Senin, 02 Desember 2013

JALAN KEDAMAIAN



Kau hendak mengenal Allah? Maka janganlah kau jadi pemecah persoalan. Seyogyanya kau pandangi dahulu sekelilingmu, disitu kau khan lihat Tuhan yang tengah bermain dengan anak-anakmu (Khalil Gibran).
Kesukaan saya mengeelandang, membuat beberapa orang suka mengatai saya sebagai orang agak sinting. dan saya hanya tertawa. Saya selalu tanggapi dengan enteng-enteng saja, ketika ada yang mengatai saya gila, kafir, bid’ah, musryik, abangan, penganut ini-itu dan sebagainya. Saat ini banyak orang menilai sebuah identitas terlalu tinggi dan cenderung berlebihan. Dan hal itulah yang sering jadi akar kesalah-pahaman, perselisihan, permusuhan, pertengkaran bahkan bunuh-bunuhan.
Ketika menggelandang itu saya tanggalkan semua identitas dan belajar bisa melihat jauh melampoi identitas., Yakni kesamaan yang kita miliki dalam hidup. Jadi niat saya menggelandang itu sebenarnya sederhana saja; Hanya ingin belajar jadi manusia biasa!. Belajar jujur, belajar membuang topeng kepalsuan diri, belajar meluluhkan kebencian, keserakahan dan hasrat benar  sendiri. Saya buang jauh-jauh segala  ajaran isi kitab suci dan filsafat yang tinggi-tinggi. Tak ada jargon apalagi teriakkan tentang spiritual. Tak ada negoisasi, basa-basi, bahkan juga konsep tentang Tuhan.
Saya menggelandang seperti kertas kosong dan itu rasanya seperti meletakkan segala beban. Sangat nyaman. Itulah yang membuat saya selalu suka mengulang untuk menggelandang, yang awal dan akhirnya selalu terserah pada suara hati.
 Sesederhana apapun, persentuhan langsung dengan kenyataan hidup itu jauh lebih menyentuh, menggetarkan dan membekas di jiwa, daripada cuma  dapat pengalaman dari nonton, dengar atau baca cerita se fantastic film Narnia sekalipun.
Seperti ketika saya menggelandang di daerah pantura, saya pernah dibeliin kopi manis oleh seorang PSK. Dan tahukah anda, siapa yang mengantar perempuan itu ke pangkalan/warung remang-remang?. Suaminya sendiri!. Dan saya lihat, suaminya itu yang masih sempat sholat subuh di surau kecil disekitar situ, sebelum akhirnya membawa pulang istrinya..
 Sungguh menakjubkan. Dalam kemuraman dan himpitan hidup yang mencekik, mereka tetap ingin berbuat baik. Tetap beriman. Dan pada saat yang sama mungkin juga bertanya. Sebuah alegori tentang nasib nestapa sekaligus kedahsyatan manusia yang tak putus-putusnya percaya dan tak henti-hentinya di rundung bimbang. Bukankah semua orang pernah mengalami hal seperti itu?. Bahkan nabipun bukankah juga mengalami proses yang seperti itu?.
Disini saya tidak ingin menghakimi, apalagi kotbah soal agama dan moralitas. Dari orang-orang sederhana itu justru saya belajar untuk bisa menerima dan mema’afkan kenyataan pahit, pedih yang sangat mengiris perasaan itu. Menyaksikan penderitaan orang lain itu bisa mengasah kemanusiaan kita agar tidak suka untuk membuat menderita orang lain. Itulah bagian proses yang harus dilalui, agar bias memasuki jiwa yang lebih tenang untuk menjalani ziarah diri. Dan dalam hati yang jenjam damai dalam keheningan itu. Kita akan bisa melihat diri kita sendir lengkap.. Sampai disitu, pengalaman apapun (termauk yang negative/jelek-jelek} akan tetap berarti bagi kehidupan spiritual kita. Dalam bahasanya kaum sufi, kemanapun kau memandang yang kau lihat hanyalah perwujudtan dari Allah semata. Pada daun, pada ombak, pada embun, pada detak nadi ataupun pada anak-anak yang tengah bermain-main.
