Sabtu, 15 Juni 2013

KEMBALI KE SPIRITUAL BANGSA SENDIRI




            Para nabi, orang suci atau spiritualis sejati, tidak pernah berhasrat untuk meletakkan pandangannya yang bijaksana pada diri-pribadinya sendiri; Jangan percaya padaku, tapi percayalah pada Tuhan. Jangan jadi pengikutku, tapi jadilah pengikut Tuhan, Jangan jadi sepertiku, tapi jadilah dirimu sendiri.
             Itulah ajaran para spiritualis sejati. Tapi orang-orang pintar teori, yang sok suci, sok merasa benar dan sempurna sendiri telah memanipulasinya.  “Manusia menciptakan Tuhannya dengan daya khayalnya sendiri” {Feurbach}. Dan entah sadar atau tidak, saat ini kebanyakan orang tidak mencari dan menyintai sejatinya Tuhan. Tapi justru memuja tuhan ciptaan daya khayalnya yang bernama agama!. Saat ini banyak orang menuhankan/memberhalakan agama. Dan itulah yang membuat masyarakat kita egosentris dan mengira dengan beragama berarti sudah menjadi orang tuhan/beriman. Ego yang terus-menerus di pompa oleh para ahli agama. Kita terus dijejali propaganda kelebihan dan kehebatannya agama. Tanpa kita sadari itu semua sesungguhnya hanya untuk melanggengkan kekuasaan mereka saja Kepala kita terus dijejali iklan utopia agama, hingga kita tidak bisa lagi melihat jiwa kita yang sesungguhnya tertindas/terjajah. 
            Karena terlalu lamanya jiwa bangsa ini ditindas, penindasan itu justru seolah-olah menjadi keniscayaan, bahkan kebutuhan bagi si tertindas?. Orang sudah tidak bisa lagi melihat jati-dirinya sendiri lagi. Orang sudah tidak bisa lagi melihat bedanya antara agama dan budaya. Saat ini banyak orang yang merasa belum afdol Islamnya jika belum bisa meng-Arabkan diri. Spitual itu membebaskan., sementara agama mengurung. Seperti seekor burung, karena terlalu lamanya jiwa bangsa ini terkurung di sangkar emas, seringkali membuat kita abai dengan realita diluar sangkar yang terlalu banyak di warnai ambiguitas dan paradok dalam beragama. Kicoan agama tentang perdamaian dan menghargai sesama dalam kenyataannya sering kebalikannya.  Orang biasa teriak “tuhan maha pengasih!” sambil berkelakuan bengis. Nilai kemanusiaan yang luhur seakan tidak ada maknanya lagi, yang terjadi justru semakin mengerasnya identitas agama yang melekat dan kecenderungan penunggalan atas kebenaran agama. Ajaran agama memang mulia, tapi sejarah ternyata tak banyak mencatat adanya penguasa yang mulia. Konflik antar suku, pemusnahan etnis, pengusiran sebuah bangsa, merupakan sejumplah masalah zaman ini yang sering di balut oleh keyakinan sempit beragama.
            Saya tidak anti agama. Saya banyak belajar tentang kebajikan hidup dari agama. Kalau toh ada yang saya tentang atau kritisi, itu hanya sebatas institusinya, budayanya dan sistemnya yang seringkali bersifat totaliter. Kehidupan beragama yang hanya digerakkan oleh semangat pakaian seragam yang mengagung-agungkan kekuatan massa, militansi dan kesatuan. Gerombolan orang-orang sok suci yang suka merasa paling benar dan sempurna sendiri, yang suka mengklaim bahwa Allah, kebenaran dan surga  hanya milik mereka saja. Orang-orang macam itu sesungguhnya adalah para pemuja berhala yang bernama agama.
            Orang munafik-sombong macam itu yang harus dengan berani kita hadapi dan tentang, karena orang-orang itu sesungguhnya para penunjang system yang telah membodohi dan mengajarkan kebodohan pada jiwa bangsa kita, hingga kita jadi bangsa setengah gila. Kita jadi bangsa yang mudah marah oleh hal-hal yang sepele, gampang ngamuk tanpa pikir panjang, kita jadi bangsa gumunan dan kagetan seperti bangsa tak berpengetahuan apa-apa, bahkan kita jadi tegaan membunuh sesama anak bangsa persis orang yang tak berbudaya saja.
