Selasa, 09 Oktober 2012

BERIMAN DENGAN SANTAI

  • Temanku dengan bangganya mengaku sebagai seorang atheis. Tiap hari dia menghujat-maki Allah. Katanya, Tuhan itu tidak ada, Tuhan itu buta, tuli, goblok, kerdil, banci, tidak adil dan sebagainya. Bapaknya yang tahu itu, jadi malu dan marah besar. Temankupun diusir dari rumah dan tinggal di pondokku.
                Aku juga punya seorang teman yang berprofesi sebagai pelukis. Pada beliau ini aku banyak menimba ilmu seni maupun spiritual, tapi beliau tak pernah mau kupanggil guru, alasannya, “Seni dan spiritual itu seperti dua anak kembar. Tak ada guru dan murid disini sesungguhnya, yang ada kita semua adalah sama-sama murid yang tengah belajar pada sang guru kehidupan. Bedanya, mungkin aku sudah anak SD yang sudah pintar ngoceh berteori, kamu masih anak TK yang suka bernyanyi-nyanyi. Tapi haqiqatnya kita sama, kita masih sama-sama murid yang masih belajar.”
              Temanku yang atheis itupun akhirnya aku pertemukan dengan temanku yang pelukis. Dan inilah pendapat sang pelukis tentang temanku yang atheis. “Dibawah sadarmu, sesungguhnya engkau mengakui akan keberadaanNya, Kalau tidak mengakui, ngapain kamu memaki-maki sesuatu yang tak ada. Kamu juga butuh Tuhan, paling tidak Tuhan bisa kau jadikan tong sampah untuk membuang segala kekotoran sumpah-sampah-serapah di hatimu. Bukankah Bimbo juga menyanyikan, bahwa Tuhan sebagai  tempat mengadu dan berkeluh kesah? Nah, dengan begitu bisa jadi kau ini sesungguhnya lebih banyak berhubungan/berkomunikasi dengan Tuhan, dibandingkan dengan mereka-mereka yang mengaku theis. Bagi Tuhan makian dan pujian tak ada bedanya. Bahkan bisa jadi, Tuhan itu lebih suka makian yang keluar dari ketulusan jiwa, daripada puji-pujian yang hanya jadi penghias bibir saja.”
               Perkenalanku dengan sang pelukis ini, memang membuatku merasa disuguhi alternatif spiritual ditengah dominasi otoritas tafsir oleh elite agama, seperti kyai, pendeta, pastor, biksu ataupun sarjana agama. Kamipun sering berdiskusi dengan santai dan terbuka tentang agama dan spiritual, tanpa pernah dilandasi kemuntlakan kebenaran karena kami memang sama-sama merasa tidak tahu dan masih belajar tentang apa itu yang namanya kebenaran.
             Sang pelukis ini terus-terang memang mengaku sebagai orang yang tak beragama. Ia seorang penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME. “Spiritual negeri sendiri, nih.” Katanya suatu kali. “ Tapi itu juga hanya sebuah kotak. Dan bagiku sendiri, orang bebas saja mau masuk kotak emas, kotak besi, kotak kayu, kotak kardus ataupun kotak sabun. Yang penting bisa seperti kata Mohamad Sobary, ‘dalam kotak tanpa terkotak’”.
              Yah dari sang pelukis inilah aku belajar spiritual secara santai, dengan melampoi formalitas agama dan menolak pendekatan agama yang legallistik (Fiqhiyah} yang terlalu mementingkan ritual (syar’iah} dan mau benar sendiri. Penekanan formalistik yang sering mengental jadi sikap eksklusif yang tak mampu melihat kenyataan hidup yang dinamis dan kompleks. Dari menjalani laku spiritual secara santai itu pula aku rasa, hingga sang pelukis itu meneguk energi keimanan yang mencerahkan. Hingga ketika dia aku pertemukan dengan temanku yang atheis, dia masih bisa tersenyum dan bisa melihat sisi-sisi spiritual dari seorang yang mengaku atheis. Coba kalau temanku yang ngaku atheis itu aku pertemukan dengan agamawan formal-ritualis, mungkin sudah akan  habis dipukuli dia.