Dan saya dapati peljaran hidup itu bukan dari ahli kitab, tapi hanya dari seorang suku Bajo (suku laut) yang buta huruf tapi pintar membaca bintang-gemintang. Di negerri ini banyak pulau-pulau yang tidak berpenghuni. Tapi ada beberapa kelompok suku Bajo yang mengumpulkan karang untuk membuat pulau dan kemudian mendirikan tempat tinggal disitu. Gila ngak tuh?Tapi mereka lakukan itu dengan suka-rela, iklas dan merasa nyaman dengan jalan hidup seperti itu.
“Kenapa tidak tinggal didarat sekalian saja?” Tanya saya suatu kali yang langsung di jawab dengan Tanya, “Emang di darat ada ikan?”
Bagi suku Bajo, laut itu seperti kulkas raksasa. Dan dari suku Bajo itu , saya jadi punya jawaban ketika ada orang yang menanyai saya, “ Kenapa kamu tidak beragama?” jawab sayapun dalam Tanya, “Emang di agama ada Tuhan?”
Kitab suci dalam agama itu tempat kumpulannya friman-firman Tuhan. Jadi jelas itu bukan Tuhan. Firman Tuhan dalam kitab suci itu juga masih butuh interprestasi dan menjadi berarti karena di interprestasi. Jadi silahkah saja orang beragama percaya kitab suci itu bersifat muntlak, universal dan tidak terbatas. Cuma satu hal yang harus diingat, bahwa otak yang menginterpreatasi itu sifatnya terbatas!.
 Salah besar jika dikata firman Tuhan hanya ada di kitab suci. Sesungguhnya Allah itu menyapa kita tiap waktu tiap detik. Meskipun tidak kenal agama. Seorang suku Bajo teman saya itu, bagi saya bukti kongkret dari orang yang telah bisa menyaksikan ke mahakehadiran Tuhan dalam keseharian hidupnya. Manusia yang karena kerendahan dan ketulusan hatinya, akhirnya dikaruniai Tuhan kemampuan untuk menangkap cahaya welas asih dari kebaikan dan kebersahajaan alam, untuk kemudian dipancarkan lagi dalam keseharian hidupnya dengan penuh kesadaran tanpa banyak kata.
Hidupnya yang selaras mematuhi hukum semesta, membuatnya bisa menjalani hidup dengan penuh rasa syukur, terima-kasih dan penuh penghormatan dan cinta pada Alam. Meskipun tidak pernah diungkapkan dalam kata-kata, tapi sedikitpun saya tidak pernah meragukan, rasa cinta dan penghormatannya pada sesama manusia maupun pada sang maha penciptanya, sama besarnya dengan rasa cinta dan penghormatannya pada alam semesta. Bahkan gembel seperti saya yang tidak jelas asal-usul dan agamanya, yang datang ke tempatnyapun juga di terima dengan tangan-terbuka dan di kasih makan.
Tuhan samasekali tidak butuh puja-puji, Manusia yang butuh semua itu. Tuhan juga tidak butuh pengakuan, apalagi harus dibela segala. Jadi jika kita bias menghormati dan mencintai segala ciptaanNya, berarti kita juga sudah menghormati dan mencintai Dia yang menciptakan. Spiritual yang sangat sederhan sekaligus kongkrit.
Yang terjadi sekarng khan sebaliknya! Orang memuja Tuhan tapi tanpa penghormatan pada alam dan sesama. Orang berkonsep/teori tentang Tuhan yang seperti ini-itu, tapi kenal dan tahu Tuhan itu seperti apa dan alamatnya dimana saja tidak tahu. Orang pintar-pintaran jadi penghapal kitab suci, hingga lupa dan tak kenal dirinya sendiri lagi. Bahkan belajar jadi manusia tidak mau. Akhirnya ya hanya paradok dan kemunifikan adanya. Tak ada satunya antara yang di mulut dan perbuatannya. Mulutnmya teriak Tuhan maha pengasih dan penyayang, tapi kelakuaanya bengis dan kecam. Mulut berdoa percaya akan ke mahakuasaan tuhan,  tapi dalam prakteknya lebih percaya Uanglah yang maha kuasa. Dan kitab sucipun tak segan di korupsi, demi ritual pemujaan pada sang uang yang maha kuasa. Percaya Tuhan maha mendengar, kok ibadah saja masih harus teriak-teriak pakai pengeras suara?.