             Tak ada nabi yang menciptakan agama! Agama dicipta-susun oleh orang-orang setelah nabi wafaat, karena mereka ingin mempertahankan kekuasaannya. Para nabi intinya hanya mengajarkan kita, untuk bisa mencintai Tuhan dengan sepenuh jwa-raga dan mencintai sesamanya seperti bagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Hanya itu. Jika kita bisa melakukan itu, berarti kita sudah menjadi seorang spiritualis sejati, Soal baju atau kotaknya  mau dikasih label Hindu, Budha, Kristiani, Islam, konghucu, atau tanpa label sekalipun itu bukan maslah!.
            Jadi tak perlu minder jika anda jadi seorang spiritualis tanpa label/kotak agama apapun. Spiritual itu membebaskan/memerdekakan, sedang agama menjajah jiwa. Jadi tak ada alasan sebagai orang merdeka harus minder dihadapan orang yang terjajah. Manusia terjajah adalah manusia, yang jika tidak dijajah ya nafsunya mau menjajah. Arogan dan merasa superior ketika jaya dan kaya, tapi minder, inferior dan suka mengemis ketika miskin dan tak punya kuasa. Sementara spiritualis yang telah merdeka jiwanya, tidak akan inferior sekaligus juga tidak merasa superior atas sesamanya.
             Jika anda ingin jadi orang beragama, belajarlah kitab. Tapi jika anda ingin orang tuhan/beriman, belajarlah untuk mencari dan mendekati sejatinya Allah. ”Orang tuhan tidak diajar kitab/orang tuhan di luar kafir dan agama” {Jalalludin Rumi}. Jadi seharusnya kita bangga, sebagai bangsa yang tidak pernah melahirkan agama formal-terorganisir. Karena sejatinya spiritual itu memang tidak bisa di formal-organisir dan seragamkan dalam satu dogma. Spiritual itu seperti air yang mengalir. Spiritual itu bersifat mempribadi,khas dan unik Tiap insan bisa menyerap cahaya kasihNya sesuai kapasitas masing-maing. Jadi tak ada tempat sesungguhnya untuk iri, serakah, apalagi  berjumawa dalam spiritual itu. Karena kita ada memang tidak untuk kasih unjuk apapun, selain hanya untuk mendekatkan diri pada yang maha Esa. Spiritual bukan untuk dipamerkan apalagi diperdagangkan, spiritual adalah bagian dari keseharian  hidup kita.
             Tuhan juga tidak menilai hambanya dari apa agamanya. Tapi bisa tidak kita mengimplementasikan kebajikan ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari, disitulah nilai kita. Dalam spiritual yang terpenting juga bukan soal sempurna atau tidak sempurnanya pengetahuan agama, tapi bisa tidak kita untuk lebih bisa mengenal diri pirbadinya sendiri dan Tuhannya. Itu yang terpenting!.
             Jelas bangsa ini telah terbutakan oleh silau cahaya kerangkeng emas agama, hingga kita tak bisa lagi melihat dan menghargai jati dirinya sendiri lagi. Agama telah membuat kita jadi bangsa yang lupa wajah diri. Agama telah mendoktrin kita jadi bangsa robot, penciplpak dan memuja hal-hal yang bersifat gebyar lahiriah belaka. Agama telah membuat kita bangsa minder yang tak punya rasa percaya diri dan selalu membungkuk dihadapan bangsa asing. Seolah hanya mereka bangsa terpilih yang tahu dan dekat Tuhan. Kita telah jadi bangsa bodoh, terjajah dan tidak punya otonomi diri. Kita telah jadi bangsa minder dan untuk menutupi keminderannya, orang memang sering jadi berlebihan berlagak. Bergaya bak orang suci, kemana-mana berbaju gamis. Dan kita orang awam hanya bisa tertawa, masak orang suci kerjaannya kerjaannya Cuma teriak-teriak memuja kebesaran Allah, sambil bawa pentungan memaki-maki dan menakut-nakuti orang yang dianggap tidak sepaham?. Masak dalam spiritual kita hanya akan berhenti pada kebanggaan jadi preman berbaju gamis?.