               Orang Jawa bilang, “ngelmu iku kelakone kanti laku”. Melalui proses. Pengetahuan memang bisa dikomunikasikan dan diajarkan. Tapi kebijaksanaan tidak bisa di transferkan begitu saja. Manusia tidak bisa bijaksana, suci, bersih hati dan bersikap dewasa hanya karena membaca kitab suci. Ajaran, doktrin maupun pegangan moral memang tidak bisa mengenai manusia secara muntlak. Itulah sebabnya ajaran-ajaran mulia dan agama diturunkan, tapi dosa tetap saja mengalir terus. Jika kita masuk rumah ibadat yang suci, tidak berarti begitu keluar dari rumah ibadat kita langsung akan jadi orang suci. Temanku malah begitu keluar rumah ibadat, langsung nyuri sandal hahaha……………….
             Jadi kita memang harus mau dan berani terjun langsung dalam laku/proses, berbuat, merenung, dan merasakan. Seperti besi yang di tempa, disitu akan terlihat hasilnya seperti apa. Karena hanya dengan demikian, akhirnya akan ada satunya antara apa yang ada di hati, mulut dan perbuatannya. Fiqih maupun kalam memang dapat membantu perjalanan menuju Tuhan, tapi itu bukan sebuah cara akhir. Masih ada bentuk lain yang lebih ideal untuk mencapai singasana Tuhan, yaitu dengan laku selalu “eling pada Tuhan” kata orang Jawa, atau laku tharekat bahasanya orang Islam.
                Jadi pencarian dan pengenalan akan Tuhanlah yang mestinya menjadi wacana utama dalam beragama/spiritualitas, bukannya justru pergulatan agama secara sempurna formal-ritualis yang diutamakan. Karena hanya dengan spiritual yang demikian ini, akhirnya keyakinan seseorang akan timbul karena dilandasi semacam suara kebenaran yang berintikan penyadaran diri. Bukan sekedar tiruan dari pemikiran dogama atau doktrin. Dengan kesadaran yang demikian, akhirnya ibadahpun menjadi semacam kebutuhan, tidak lagi sekedar karena ingin memenuhi kewajiban belaka, apalagi beribadah hanya karena terdorong oleh aneka ketakutan, takut masuk neraka, takut tak kebagian kavling di Surga,  takut dikucilkan, takut mertua dan sebagainya. 
                  Kesadaran. Sampai disini spiritual sepertinya memang  tidak butuh lagi cap, merk, legitimasi, pengakuan atau kesepakatan orang lain. Karena spiritual disini memang tidak lagi diwarnai lagi oleh aneka pamrih atau kepentingan apapun, selain hanya buat menyembah dan berserah diri pada yang Esa. Disini jadinya berdo’ sebisanya juga tidak apa-apa, soal diterima atau tidak do’a kita itu, itu toh urusan uhan. Dan menurut saya, do’a yang terbaik adalah do’a yang keluar dari suasana batin kita masing-masing. Jujur dan tulus. Daripada do’a penuh puja-pujian yang bagus dan panjang-panjang tapi Cuma hafalan di mulut seperti kefasihan burung berkicau saja. Itu khan namanya menipu.