Beriman seperti itu, tidak ada bedanya dengan berguru pada mbah Google, tinggal klik segala tanyapun terjawab. Beriman seperti itu memang tidak menderita, tetapi betapa dangkalnya. Beriman seperti itu hanya akan membentuk manusia, seperti yang ditulis Mangkunegoro IV, dalam kiabnya Wedatama,: Pongahnya orang yang pintar berteori, tapi tidak paham, bahwa  NGELMU IKU KELAKONE KANTI LAKU!.
Siapa yang ingin mengenal yang Maha Esa, harus berani belajar bertualang sendirian menziarahin diri. Siapa yang tidak mencicipi tidak akan mengetahui. Banyak momen dalam hidup ini dimana kita akan langsung tahu, percaya dan mengerti. Beitupun penghayatan akan kemahadiran Tuhan, akan terasa lebih indah dan benarnya, jika kita mau terjun langsung dalam praktek (laku) pengenalan akan haqiqat kesejatian Tuhan. Dan persentuhan dengan apa yang dalam literature sufi Jawa di sebut KASUNYATAN (sejatinya realita/tuhan) memang sesuatu yang lebih menyentuh jiwa  daripada sekedar kehebatan menghapal ucapan para nabi. Penghayatan akan kemahadiran Tuhan, itu jauh lebih indah dan benarnya daripada meyakini konsep tentang Tuhan cuma dari hasil konklusi debat atau cuma dari baca kitab suci belaka.
Rahayu, rahayu, rahayu.

Senin, 23 September 2013

KISAH HILANGNYA KITAB SUCI




 Bermodal suaranya yang merdu dan kepintarannya membaca kitab suci, Itu telah cukup membuat Bahlul jadi selebritas yang berkecukupan baik secara materi maupun non materi. Dalam acara apapun dia selalu diundang untuk mengalunkan ayat-ayat suci, sebagai formalitas bahwa itu acara yang religius. Tak peduli pendengarnya yang tak paham dengan apa yang di bacanya, tak peduli orang bosan dan terkantuk-kantuk mendengar apa yang dilantunkan .
Alkisah, suatu hari Bahlul kehilangan kitab sucinya. Diapun tak mau lagi menghadiri undangan-undangan yang ditujukan padanya. Pikirnya, Apa yang bisa aku lakukan disana tanpa kitab suci itu. Karena hanya membaca itu yang aku bisa lakukan dan disitu pula letak harga diri dan eksistensiku.”
Ketika dunia terasa kiamat karena tidak ada kitab sucinya itu, seorang gelandanganpun memberi advis pada Bahlul, begini. “Tuan sudah jadi orang terkenal dan kaya-raya, hanya karena pintar membaca kitab suci. Banyak orang berduyun-duyun rela bersedekah dan menyumbang uang, agar bisa mendengar alunan ayat-ayat suci dari mulut tuan. Jadi bagaimana, kalau selama kitab suci tuan itu belum diketemukan, tuan gantikan acara pembacaan kitab suci itu dengan acara pembagian sedekah?. Tuan sisihkan sebagian kelebihan kekayaan tuan itu untuk mereka para fakir-miskin yang membutuhkan.”
Bahlulpun setuju. Dan luar-biasa, Bahlulpun mendapat pujian yang luas karena sifat dermawannya itu. Dan masyarakat banyakpun langsung menggelar doa bersama untuk Bahlul, yang intinya: SEMOGA SI BAHLUL TIDAK AKAN PERNAH MENEMUKAN KITAB SUCINYA LAGI!!!!!

Sabtu, 03 Agustus 2013

BANYAK JALAN MENUJU RUMAH ALLAH


Alkisah. Ada seorang pelacur yang bersimpangan jalan dengan seorang biarawati. Dan sang nabipun diminta pendapatnya tentang dua perempuan itu. Maka sang nabipun (Khalil Gibran) berfatwa;  Seseungguhnya kedua perempuan itu sama-sama sedang berjalan menuju rumah Allah. Hanya bedanya, yang satu berjalan dengan do”a. Sementara yang satunya lagi berjalan dengan air-mata.