            Pengetahuan agama memang bisa ditransfer, komunikasikan dan ajarkan. Tapi kebijaksanaan spiritual tidak. Kita dapat menemukan, hidup dengannya,, diperkuat olehnya, menciptakan keajaiban melaluinya, tapi kita tidak dapat mengajarkan, mengkomunisikan atau mentransferkan kepada orang lain. Seperti rasa garam, seorang ahli kimia bisa jelaskan detail zat-zat apa saja yang ada dalam garam. Tapi jika anda ingin tahu rasanya, anda harus mau langsung praktek mengecapnya. Begitu juga halnya jika anda ingin lebih kenal sejatinya Allah. Tidak cukup hanya dengan berguru atau menghapal kitab. Tapi anda harus berani terjun langsung praktek dalam pendekatan diri padaNya.
            Dan persentuhan dengan apa yang dalam literature sufi jawa disebut “kasunyatan” atau sejatinya realita Tuhan, itu jauh lebih indah, menggetarkan, menyentuh dan membekas di jiwa dibandingkan jika anda Cuma dengar kotbah yang menukil-nukil dari kitab suci. Dalam cahaya kasihNya, kita juga akan bisa melihat dengan lebih jernih, mana kemajuan-mana kemunduran, mana kejujuran-mana kemunafikan, mana lebih kekal tubuh atau nyawa, dan tak ada kata minder untuk seorang spiritualis sejati. Berulangkali Tuhan sepertinya ingin menohok kesombongan umat manusia, dengan memberi petunjukNya lewat mereka-mereka yang tidak masuk hitungan. Seperti Musa yang Cuma anak buangan/pungut, Yesus yang Cuma anak tukang kayu, Muhamad yang gembala buta huruf dan sebagainya.
            Jadi tak perlu minder kalau spiritual bangsa kita saat ini dipandang sebelah mata. Dekatkan pada Tuhan pasti kita akan jadi penuh percaya diri, carilah sejatinya Allah, pasti kita akan menemukan dan bangga jadi diri kita sendiri. Hanya Allah yang bisa menuntun dan memberi arah menuju kebajikan sejati. Hanya sejatinya Allah yang bisa menyatukan umat manusia, bukan agama. Agama justru membuat umat manusia terkotak-kotak.
                        Banyak orang mengatakan, saat ini tengah terjadi krisis spiritual, hingga kitab sucipun tak takut lagi dikorupsi, kesewenang-wenangan bahkan pembantaian atas nama keyakinan masih terjadi di negeri kita. Kita jadi bangsa yang tak punya malu dan suka menutupi kenyataan yang kelam dengan idiom-idiom luhur. Seperti sebutan “pahlawan devisa” misalnya, kenyataanya kita hanya mengeksport tenaga tak terdidik untuk jadi babu dan tenaga kasar di negeri orang. Dan agama? Hanya seperti kepala singa yang diawetkan di ruang tamu utama. Tidak memberi ilham apapun.
            Untuk membentuk mental dan karakter bangsa ini yang lebih baik. Bagi saya, tidak ada jalan lain selain berpaling dari idiologi asing dan menoleh kedalam, kembali ke tradisi spiritual bansa sendiri. Spiritual yang membebaskan dari intimidasi aneka dogma, spiritual yang terbuka atas kebajikan/kebenaran yang datang dari manapun. Spiritual yang toleran, menghargai kejujuran dan proses individu-individu yang ingin menemukan dan jadi jati dirinya sendir-sendiri.
          Yang dibutuhkan saat ini, bukanlah agama atau nabi baru. Karena jika itu terjadi, sama saja hanya pengulangan sejarah, menggantikan dominasi lama dengan dominasi baru. Yang diperlukan saat ini adalah sebuah revolusi spiritual, revolusi kesadaran, revolusi yang mencerdasakan, revolusi tanpa darah. Dimana disana bergabung hasrat perubahan spiritual yang akan berdampak terjadinya perubahan social secara radikal, dengan keyakinan perlunya dimensi moral agar tidak terjatuh dalam totaliarnisme.