              Jadi bagaimana mungkin kita bisa bersikap-laku jujur dan tulus kepada sesama manusia, jika dihadapan Tuhan saja kita tidak bisa dan mau bersikap-laku jujur dan tulus. Disini jadi terlihat jelas, memang ada yang lebih vital/prinsipil daripada sekedar ekssistensi dalam spiritual, yaitu esensi. Isi itu lebih penting daripada wadahnya, sebab itu realita yang akan jadi penilaian Tuhan. Jadi ketika kita bicara soal orang-orang yang tak beragama, esensinya sebenarnya mereka sama juga dengan orang-orang yang beragama. Sama-sama sebagai hamba yang rindu akan Tuhannya. Hanya caranya saja yang berbeda. Orang beragama mencari Tuhan lewat ajaran, sementara orang tak beragama mencari Tuhan lewat laku/proses atau penghayatan langsung. Yang dalam dunia Islam, hal seperti ini {penghayatan} dilakukan oleh para sufi dengan jalan tharekat, yaitu syestim atau metode untuk bisa lebih dekat dan mengenal Tuhan dengan mengadakan semacam olah batin, riyadhah {latihan-latihan} dan mujahadah {perjuangan kerohanian).
             Tuhan sudah lebih dari cukup memberi petunjukkNya lewat kitab suci dan contoh ketauladanan lewat laku hidup para nabi. Doktrin seperti itulah yang diamini banyak orang beragama saat ini. Padahal doktrin itulah sebenarnya yang telah membuat pedangkalan Iman orang banyak saat ini. Itu doktrin yang menidurkan dan membunuh Tuhan, doktrin yang memberi jarak antara Tuhan dan manusia. Doktrin seperti itulah yang membuat banyak orang takut akan perubahan. Doktrin itulah sesungguhnya yang telah menempatkan agama sebagai BERHALA BARU.
               Jadi tanpa dikurung baju agamapun orang bisa dan boleh berkomunikasi dengan Tuhan. Dan jika kita sudah berbaju agama, pada titik akhir keimanan, kitapun mesti belajar untuk bisa membebaskan dari semua itu. Kembali telanjang. Dalam kehidupan bermasyarakat, barangkali kita memang butuh baju asketik. Tapi mestinya baju itu bukan Cuma sekedar cerminan kemampuan intelektual kita saja, tapi juga potret dari pergulatan batin kita. Tapi sayang, di zaman globalisasi yang hiruk-pikuk ini, terlalu banyak orang yang bingung dan mengalami krisis identitas. Mereka mencari patokan-patokan lahiri yang pasti, mereka butuh identitas, ingin eksistensinya diakui, maka baju itupun menjadi sesuatu hal yang penting. Busana anda menunjukkan siapa anda?
               Jelas naluri keserakahanlah akhirnya disini yang lebih banyak bicara. Beragamapun akhirnya hanya seperti menguyah moralitas kosong. Membanggakan agamapun menjadi hal yang lumrah kita lihat, soal realita sosialnya bagaimana itu bukan urusan? Tidak punya kemandirian dianggap biasa. Hingga akhirnya memang jadi jarang sekali bisa kita temui orang-orang yang berani bersikap lugas, jujur dan berani tampil sebagai dirinya sendiri apa adanya. Jadi mungkin memang ada benarnya, pendapat bapak Jakob Oetama, dalam bukunya “Pers Indonesia” yang mengatakan bahwa masyarakat kita pada umumnya adalah masyarakat yang tidak tulus?
              Hal demikian ini yang berbeda dengan orang-orang yang tak beragama. Mereka dinilai bukan dari bajunya, karena memang tidak punya baju. Begitupun dengan kesolehan seseorang tidak dilihat hanya dari kefasihannya dalam mengutip ayat-ayat Tuhan ditiap ucapannya, tapi pada ahklak hidup dan perbuatannya nilai orang itu ditentukan. Biasanya dalam komunitas orang-orang tak beragama ini juga punya etika moral; Lebih baik berbaju sederhana tapi sesuai di hati, daripada berbaju jubah megah-mewah tapi kedodoran. Lebih baik punya pengetahuan ilmu sedikit tapi diamalkan, daripada hapal satu kitab suci tapi Cuma buat dipamer dan nyanyi-nyanyikan saja.