             Spiritual itu tidak hitam-putih, tapi penuh warna, dinamis dan mesti bisa menyelam hingga di kedalaman jiwa. Tapi sayang, kebanyakan orang saat ini lebih suka berpandangan hitam-putih. Contoh, ketika terjadi konflik Syi’ah di Sampang Madura. Ada seorang tokoh masyarakat yang memberi advis begini; Jalan terbaiknya ialah bagi para penganut Syi’ah (yang dianggap sesat) itu beralih menjadi orang Suni.
Penyelesaian secara dangkal tanpa melihat-menghargai sejarah panjang orang tersebut hingga menjadi penganut Syi’ah. Dan penyelesaian secara instan seperti itu memang punya sejarah yang panjang. Beribu tahun yang lalu, para paus dan ulama juga suka mengajarkan dan melakukan hal seperti itu; Pindah agama, tinggalkan ajaran sesat dan bagi kau terbukalah pintu Surga?.
            Ketika agama hanya berhenti pada hukum dan tingkah-laku (fiqih dan syari’at), dan melupakan compassion dan tumpul rasa terhadap sekitar.  Saat itu sebenarnya telah terjadi penyempitan dalam bergagama. Karena kesempitan pandangannya itu, orang tidak jadi rendah hati (pintar secara spiritual) tapi justru jadi rendah diri. Dan untuk menutupi akan kerendahan dirinya itu, orang memang jadi suka berlebihan lagak, sombong, sok suci, sewenang-wenang dan suka memuja hal-hal yang bersifat gebyar lahiriah belaka.
 Contoh, masjid sultan Hasan di Kairo yang sering disebut sebagai teladan arsitektur Islam yang monumental. Tahukah anda, jika masjid itu didirikan justru ketika pemikiran dan peradapan Islam di titik terendah dan statis. Dengan kata lain, masjid itu didirikan hanya untuk lambang kekuasaan dan kewibawan sultan dan pemerintahannya saja. Masjid yang menghimpun banyak dana, yang memungkinkan terjadinya skandal korupsi. Masjid tempat bertemunya para pemebesar agama dan pembesar negeri, pertemuan yang bisa mulia-bisa tidak. Sementara diluar mesjid berjubel orang hidup miskin dan papa.
Contoh lain, jika anda mengikuti prosesi perjamuan kudus di gereja-gereja besar. Disitu anda akan bisa melihat piala-piala besar berukir terbuat dari emas. Benarkah menurut anda para elite agama itu dalam menduplikat piala/gelas Yesus?. Saya rasa seratus prosen salah!. Meskipun nabi, Yesus itu hanya anak tukang kayu, jadi adalah suatu hal yang tak masuk akal jika beliau ini minum dari gelas yang terbuat dari emas!.
Nah, jika para elite agama saja ternyata juga bisa berlaku salah dan bodoh, jadi hak apa mereka mengambil alih posisi Tuhan dengan menghakimi orang lain itu sebagai penganut ajaran sesat, bid’ah, kafir,  mussyrik, pendosa dan sebagainya. Pernah, bisa dan beranikah mereka menghakimi dirinya sendiri (intropeksi) yang sering meras unggul tanpa dasar, yang suka membuat kekacoan dimana-mana, suka jumawa meremehkan orang lain yang tidak sepaham-segolongan?.
Terlalu banyak tipu-daya  dalam penampilan gebyar lahiriah itu. Saya jadi kwatir, jika nanti ada orang iseng-iseng ngasih jubah dan kopiah pada seekor anjing, orang banyapun akan lantas berebutan menyalami dan menciumi itu kaki anjing. Moga saja tidak ada orang yang iseng seperti itu. Tapi bahwasannya gejala seperti itu sudah ada, itu jelas tidak bisa kita nafikan. Saat ini banyak orang berjubah-kopiah yang gualaknya bahkan melebihi anjing. Sukanya teriak-menyalak kesetanan, dengan pentungan di tangan mengamuk dan menghajar siapapun yang dianggap tidak sejalan-sebangsa dengan dirinya. Manusia macam itu khan tidak ada bedanya dengan anjing yang berkopiah dan berjubah? Pakainnnya tidak mencerminkan kepribadiannya!.