            Bahwasanya ada orang yang merespon secara negative atau menyangkal akan keberadaan Tuhan. Bagi saya itu juga urusan pribadi masing-masing. Saya tetap hormati mereka yang pilih jalan atheis, karena Tuhan memang tidak sekedar yang tertulis di kitab suci. Tuhan adalah suatu realita yang tak terjangkau oleh nalar (tidak ketemu nyari Tuhan pakai otak), suatu relasi misteri yang tak egoistic, memaksakan kehendak, harus dibela atau hanya milik satu golongan saja.
            Tuhan tidak hanya nongkrong diam di jazirah Arab sana. Tuhan juga ada di negeri kita ini, jadi ngapain harus minder dihadapan bangsa asing!
           
           
           

        

Rabu, 27 Maret 2013

HEDONISME DI SURGA





            “Kapitalisme itu sangat hedonistic!” kata teman saya yang semangat Islamnya menggebu. Karena menurutnya hedonisme  (mencari kenikmatan jasmani) itu sesuatu yang tidak baik. Sementara dipandangnya Amerika itu sebagai pusat kapitalisme. Maka teman saya itupun paling suka memaki, Amerika itu sebagai rajanya Iblis dunia.
            Etika protestan di Amerika itu memang kuat sekali dan etika itu yang mengembangkan kapitalisme. Bekerja keras, berhemat dan beramal itu sudah sama saja dengan beribadah.  Jadi kapitalisme sebagai sebuah system, sebenarnya tidak hedonistic. Tapi bahwasanya dalam kapitalisme itu bisa berkembang hedonisme, itu memang tidak bias dipungkiri.
            Tulis Daniel Bell, dalam  Cultural Contradictions of Capitalism. Hedonisme di Amerika baru terjadi pada tahun 1950-an keatas. Dengan maraknya usaha kredit dan cicilan yang sekarang juga mewabah di Negara kita. Puncak hedonism, justru terjadi pada saat gelombang anti kapitalisme di tahun 1960-an yang dipelopori oleh kaum hippies. Mereka itu anti etika protestan, anti kerja keras dan hidup berleha-leha dan menghisap ganja untuk mendapatkan apa yang disebut dengan spiritual achievement.
            Jadi hedonisme itu bisa tumbuh dimana saja, dalam sosialisme juga bisa. Di Kuba misalnya, beberapa tahun setelah Fidel Castro berkuasa, di negeri revolusioner itu ternyata para pejabatnya paling doyan mengendari mobil Alfa Romeo deluxe 1750. Dengan Rolex di tangan dan cerutu Upmann diantara jari, mereka berkotbah tentang pengorbanan kepada massa blab la bla………………….. Sementara beribu tahanan politik di penjara.
             Dalam dunia spiritual atau agama, hedonisme juga bisa tumbuh.  Dalam sejarah kita kenal raja Kertanegara dari kerajaaan Singasari yang penganut Tantrisme (yang merasa bisa lebih dekat pada Tuhan setrelah bernikmat-nikmat}. Doktrinnya; Kalau anda suka makan, jangan berpuasa!. Jusru sebaliknya anda harus makan sekenyang-kenyangnya, hinga anda sendiri tidak punya selera lagi untuk makan. Pada saat itu anda pasti akan bisa lebih khusuk dalam beribadah kepada Tuhan, karena apa yang menyenangkan di dunia sudah tidak ada lagi.
            Mungkinkah nabi Muhamad juga pengikut Tantrisme? Terbukti beliau sampai punya istri empat, belum di hitung yang di nikahi secara mut’ah ketika beliau berada di medan perang. Dikalangan mereka yang bisa mendapatkan segala sesuatunya dengan mudah, hingga zaman ini saya kira Tantrisme masih cukup banyak penganutnya, tak peduli apa agama orang itu. 