             Jika kita mau merenung sedikit dengan jujur, sebenarnya para nabi itupun tidak bisa dikatakan sebagai orang yang beragama. Tapi beliau-beliau ini adalah orang-orang yang beriman atau berTuhan. Beriman itu tidak identik dengan beragama. Dalam bahasanya kaum Budhis, kita harus bisa membedakan antara apa itu agama Budha dan apa itu yang disebut Budha Dharma. Beriman itu hitungannyan perdetak nadi. Jadi bisa saja detik ini anda beriman tapi detik berikutnya tidak. Sementara beragama, tulis saja agama apa yang anda suka di KTP, dan itu artinya anda sudah beragama?
              Orang bisa disebut beragama karena punya dua hal mendasar, yaitu punya kitab suci dan nabi. Dan sekarang kita lihat kehidupan para nabi-nabi itu sendiri, bukankah mereka jadi nabi bagi dirinya sendiri? Dan kitab suci, bukankah disusun oleh generasi berikutnya setelah sang nabi itu sendiri wafat? Dengan demikian, bukankah sebenarnya para nabi-nabi itu sendiri tidak bias kita sebut sebagai orang beragama? Karena tidak punya kitab suci dan nabi?
            Sejarah kehidupan Yesus mungkin bisa kita jadikan contoh disini. Di zamannya yang dihadapi Yesus itu bukanlah orang-orang atheis atau para penyembah berhala. Tapi yang dihadapi Yesus pada saat itu adalah para ahli-ahli agama. Jadi bukan agamanya yang Yesus tentang, tapi sikap hidup para ahli agama yang korup dan telah menghianati kodratnya karena keterpesonaanya pada sangkar emas agama itulah yang Yesus tentang. Maka Yesuspun lalu mengkritik dengan pedasnya para ahli-ahli agama pada saat itu, yang dikatainya tak lebih dari kuburan yang dilabur putih. Putih-bersih memang luarnya, tapi bangkai isinya. Dan ironisnya, sejarah yang demikian terulang kembali di agama Khatolik sendiri, yang kemudian kita kenal sebagai cikal-bakal lahirnya agama Kristen Protestan dengan Marthin Luther sebagai panglima reformasinya. Seperti Yesus, marthin Lutherpun mengkritik dengan pedas dan kerasnya para pemuka agama Khatolik pada saat itu. “Sebuah ranting dapat dipotong dengan pisau roti, tapi sebatang pohon besar memerlukan kampak untuk merobohkannya.” Begitulah kata Marthin Luther yang kemudian memang dia buktikan semua omongannya itu. Tiap hari ia mengayunkan kampak kata-katanya dengan berani dan ganas. Dia katakan, dekrit kepausan sebagai tahi sapi dan para uskup tak lebih dari monyet goblok.
               Itulah zaman ketika pertikaian soal agama selalu terkait dengan masalah politik dan ekonomi. Zaman ketika petani sudah terlampau merasa tertindas oleh gereja yang manunggal dengan Negara. Jadi sejarah awal semua agama sebenarnya semua sama saja, yaitu sebagai idiologi yang membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang menghimpit. Tapi seiring perjalanan waktu, persentuhannya dengan sejarah kekuasaan, social, ekonomi dan politik, seringkali membuat agama hanya jadi rangkaian doktrin kaku, membelenggu dan tak jarang menakutkan.
                Jadi para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME itu, pada dasarnya bukan anti agama. Justru sebaliknya mereka sangat menghormati dan tak ingin mengotori kesucian agama. Karena dari agama, kita memang bisa belajar tentang banyak hal. Kalau toh ada hal-hal yang ditentang atau ditolak oleh orang-orang tak beragama, itu hanya terbatas pada institusinya, budayanya dan ekspresi keagamaannya yang sering cenderung arogan dan mengklaim paling benar, suci dan sempurna sendiri itu. Sikap demikian yang sebenarnya bukankah berarti telah korup/khianat dari semangat yang paling dasar dari agama itu sendiri?