Spiritual adalah bagian intergal dari laku hidup keseharian kita. Nukan untuk pameran, gagah-gagaha, nyari pengakuan, apalagi untuk menakuti-mengancam orang lain. Spiritual itu mendidik orang untuk berani dan bisa berlaku jujur. Jujur, kalau memang belum kenal sejatinya Allah dan belum juga jadi orang suci,  ya tak perlu berlagak lagu sok suci. Kalau anda memang sukanya pakai blue jeans dan T-shirt, ya pakai saja blue jeans dan T-shirt. Itu sedikitpun tidak akan mengurangi nilai spiritual anda!.
 Spiritual itu proses pertemuan (sering pahit-dan pedih) dengan diri sendiri. Ketika kita kehilangan orang yang kita sayangi, ketika kita merasa kehilangan harapan, ketika kesunyian dan kesendirian terasa menyayat hati, ketika kita bertanya kesejatian diri, asal-muasal kita dan sebagainya. Semua itu adalah proses yang semua insan pasti akan mengalaminya, termasuk mereka yang mengaku sebagai orang atheis sekalipun.
Jadi betapa sombong dan butanya mata hati kita, jika menunjuk dengan nada menghina dan menghakimi seorang pelacur sekalipun sebagai seorang pendosa yang sesat jalan. Sementara kita tidak tahu sejarah panjang orang itu hingga menjadi pelacur, sementara kita tidak tahu japa suara jerit batinnya yang terdalam ketika melacur. Jadi hak apa kita menghakimi orang lain itu jahat, sementara kita tidak bisa berlaku adil, selain bisa elihat sisi buruknya, kita juga harus bisa melihat sisi baiknya.
Semua orang punya sisi baik dan sisi buruk. Bukankah ada beberapa orang ustad yang dipenjara gara-gara menghimpun dana umat dalam bentuk investasi bodong?. Bukankah pernah ada anggota dewan yang katanya terhormat,  ketika sidang (dibiyayai uang rakyat) bukannya mikiran rakyat malah asik buka situs bokep? Lihatlah para koruptor itu, tidakkah mereka itu orang-orang cerdas berpendidikan tinggi yang mestinya tahu mana yang benar dan salah?. Lihatlah para pembantai sesama manusia, tidakkah banyak diantara mereka mengaku sebagai orang-orang suci pengikut jalan Allah?.
U

Minggu, 30 Juni 2013

REVITALISASI SPIRITUAL NUSANTARA



              Di tempat saya pernah tumbuh cukup pesat ajaran kebatinan. Beberapa tahun kemudian saya merantau, dan ketika pulang kampung lagi, ternyata ajaran itu telah habis pemeluknya. Dari situlah saya jadi bertanya-tanya, “Kenapa ajaran yang mendidik kita menjadi insan yang berbudi pekerti luhur (budi-pada hati, untuk membentuk pekerti-pada lahir) bisa sedemikian cepatnya kehilangan pemeluknya. Kenapa ajaran spiritual nusantara ini, kini bisa menjadi seperti orang asing di negerinya sendiri?. Padahal ini ajaran bisa jadi pondasi dalam pembentukan karakter dan mental  seseorang. Lebih luasnya lagi bisa jadi jati-diri kita dalam berbangsa.”
            Ajaran kebatinan sebenarnya sudah ada jauh sebelum agama-agama formal-terorganisis terbentuk. Ketika manusia menyadari, bahwa didirinya terdiri dari raga dan jiwa (batin), Saat itu orang sudah menjadi seorang kebatinan. Kebatinan berasal dari bahasa Arab, asal katanya adalah bathin (dengan huruf Bhaa & Thaa & Nun). Bathin adalah lawan kata dari zhahir, yang dalam lidah kita menjadi lahir dan batin.
             Jadi zaman animisme-dinamisme itupun ajaran kebatinan sudah tumbuh, yang membuahkan beberapa kearifan local. Ketika agama-agama mengekspansi negeri ini, mereka juga masih bicara soal kebatinan, tapi cenderung lebih kuat dalam mengibarkan bendera formalitas dogma agamanya. Dalam Islam khususnya, mungkin hanya mereka yang mngajarkan ilmu tasawuf yang masih mengajarkan kebatinan (pencarian haqiqat kesejatian diri) secara mendalam. Dengan tokohnya  yang terkenal bernama Al-Hallag, yang wafat secara  tragis oleh orang-orang Islam sendiri. Di kita ada Syeh Siti Jenar, yang jika ditarik benang merahnya, sadar atau tidak ada hubungannya dengan ajaran Neo Platonisme!.