            Dan lebih gila lagi, ada orang yang rela melakukan aksi bom bunuh diri , dengan harapan agar bisa masuk surga dan memuaskan kenikmatan jasmani/ragawinya termasuk dengan mengawini para bidadari. Itu khan pemikiran yang sangat hedonisme sekali. Masak ajaran agama/spiritual ujung-ujungnya Cuma ke masalah syahwat?. Bukan hanya hedonis tapi juga egois, mau bernikmat-nikmat diatas penderitaan orang banyak.
            Kematian itu suatu hal yang pasti. Jadi bagiku, para pelaku bom bunuh diri itu bukan orang pemberani, tapi sebaliknya, pengecut!. Orang yang tidak berani menghadapi kenyataan di dunia, orang yang tidak bisa menerima dan mensyukuri segala karunia Tuhannya, lalu melarikan diri dalam hayalannya tentang kindahan surgawi. Saya tidak tahu, apakah para pelaku bom bunuh diri itu di Surga akan ngamuk-amuk atau bias menerima, jika ternyata orang-orang yang selama ini dia anggap kafir, sesat, bid”ah dan sebagainya, ternyata oleh Tuhan juga di masukkan surga.
            SURGA ITU MENYENANGKAN, TAPI BELUM TENTU MEMBAHAGIAKAN. KESENANGAN DALAM UJUD LAHIRIAH, DALAM BATHIN SERINGKALI JUSTRU JADI SIKSAAN.
            Pertanyaannya, Apakah kalau mati kita masih akan membawa raga kita?


Saya bukan orang yang anti Hedonisme. Kenikmatan itu macam-macam. Bisa tidur nyenyak itu nikmat, meditasi itu nikmat, bersetubuh dengan pasangan itu nikmat, menolong orang lain itu nikmat, makan daging babi di jalan Pacenongan itu nikmat hahaha………….. Semua kembali ke motivasi tiap-tiap individunya. Cuma yang mengkhawatirkan, saat ini banyak orang yang suka mengejar kenikmatan jasmani dengan kurang menghargai nilai-nilai dan norma-norma luhur yang ada. Hedonismepun menjelma menjadi keserakahan. Hingga untuk bisa memuaskan keserakahan jasmaninya, orang tidak segan-segan lagi melakukan korupsi, menipu, mencelakai bahkan membunuh sessamanya. Hedonisme memang bisa jadi berbahaya dan bersifat merusak, ketika yang dituju semata hanya kenikmatan. Seperti filsafat epikurianisme, kenikmatan itu by produk atau tujuan?

Minggu, 24 Maret 2013

CATATAN DARI DAERAH KONFLIK




            Ini catatan saya, ketika satu kapal dengan para pengungsi dari Ambon, yang menghindar dari konfflik berlatar belakang Sara, kesenjangan social, kecemburuan ekonomi dan perebutan kekuasaan yang terjadi disana. Sangat kompleks permasalahannya. Jadi hanya orang berkaca-mata kuda yang katakan, konflik di Ambon itu sebagai perang agama!.
            Saat itu saya berada di dek teratas dibagian buritan kapal. Tempat yang nyaman buat nongkrong memandangi luasnya lautan biru. Sebab disitu disediakan meja-kursi dan ada warung kecil yang menyediakan aneka minuman, makanan kecil ataupun mie rebus. Saat itu saya satu meja dan berkenalan dengan beberapa pengungsi dari Ambon. Mungkin karena factor trauma psikologis, mereka jadi sangat hati-hati sekali dalam berbicara dan yang dibicarakan juga hanya yang bersifat umum-umum saja.
            Suasana jadi sedikit tegang, ketika salah seorang pengusngsi disitu bertanya pada saya dengan nada dingin, “Apa sih sebenarnya agama anda itu?”
            Pada awalnya saya ragu untuk berterus-terang, tapi celakanya, saya ini bukan tipe orang yang pintar  menutupi suara hati. Jika hati saya bilang “A” ya mulut ngomong “A”. Jika hati bilang “B”, mulut juga ngomong “B”. Maka dengan terus –terang saya katakana, “Saya orang tidak punya agama!”