            Jadi para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME itu pada dasarnya hanya orang-orang yang ingin dinilai dan tampil sebagai dirinya apa-adanya. Maka spiritualnyapun disebut penghayat kepercayan terhadap Tuhan YME. Bukan agama dan tidak pernah dimaksudkan untuk membuat agama baru. Hal inilah yang sering ditakutkan para agamawan. Ketakutan yang lahir dari ketidaktahuan belaka. Tidak tahu, tidak mau tahu, tapi sok tahu. Akhirnya kesimpulan yang diambilnyapun hanya berisi was prasangka belaka. Karena bagi para penghayat, jika sampai membentuk suatu agama baru, setebal apapun itu kitab sucinya dan semulia apapun itu nabinya, sebenarnya spiritual itu telah kehilangan rohnya, mati dan dogmatis.  Jadi spiritual disini memang ditempatkan pada posisinya yang tak mandeg. Tapi seperti air yang mengalir tanpa jeda. Pencarian yang terus-menerus. Jadi kata penghayatan itu memang punya makna proses belajar. Semua manusia pada dasarnya sama, sebagai murid yang harus belajar dan terus belajar pada sang guru sejati, yaitu Tuhan YME. Sampai titik ini, manusia memang tidak lagi dibedakan dari sudut miskin-kaya, pintar-bodoh, laki-perempuan, ras, agama, suku, orentasi sexsual, ataupun status ekonominya.
               Jadi seandainya diibaratkan manusia itu sebagai burung, maka agama itu sebagai sangkar emasnya. Sementara keimanan adalah sebuah sarang. Jelas ada yang beda disini antara sangkar dengan sarang, walau keduanya mungkin punya fungsi yang sama sebagai tempat tinggal. Dalam sangkar, segala kemudahan memang tersedia termasuk makanan masal-isntan dari pabrik. Kepintaran kita dalam berkicau juga bisa diajar dengan meniru kicoan burung juara nasional yang sudah dikasetkan. Tapi segala kemudahan itu juga menuntut sebuah konpensasi, kita jadi tak mudah untuk kawin baik secara phisik, spiritual maupun pemikiran. Bukankah perkawinan beda agama {sangkar} di negara kita masih banyak kendalanya?
                 Karena lama keenakan didalam sangkar, sayap-sayap kita juga bisa jadi lumpuh. Kita jadi tak punya kemampuan dan keberanian lagi untuk terbang sebagai dirinya sendiri. Kita jadi canggung dan gagap untuk bersosialisasi secara wajar dengan kehidupan di luar sangkar yang beraneka-ragam dan warna. Dan semua itu adalah potret dari keterpenjaraan jiwa. Kesempitan wawasannya menjadikannya picik, keras kepala, merasa benar sendiri dan segenap ketidak mampuan  untuk bersikap kritis.Akan lebih celaka lagi jika kelas {mental} kita hanya kelas burung pipit. Tentu akan terlihat aneh dan ganjil, jika burung pipit dikasih kurungan dari emas yang sedemikian agung dan megahnya. Tidak siap mental pasti. Akhirnya sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, orang beragama tapi maling dan korupsi dilakukan juga. Beragama ya, tapi menghina, menyakiti, sewenang-wenang, membunuh, dilakukan juga. Kedodoran beragamanya. Hal seperti ini jelas sebuah dekandensi spiritual, yang menjurus ke sikap munafik. Ketika ada orang yang merampas hak rakyat miskin, korupsi bahkan membunuh, tapi dianggap sebagai orang saleh karena suka menyumbang ini-itu, sudah berhaji, selalu pakai kopiah dan bawa tasbih kemana-mana.
                Ini bedanya dengan keimanan {sarang}. Kita semua tentu butuh sarang {rumah} untuk tinggal dan berlindung, Dan kita bangun sarang sesuai kemampuan dan warna jiwa kita masing-masing. Seperti burung pipit buat sarang kecil dan burung elang buat sarang besar. Natural. Tapi besar atau kecil sarang yang kita buat itu haqiqatnya sama, yaitu tidak pernah mengurung atau memenjarakan seperti sangkar. Sarang seringkali memang sangat kecil dan sederhana sekali, tapi teramat luasnya menampung kehangatan kasih-sayang.