             Jadi baik secara intelektual ataupun spiritual, kita ini sesungguhnya bangsa yang cerdas. Sejak zaman animisme, dengan kecerdasan alamiahnya mereka membangun tradisi lisan, bahasa, dongeng, nyanyian, upacara-upacara dan sebagainya. Yang kesemuanya itu sekarang sering dianggap sebagai kebudayaan liar yang selalu ingin meletup tapi tertekan dibawah  ajaran agama yang resmi dan adikuasa?. Ketika kebudayaan lisan dihadapakan pada kebudayaan tulisan (teks agama), kebudayaan lisan kesannya memang menjadi seperti pengotoran.
            Dari sinilah saya bisa menarik empat kesimpulan yang menyebabkan ajaran kebatinan itu bisa cepat kehilangan pemeluknya:
            1. Kurang komunikatif.
            2. Masih kuatnya budaya lisan
            3. Masih kuatnya budaya feodal dan paternalisik (ketokohan)
            4.  Masih lemahnya dalam struktur berorganisasi
            Jadi melorotnya penganut ajaran kebatinan saat ini, bukan karena salah atau tidak berkualitasnya itu ajaran. Tapi karena cara penyampaiannya yang kurang komunikatif. Masih terlalu banyak menggunakan medium-medium lama seperti tembang, wejangan, kiasan, dongeng dan sebagainya. Itu tidak salah. Tapi ketika hal itu diaplikasikan pada generasi digital saat ini, jelas teramat sulit untuk bisa nyambung.
            Ikatlah ilmu dengan menulisnya, kata orang bijak. Dan ajaran kebatinan pada umumnya memang menjadi ajaran lisan. Dan  budaya lisan itu memang rapuh, gampang bias, kabur dan hilang. Budaya tulis jelas lebih kuat bertahan dan bisa diakses oleh siapapun lebih akurat, lengkap dan utuh.
            Orang sering katakan, bahwa ajaran kebatinan itu sudah kuno dan ketinggalan zaman. Bagi saya tidak! Yang ketinggalan zaman itu budayanya yang pernah menyertai, yaitu budaya feodal dan paternalistic. Jadi jika kita berani ganti gaya/ganti budaya yang lebih demokratis, dialogis, kritis dan egaliter, maka kita akan tetap bisa melihat ruh/inti ajaran kebatinan yang sebenarnya universal dan lintas zaman.
             Dalam ajaran ilmu Kejawen, ada istilah ilmu kanoman (muda) dan ilmu kasepuhan (Tua). Yang masuk ilmu kanoman itu sebangsa ilmu kanuragan-jaya kawijayan, seperti kebal bacok, bisa meramal, bisa mengobati, bisa melihat mahkluk-mahkluk ghoib dan sebagainya. Sementara yang masuk ilmu kasepuhan itu yang berhungan dengan masalah ketuhanan, moralitas, kesucian jiwa, kebijaksanaan, pencarian haqiqat kesejatian diri dan sebagainya.       
            Jadi memang tidak sepenuhnya salah, opini yang terbentuk selama ini yang mengatakan ajaran kejawen itu tidak lebih daripada ilmu kanuragan dan keparanormalan belaka. Karena memang ada sejarahnya. Dan celakanya, sel;ama ini yang banyak diekspos memang hal-hal yang bersifat ilmu kanoman yang aneh-aneh seperti itu. Sementara ilmu kasepuhannya yang mendidik manusia menjadi insan yang berbudi pekerti luhur, hampir seperti terlupakan. Padahal dalam ilmu kasepuhan itu haqiqat dan martabat hidup manusia sesungguhnya terkandung. Banyak nilai luhur budaya bangsa yang terlahir dari ilmu kasepuhan. Banyak karya satra yang indah dan sangat dalam mengungkap haqiqat hidup dan kehidupan, karena didasari para penulisnya yang mendalami ilmu kasepuhan.