            “Anda orang atheis?”
            “Tidak. Saya memang bukan orang beragama, tapi saya percaya adanya Tuhan.”
            Suasana tegang yang sempat terciptapun seketika mencair, begitu orang yang menanyai saya itu langsung tersenyum begitu mendengar pengakuan saya. Bagiku, pandangan orang itu yang menganggap saya bukan sebagai musuh atau ancaman, itu sudah lebih dari cukup. Soal pandangan orang itu yang masih  menganggap  saya seperti alien atau mahkluk asing dari dunia antah-berantah, itu bukan masalah. Itu hanyalah masalah waktu saja. Saya sendiri sudah terbiasa, berhadapan dengan orang yang berpandangan, bahwa orang yang tak beragama itu sama saja atheis. Bahkan ada yang lebih ngawur lagi, ada yang memvonis, bahwa orang tidak beragama itu sama saja dengan PKI!.
            Sambil tersenyum getir si penanya saya itupun kemudian berujar, “Saya tidak tahu. Apa jadinya dunia ini, jika isinya hanya orang-orang tidak beragama seperti anda ini. Sedang ada agama dan orang-orangnya mengaku beragama saja, masih pada saling bunuh, bakar, siksa, rampok, perkosa, dan sebagainya!”
            “Seperti anda, saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.” Jawab saya. “Tapi satu hal yang saya tahu pasti, dalam hati anda sendiri sebenarnya meragukan keberadaan agama yang bisa membuat manusia jadi lebih baik.”
            “Maksud anda?”
            “Bukankah tadi anda katakan sendiri, orang punya agama saja masih pada saling bunuh, bakar, siksa, perkosa dan sebagainya?. Dan sekarang anda lihat, saya orang yang tidak punya agama ini. Bukannya bermaksud menyomnongkan diri, tapi alhamdulilah, syukur puji Tuhan. Sampai sekarang saya belum pernah melakukan tindakan kriminal. Apalagi sampai jadi pembunuh sesama manusia.
            Inilah kesalahan kita selama ini, yang suka menilai dan memandang seseorang itu bukan dari moralitas dan tingkah lakunya. Tapi lebih suka menilai dan memandang orang lain itu dari apa agamanya, sukunya, rasnya, orientasi sexsualnya, gendernya dan sebagainya. Orang lain jika dilihatnya tidak sama agamanya dengan kita, divonis salah, sesat, kafir dan harus ditaubatkan dari keyakinannya?  Pandangan seperti itu khan picik dan sempit sekali. Bagaimana kita akan bisa jadi bangsa yang besar, jika cakrawala pemikiran masyarakatnya sedemikian kerdilnya.”
 “Tapi saya tetap tak habis bisa mengerti, apa jadinya jika kehidupan ini hanya diisi oleh orang-orang tak punya aturan dan tak tahu agama seperti anda Ini”
            “Anda tentu tahu khan, siapa itu Sokrates, Plato atau Aristoteles? Jelas mereka bukan orang Yahudi, Hindu, budha, kristiani, ataupun Islam. Tapi mereka toh tahu dan bisa berkelakuan penuh keluhuran budi. Mereka juga bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk ataupun mana yang salah dan mana yang benar. Mereka juga bisa punya keteguhan hati untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan ditengah-tengah kesewenang-wenangan penguasa. Mereka juga bisa buktikan dalam hidup mereka meskipun tanpa agama, bahwa kwalitas hidup seseorang itu bukan diukur dari jabatan dan kekayaannya, melainkan dari konsistensinya untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
            Mereka orang yang belum terkontaminasi doktrin agama, dan sekarang anda lihat sendiri orang-orang yang katanya beragama itu moralital dan kelakuannya seperti apa???”
            “Tapi saya tetap berkeyakinan, orang itu akan lebih baik jika beragama daripada tidak!”