               Bahwasannya dalam agama itu diajarkan soal keimanan, itu memang benar adanya. Jika digambarkan, ini jadi seperti sarang yang berada didalam sangkar raksasa {Agama}. Dari gambaran ini akan jadi bisa kita lihat dengan jelas, sebab-musababnya mengapa dikalangan agamawan Islam formal-ritualis sering menolak dunia sufisme. Karena dunia sufisme itu memang dunia yang menukik kedalam batin, keimanan atau sarang. Dan jika seseorang itu telah bisa menyentuh-sujud didasar/haqiqat keimanan yang ada di batin, otomatis dalam dirinya akan tumbuh pula kepercayaan dan keberanian untuk jadi dirinya sendiri. Akan timbul kesadarannya, bahwa keimanan itu membebaskan. Akibatnya, mereka yang mendalami sufisme memang akan jadi seperti burung yang terbang lepas dari sangkar agama. Mereka akan jadi hidup seperti dengan aturannya sendiri, tidak terkukung oleh syariat-syaria agama dan tidak Islami lagi? Seperti halnya Al=Hallaq dan Syeh Siti Jenar itu?
              Seorang sufi memang tidak punya religi, kecuali religi kebenaran. Dan Tuhan adalah sumber kebenaran itu sendiri. Jadi memang sudah semestinya sebagai orang yang beriman/berTuhan, jika yang utama kita cari itu adalah kebenaran/Tuhan, bukannya mencari pembenaran diri dengan bertudung kesucian agama. Jadi memang pantas disangkan, jika orang beriman hanya berhenti dan merasa sudah puas pada tataran “terpesona” pada hal-hal yang serba idieal dan mulia dari agama. Kita sering lupa, bahwa ajaran itu bukan realita.
              Seperti halnya dalam bidang-bidang lainnya, dalam bidang spiritualpun ada juga kalangan elite dan awamnya. Pemahaman seorang guru besar dengan seorang tukang bejak yang buta huruf tentang spiritual/agama jelas berbeda. Tapi klaim bahwa seorang guru besar lebih tahu dan dekat dengan Tuhan dibandingkan tukang becak, itu adalah kesombongan dan kebohongan yang besar. Mungkin cerita Sidharthanya,  Herman Hensse bisa jadi contoh yang bagus disini. Bagaimana setelah melakukan pencarian kesempurnaan hidup lewat ajaran-ajaran mulia dan berguru menemui orang-orang suci. Akhirnya toh Sidhartha lebih suka memilih tinggal dan hidup bersma Vasudeva, seorang tukang perahu yang buta huruf tapi bijak, sederhana dan berbudi luhur.
            Akhirnya Sidhartha juga belajar untuk memahami maknanya hidup hanya dari suara arus air. Yang menurut Ibn’Arabi, segenap alam semesta adalah tajjali atau penampakan dari Allah. Imam Al’Ghazali juga katakan, tauhid sejati adalah penglihatan atas Allah dalam segala sesuatu. Dengan demikian, bukankah mendengar suara alir air sungai yang dilakukan Sidhartha itu sebenarnya sama juga sedang mendengar suara Allah? Bukankah kearifan {wisdom} yang sederhana ini sebenarnya punya nilai yang sama dengan metodologi para idiolog dan theology? Tapi dihadapan agamawan formal-ritualis yang tak punya kerendahan hati, laku spiritual seperti yang dilakukan Sidhartha itu tidakkah akan dituduh sebagai laku animisme, musryik, tahayul, keberhalaan kufur, sirik dan sebagainya?.
