?

Sabtu, 05 Januari 2013

Khilafah dan amnesia sejarah



                                                      Adagium kesohor yang mengatakan, periode Salafi sebagai  massa  keemasan Islam hanyalah omong-kosong besar. Sejak mangkatnya Muhamad, zaman al-khul fa’ar-r,syid’n, hingga runtuhnya khilafah Abbasiyah, zaman itu tidak banyak pencapaian yang gemilang. Di zaman itu, justru banyak bau anyir pertumpahan darah akibat pertikaian saudara seiman yang terjadi. Itu fakta sejarah yang tak terbantah!.
                                                      Empat sahabat Muhamad, selain abu bakar, ketiganya juga mati terbunuh. Khalifah Usman misalnya, juga dibunuh oleh orang Muslim sendiri. Persendiannya dipatahkan. Dalam islam ada hokum untuk tidak boleh menunda-nunda pemakaman bagi orang mati, tapi jasad beliau sampai tertahan dua malam. Sebagian kaum Muslim juga tidak mau menyolatkan dan melarang dimakamkan di pekuburan Baqi. Dibawah lemparan batu akhirnya jasad beliau dimakamkan di di Hisy-Kaukab, area pekuburan orang Yahudi!. Kita juga tahu bagaimana tragisnya kematian Khalifah Ali (menantu Muhamad) dan anaknya Husain (cucu Muhamad).
            Jadi heran juga saya, di zaman gini masih ada juga orang-orang yang begitu bersemangat mengusung paham kekhalifah-an, yang ingin menyeragamkan aspirasi dan ekspresi sosio-budaya-politik keagamaannya dalam menterjemahkan Islam dalam bentuk yang tunggal/monolitik. Impian Islam yang satu itu ahistoris, impian itu hanya akan melahirkan klaim kebenaran yang absolut. Hal itu sekaligus hanya menunjukkan bahwa mereka itu orang-orang yang tidak sadar (amnesia) bahwa hidup social itu tidak bisa sendirian. Di hutanpun kita hidup bersama hewan, tumbuh-tumbuhan dan semak-belukar.
            Bagi saya, paham khilafah itu perlu diwaspadai, karena paham ini akan melemahkan sendi-sendi kehidupan kita baik secara pribadi, kelompok, maupun bangsa secara menyeluruh yang pluralis.
            Dalam logika orang kampung seperti saya, kalau ada kelompok yang merasa benar sendiri dan yang lain dituding sesat, saya rasa mereka akan kesepian dan bosan ada di Surga nanti, karena dalam persepsinya Surga hanya akan diisi oleh orang-orang yang sama-sama sepaham dengan mereka doang. Dalam bahasanya Michel Foucault, “Selama ini kaum yang berkaitan dengan moralitas tertinggi (agamawan), ternyata hanyalah konstruktor-konstruktor realitas yang bekerja hanya demi kepentingan diri dan aliran paham yang dianutnya saja.”
            Jika kita punya keberanian melampaui batas nilai-nilai budaya, tradisi, moralitas dan agama, maka mudahlah bagi kita untuk menunjukkan kebobrokan dalam system Khilafah itu. Bagi mereka yang familiar dengan pemikiran para ilmuwan dari kajian teori kritis macam Machiavelli, Karl-Mark, Nietzsche, Habermas atau Facault. Tentu tidak akan heran lagi melihat stuktur logika kekuasaan yang penuh imagologi dalam paham Khilafah itu. Isu agama yang hanya dipakai untuk kedok/menutupi kepentingan ekonomi dan kekuasaan segelitir kelompok kecil orang.
            Boleh-boleh saja kita percaya ajaran agama itu sangat mulia, tapi sejarah juga mencatat tak banyak penguasa yang mulia hanya karena hapal agama. Begitupun cita-cita revolusi (khilafah) boleh mulia, tapi pasti berbau terror!. Revolusi itu hitam-putih yang memuja permusuhan. Suka atau tidak, kita harus memihak. Yang menang dicatat sebagai pahlawan yang kalah di cap pengkhianat. Jangan harap ada toleransi dan diskusi. Diawal-awal kemenangan revolusi yang ada hanya kesibukan para penguasa mempertahankan kekuasaannya. Organisasi mata-mata dikokohkan, terror disebarkan agar orang tetap berpihak dan setia. Mencurigai, mengintimidasi, pengusiran, pembasmian dan daftar orang di penjara dan mati sia-sia akan sangat panjang.
            Setelah revolusi selesai, si tertindas ambil alih dan mulai berbuat seperti si penindas (Woody  Allen).