             Celakanya, para pelaku ilmu kasepuhan itu pada umumnya orang-orang yang tidak suka banyak omong. Diam itu emas?. Sementara di zaman ini yang saya saksikan, ketika kebenaran telah digantikan diam, kejujuranpun akan semakin kabur dan sulit untuk bisa kita temui. Karena itu saya pilih bicara dan menulis. Manusia harus pakai akalnya dan tidak hanya menghujamkan segalanya pada Tuhan jika menemui masalah social di dunia. Jadi bagaimana membuat iman kita pada Tuhan itu berariti dan apa relevansi iman itu bagi masalah yang sedang kita hadapi.
            Kecerdasan adalah karunia Tuhan. Jadi tidak ada salahnya kita pergunakan karunia itu untuk mengatasi permasalahan yang sedang kita hadapi. Selama kita tidak mengagung-agungkan/menuhankan intelektual/rasionalitas. Di zamannya, lewat ilmu kanoman/kanuragan para spiritualis menarik umat untuk mau mendalami ilmu kasepuhan. Dan di zaman ini, lewat ilmu kanoman baru/intelektual, kita bisa memperkenalkan ilmu kasepuhan. Sekaligus mengupas permaslahannya, kenapa ajaran spiritual nusantara ini kini bisa seperti orang asing di negerinya sendiri.
            Dan lewat refleksi dan pengetahuan itu, saya bisa melihat lemahnya budaya paternalistic-feodalisme. Ketika hadir tokoh yang cerdas, berani dan berwibawa, ajaran kebatinanpun dengan cepatnnya banyak pemeluknya. Tapi begitu sang tokoh figu panutan wafat, habis juga itu para pemeluknya. Tidak ada regenerasi.
             Dalam budaya feodal-paternalistik, yang ada adalah monolog, komunikasi satu arah atau semacam kotbah. Dan generasi zaman ini, sudah muak dan bosan dengar kotbah iman dan kepercayaan yang berbusa-busa, namun dalam penghayatan dan realita kongkretnya menandai dunia yang makin materialistic.
             “Perbuatan lahir yang disertai dengan senantiasa mendengarkan suara batin, dalam tindakannya tentu serba jujur dan suci. Penuh dengan perikemanusiaan dan lepas dari kepentingan bagi diri sendiri. Bila kebatinan tidak disertai dengan tindakan kelahiran, akan menelesipkan arti kebatinan itu sendiri. Dan bila demikian, patutlah kita ini hanya mendapat sebutan tukang suwuk, tukang dzikir dan tukang duduk ongkang-ongkang”. (wejangan bapak Sukeno dari Madiun).
             Jadi ilmu kebatinan, pada ujungnya harus ada pengaruhnya dalam masyarakat. Kalau zaman dulu, orang mempelajari ilmu kebatinan dengan memutus hubungan dengan masyarakat banyak dengan jalan bertapa di gua, gunung atau tepi pantai. Zaman sekarang sebaliknya, orang bisa dan harus mendalami ilmu kebatinan dengan bertapa di hiruk-pikuk keramaian masyarakat. Jika bertapa di tempat-tempat keramat/sepi, paling yang ganggu Cuma mahkluk-mahkluk halus, kalau bertapa di di keramaian kehidupan masyarakat, pengganggunya lebih riil dan komplek, bisa tidak kita tidak korupsi, selingkuh, mencuri, menyakiti sesama, pemarahan, dan sebagainya. Disitulah kematangan spiritual kita diuji.
             Ilmu kebatinan itu seperti air yang mengalir, tidak bisa dihentikan dalam bentuk dogma. Tidak bisa pula di formal-organisir. Tapi dalam hubungan  manusia dengan manusianya, suka atau tidak suka, organisasi sangat diperlukan oleh para pelaku ilmu kebatinan.