            Tidak mampu untuk mengkomunikasikan atau mengungkapkan apa yang bergulat dalam batinnya menjadi bahasa verbal atau idiom-idiom theologies, itulah keterbatasan khas orang awam. Tapi meskipun demikian, bisa jadi justru orang-orang seperti Vasudeva itu lebih bisa merasakan kebahagiaan dan ketentraman batin.  Mereka lebih mampu dalam mengendalikan diri, dibandingkan dengan orang-orang seperti kita yang doyan dan pintar ngoceh ini. Mereka lebih bisa dalam mendengar suara hati nuraninya, lebih jujur, tulus dan bijaksana, daripada kita-kita yang katanya orang-orang modern dan melek IT. Mereka lebih konsisten dalam menyatukan antara apa yang ada di hati, mulut dan perbuatannya. Sementara kekurangan dan keterbatasannya, justru jadi semacam rambu-rambu yang selalu memperingkatkan dan menyadarkannya, akan perlunya untuk selalu memelihara sikap rendah hati dan menghargai sesama. Kesadaran sebagai manusia yang tidak sempurna itulah yang justru  jadi alasan kesediaan mereka ditegur, mengerti rasa malu dan takut berbuat dosa.
             Ada dua hal mendasar yang bisa aku tangkap dari laku spiritual orang-orang seperti Vasudeva itu, yaitu beriman dengan santai dan tanpa rasa takut!.

SPIRITUAL ORANG BINGUNG

  • Aku tak punya agama
    Tapi beriman
    Seperti Adam telanjang di tengah padang
    Sebelum tanah disekat-sekat dan rumah mewah jadi kebanggaan
    Agama mempesonaku memang
    Tapi keimanan membebaskanku

    Dengan gaya humornya yang khas, dai sejuta umat, almarhum bapak KH. Zainudin MZ, dalam  salah satu kaset dakwahnya pernah menyentil soal  orang-orang yang tak beragama. Dalam kotbahnya kurang-lebih  beliau katakan begini, “Orang ini (orang-orang tak beragama) memandang agama tidaklah lebih dari baju dan celana. Dan karena menurut pandangannya, semua baju dan celana yang dilihatnya itu semua sama baik dan benarnya, orang ini jadi bingung sendiri. Karena kebingungannya itulah, akhirnya orang ini malah pilih tak pakai baju dan celana, alias telanjang!”
    Semua yang dengar kotbah itupun langsung tertawa, tak terkecuali saya. Tapi saya tertawanya cuma setengah, sebab apa yang dikotbahkan bang Zainudin diatas, menurut saya kebenarannya juga cuma setengah.
    Pendapat bang Zainudin yang mengatakan orang-orang tak beragama itu sebagai orang-orang yang telanjang, itu memang benar adanya. Dan bagi saya, pernyataan itu justru saya rasakan sebagai sebuah sanjungan yang membuat besar kepala saya saja. Sebab bukankah semua agama pada dasarnya mengajarkan akan haqiqat diri manusia yang sesungguhnya memang telanjang? La haula quata illa billah {tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dari Allah}. Bang Zainudin sendiri ketika pertama kali dilahirkan tentu juga tidak dibawa-pakaiin Tuhan,  kopiah, baju koko dan sarung khan? Tapi terlahir telanjang. Begitupun dengan baju/jubah  yang pongah-mahal yang sering jadi pertanda status social dan tingkat kesucian moral kita? Tidakkah pada saat-saat mempribadi, baju/jubah kebanggaan kita itu kita tanggalkan juga?
    Yesus juga pernah berkotbah, ”Manusia tidak akan pernah bisa masuk Surga, jika tidak lebih dulu bisa menjelmakan diri jadi anak kecil.” Anak kecil dimaksud, bukankah artinya polos, jujur, tulus atau telanjang? Budha juga mengajarkan, bagaimana mencapai kebahagiaan Nirwana dengan jalan mengatasi ruang-jiwanya dari himpitan benda-benda dan hasrat diri, melalui jalan mengosongkan diri. Telanjang. Ilmu tasawuf yang oleh imam Al-Ghazali dikatakan sebagai ilmu yang tertinggi, begitu kita selami lebih dalam itu ilmu, bukankah disitupun pada akhirnya kita hanya akan ditelanjangi? Dikembalikan keasal-muasal kita yang seperti bayi suci yang terlahir telanjang.