            “Saya hargai keyakinan anda itu dan yang terpenting harus bisa di buktikan. Tapi kalau boleh saya nanya, ‘Apa sih cirinya orang bisa disebut beragama itu?’ “  karena saya Tanya beberapa waktu orang itu hanya diam saja, akhirnya saya jawab sendiri pertanyaan saya itu. “Orang bisa disebut beragama karena punya dua hal yang mendasar, yaitu kitab suci dan nabi. Dan sekarang kita coba lihat kehidupan para nabi itu sendiri. Bukankah para nabi itu jadi nabi bagi dirinya sendiri? Dan kitab suci itu bukankah tercipta-susun setelah beberapa waktu nabi itu wafat? Dengan demikian bukankah bisa dikatakan, bahwa para nabi itu sendiri sebenarnya bukan orang-orang yang beragama? Karena tidak punya nabi dan kitab suci?
            Para nabi itu seperti saya khan, tidak beragama tapi percaya adanya Tuhan? Beragama itu tidak identik dengan berTuhan.  Dan bagi anda yang sudah ngaku beragama tapi masih suka rampok, siksa, bakar, bunuh dan perkosa sesamanya. Itu artinya anda baru beragama tapi belum berTuhan. Dan sekarang terserah anda mau pilih mana. Mau pilih Tuhan yang abadi atau pilih agama yang bisa di tafsir belok-belokkan sesuka hati itu”
            “Anda tak punya nabi dan kitab suci, tapi paling tidak anda khan punyalah guru, pembimbing, panutan atau apalah sebutannya.”
            “Pengalaman adalah guru yang terbaik, kata orang bijak. Jadi kemanapun saya melangkah, sebenarnya saya tengah bertemu dengan guru saya. Termasuk ketika saya bertemu anda kali ini, sebenarnya saya juga tengah bertemu dengan guru saya. Karena jujur saya harus akui, pertemuan kita kali ini memang memberi banyak sekali pelajaran dan inspirasi buat saya. Dan saya trmasuk tipe murid yang sangat hormat pada para gurunya hahaha………………“
            Pembicaraan kamipun terus berlanjut. Diskusi kamipun terus mengalir dafri topic yang satu ke topic yang lain. Bahkan beberapa pemuda disitu menanyakan, tentang bagaimana cewek-cewek di Jawa? Hahaha…………….. Pembicaraan yang hangat, penuh canda-tawa dan penuh keakrapan seolah seperti perjumpaan sahabat lama saja. Dan satu hal yang membuat hati saya sangat bahagia, ketika saya menatap mereka yang tadinya dingin seolah menyembunyikan dendam, curiga, derita dan amarah. Kini tidak ada lagi kesan itu. Yang ada hanya sorot mata yang berbinar-binar jernih. Dan saat itu saya hanya bisa berdoa’a, semoga sorot mata yang indah itu tetap seperti itu selamanya.
            Pengalaman adalah guru yang terbaik? Jadi betapa tololnya kita-kita ini jika tidak bisa mengambil hikmah/pelajaran dari kejadian nyata yang sungguh sangat mahal sekali harganya itu. Pelajaran yang tidak hanya harus ditebus dengan pengorbanan harta-benda, tapi juga harus mengorbankan banyak nyawa saudara-saudara kita sendiri.
            Perjuangan menegakkan keadilan dan perdamaian itu memang terbatas oleh ruang dan waktu. Kita memang tidak bisa melawan kodrat alam sebagai mahkluk yang terbatas. Tapi itu bukan alas an kita untuk menyerah dan berhenti mengusahakan nilai-nilai universal, seperti halnya perdamaian. Justru keterbatasan itu yang menyadarkan kita, untuk bersedia ditegur, mengerti rasa malu, takut berbuat dosa dan selalu bersikap kritis agar tidak terbelokkan oleh dunia yang terus berubah ini.
            Pengalaman eksistensial mengenai keterbatasan diri dan dunianya, sekaligus memendam kerinduan untuk bisa menggapai perdamaian dan kebahagiaan yang hakiki. Cepat atau lambat, saya percaya itu akan mengantar siapapun orangnya pada kesadaran akan keberadaan Tuhan YME. Dialah sang penjamin kebahagian dan arah perjuangan hidup manusia.
            SEMAKIN JAUH AKU MENGEMBARA, SEMAKIN TERANG-BENDERANG TANAH MUASAL