            Ada kisah nyata, seorang pelaku ilmu kebatinan yang wafat. Karena tidak jelas apa agama orang ini, jasad orang inipun jadi terkantung-katung tidak tahu harus dimakamkan dengan prosesi pemakaman seperti apa. Suasana duka itupun berubah menjadi acara perguncingan berkepanjangan yang mempermalukan keluarga yang ditinggalkan. JIka ada organisasi yang menaunginya, tentu hal seperti itu tak perlu harus terjadi. Akhirnya orang-orang kampung itupun tidak ada lagi yang berani mengaku dirinya sebagai orang kebatinan. Untuk menjaga kelangsungan hidupnya, mereka gunakan caranya sendiri. Beradaptasi tanpa kehilangan jati-dirinya. Secara formalitas mereka mengaku sebagai orang beragama, tapi dalam harian hidupnya tidak menjalankan syari’at agama. Dalam praktek hidupnya justru lebih mendekati laku hidup seorang kebatinan. Orang-orang yang dalam rumusan Clifford Geertz, kemudian digolongkan dalam istilahnyasebagai kaum abangan.
             Etika marginal kaum abangan itu juga memiliki keindahanya sendiri dan keabsahan yang tidak dapat ditolak oleh siappun, kecuali agamawan berpandangan sempit yang tidak bisa menerima selain kebenaran muntlak dari agama yang dipeluknya. Bagi kaum abangan, agama hanyalah salah satu alat untuk menuju Tuhan, bukan jadi tujuan hidup. Pencarian dan pengenalan akan kesejatian Tuhanlah yang terpenting bagi orang beriman. Bukan penguasaan atau penganutan agama secara sempurna. Jadi beragama dengan sekenanya atau sebisanya juga tidak apa-apa. Itu sama sekali tidak mengurangi sedikitpun keabsahan spiritual mereka. Dari dahulu juga sudah ada elite dan orang awam dalam segala bidang, termasuk dalam kehidupan beragama.
             Dan bagi para spiritualis, yang terrpenting bukan jadi elite atau orang awam. Yang terpenting adalah bagaimana kelakuan kita sehari-hari itu.  Buat apa menjadi orang elite yang yang jago kotbah dan hapal isi kitab suci agama, kalau dibalik jubah kesuciannya itu menyembunyikan jiwa  penjahat-bengis yang yang tega memperkosa hak-hak orang lain, yang tidk malu menjarah-rayah uang rakyat, yang suka menganggap diri dan golongannya lah yang paling benar, suci dan sempurna sendiri. Padahal sebagai orang yang beriman, mestinya sadar, bahwa hanya Tuhanlah yang maha segala-galanya itu.
             Melihat gejala zaman ini, saya rasa saat ini sudah banyak orang yang mati rasa batinnya, sudah beku-keras membatu jiwanya. Rasa kemanusiaanya telah tumpul, dan menurut saya, itu justru menjadi moment bangkitnya spiritual nusantara yang sudah sekian lama terpendam/terlupakan.
            Bersatulah maka kita akan kuat. Buat oragnisasi yang jadi tempat berkumpul/koalisi yang besar dan bersih sebagai tempat untuk saling asah, asih dan asuh. Tempat untuk sama-sama menghadapi tantangan zaman yang kini sedemikian kompleknya. Sekaligus jadi rumah  tempat berlindung bagi sipapun yang membutuhkannya. 
            Saya tahu, banyak paguyuban/perkumpulan kebatinan di Indonesia. Sayangnya kebanyakan dari mereka juga sudah terjangkiti penyakit yang biasa menghinggapi orang beragama, yaitu fanatik, tertutup dan suka merasa benar-sempurna sendiri. Dan itu penyakit yang bikin ajaran kebatinan tidak bisa besar dan bersatu.
                 Jika kita ingin besar, kita harus lebih dulu punya kebesaran jiwa yang sanggup mendengar argumen lain yang tak sejalan dengan kita.Jika kita ingin hadir dalam tataran wawasan Nusantara, kita juga harus lebih dulu bisa bebas dari ikatan primordial. Nonsektarian. Kita harus bisa menanggalkan egoisme bendera golongan/kelompok. Jadi aspirasinya universalisme bukan partikularisme. Komitmen kita pada nilai, bukan pada golongan. Komitmen kita pada isi, bukan pada kotak luarnya {agama, etnis, golongan, partai politik dan sebagainya}. Karena pengabdian kita bukan pada raga, tapi pada roh/batin. Karena itu disebut kebatinan. Kebatinan yang berwawasan global. Kebatinan/spiritual yang membebaskan!.