            Di Timur-Tengah sendiri paham Khilafah itu sudah tidak laku. Hanya dalam masyarakat yang amnesia sejarah dan suka inferior jika berhadapan dengan bangsa lain, yang mau menerima paham ini.  Melihat, bukan hanya idiologinya, tapi juga pendanaannya yang berasal dari luar, saya jadi curiga, jangan-jangan para pengusung paham kekhalifahan ini sebenarnya hanyalah gerombolan para penjual Negara yang bertudung dibawah kesucian agama. Paham khilafah itu sudah jelas-jelas gagal total dan hanya mewakili wajah kekuasan yang tiran dan serba formalis syaria’ah, tapi esensi spiritualnya sendiri penuh tanda tanya.
            Label syari’ah kini jadi sebuah trik marketing yang jitu untuk merup untung. Apapun kini latah semua dilabeli syaria’ah, termasuk promo property dan wisata. Tapi pernahkah kita bertanya hal-hal yang subtansi, misalnya, di bank syaria’ah itu tidak memungkinkankah terjadinya skandal pencucian uang?. Bagaimana menanggulangi masalah utang luar negeri secara syaria’ah?. Bagaimana agar upah meningkat sedangkan harga menurun secara syari’ah? Bagaimana mengatasi masalah banjir dan kemacetan secara syaria’ah?. Bagaimana agar departemen agama (penjaga syari’ah?) angka korupsinya bisa nol persen.
             Jika teladan hidup Muhamad sebagai tolak-ukurnya, jelas para khalifah sesudahnya hanyalah contoh ketidaksempurnaan dan sejarah Islam hanya sejarah tentang kemerosotan belaka. Tapi akan lain halnya jika kita ambil tolak ukur yang lain. Misalnya Bahdad di awal abad 9, di zaman Al-makmun yang mendirikan Bait-ul Hikmah (balai kebijaksanaan). Sebuah pusat kegiatan ilmiah dan perpustakaan umum yang  menurut Ibnu Khaldun, jadi awal kebangkitan ilmu, medis, sastra, dan kesenian yang tersohor dalam sejarah. Yang melahirkan orang macam Muhamad Ibnu Musa atau Al-Khawarizmi, yang daftar astronomi yang disusunnya dipakai dari  Cordova sampai Cina. Dan di abad 12 karya matematikanya dikenal di Eropa sebagai ilmu Al-Jabar.
            Menurut saya, zaman Bait-ul Hikmah adalah masa kejayaan dan kegemilangan dalam sejarah Islam yang sesungguhnya. Tapi jelas zaman itu bukan zaman yang tunggal Islam. Karena bait-ul Hikmah juga jadi pusat penterjemahan besar-besaran karya Yunani bahkan Hindu!. Jadi adakah Bait-ul Hikmah akan dinilai tinggi dan dihargai jika berdiri di zaman khilafah yang mengagung-agungkan kemurnian dan anti pengaruh di luar Islam?.
             Bagi saya, Indonesia adalah bait-ul Hikmah raksasa. Jadi sebenarnya kita punya potensi untuk menjadi bangsa yang besar. Kalau selama ini kita masih terseok-seok dihadapan bangsa lain, masalah yang paling mendasar adalah masalah mentalnya. Secara fisik kita sudah merdeka, tapi jiwanya bangsa ini masih terjajah. Salah satu mentalitas kaum yang terjajah adalah selalu inferior/minder jika berhadapan dengan bangsa lain.
            Maka advis saya, mari kita sejenak berpaling dari idiologi asing dan menoleh kedalam. Kembali ke tradisi bangsa sendiri. Kembali ke jatidiri bangsa sendiri.  Kita tafsir kembali, misalnya Pancasila dengan lebih kritis dan profresif, disitu akan bisa kita lihat, bergabungnya hasrat perubahan social secara radikal dengan keyakinan perlunya demensi moral (sila pertama) dalam masyarakat agar tidak terjatuh dalam totalliarianisme!.
            KETUHANAN YANG MAHA ESA. Bertuhan itu tidak identik dengan beragama. Orang beragama belum tentu bertuhan. Tapi jika orang sudah bisa bertuhan, semua agama lewat. Bertuhan itu proses pencarian terus-menerus haqiqat kesejatian diri. Seperti arus air yang mengalir menuju samudera, disana tidak ada lagi pengotak-kotakkan, yang ada hanya Tuhan yang bersifat universal dan tidak perlu dibela. Jadi memang pantas disayangkan, jika dalam spiritual kita sudah merasa puas dan bangga hanya berhenti di bendungan besar ciptaan manusia yang bernama agama!.