    Jadi entah sadar atau tidak, dalam hal ini secara tidak langsung bang Zainudin sebenarnya telah menyanjung orang-orang tak beragama itu sebagai orang-orang yang telah bisa menempatkan dirinya sebagai hamba Tuhan yang sejati. Orang-orang telanjang yang berarti orang-orang yang telah bisa dan berani bersikap laku jujur dan tulus. Keberanian bertelanjang diri yang dalam orang beragama hanya masih jadi impian serta retorika belaka? Maka disini saya hanya bisa berdo’a, moga ketelanjang diri/kejujuran itu masih jadi mata uang yang berlaku dia agama manapun.
    Dan ini pendapat bang Zainudin yang saya tidak setuju, yang mengatakan orang-orang tak beragama itu sebagai orang yang “bingung”. Untuk mudahnya, saya buat gambaran ketika zaman orde baru dulu. Pada saat itu ada dua parpol dan satu golongan, dan kita harus memilih satu diantara ketiga pilihan legal-formal yang ada itu. Sementara diluar ketiga pilihan itu ada partai liar atau golput, orang bilang. Pertanyaannya disini, benarkah golput itu partainya orang bingung? Bingung karena melihat ketiga pilihan diatas itu semua sama baik dan benarnya? Ataukah justru sebaliknya, orang-orang masuk golput itu sebagai sebuah ekspresi kekecewaan dan ketidak puasan dahaga berpolitik mereka dengan ketiga pilihan legal-formal yang ada? Dengan kata lain, orang-orang golput itu sebenarnya orang-orang yang kritis.
    Jadi ketika kita menyorot tentang orang-orang yang tak beragama, disitu memang ada dua kemungkinan. Pertama, orang tak beragama karena orang itu memang belum kenal atau tahu agama.  Kedua, orang tak beragama karena merasa dahaga rohaninya tak terpuaskan oleh agama-agama yang ada, Seperti fenomena yang terjadi di Eropa dan Amerika dengan apa yang dinamai gerakan new age. Mereka yang mengikuti gerakan ini,  umumnya orang-orang dari kalangan menengah keatas. Jadi secara ekonomi dan intelektual mereka adalah orang-orang yang berkecukupan. Jadi untuk mendapatkan kitab suci atau pengetahuan agama, bukanlah hal yang sulit bagi mereka. Tapi karena agama-agama formal-terorganisasi tidak bisa memenuhi akan dahaga rohaninya dan dirasa-pandang sering kurang toleran dengan keyakinan-keyakina diluarnya. Sebagai konsekwensinya, gerakan new age menjauh dari agama-agama formal, kearah agama-agama timur, agama-agama pribumi Amerika atau keyakinan-keyakinan/kepercayaan yang lebih feminis.
    Kembali kesoal orang-orang yang tak beragama. Seperti halnya golput di zaman orde-baru atau gerakan new age di Eropa atau Amerika, itu juga suatu pilihan yang didalamnya juga ada konpensasinya yang menuntut tanggung-jawab dan keberanian bersikap. Apalagi disini mengaku sebagai orang yang tak beragama, tidak masuk mainstream, sangat berat itu tanggung-jawab dan beban mental yang harus diembannya. Salah-salah bisa dituduh kafir, atheis, abangan, klenik, paranormal, PKI dan aneka tuduhan konyol dan ngawur lainnya.
    Jadi memang suatu hal yang mustahil, jika ada orang bingung kok punya keberanian bertangung-jawab dan bersikap sebagai dirinya sendiri. Sebab orang bingung itu memang orang yang tidak tahu dan berani jadi dirinya sendiri. Orang bingung itu orang yang ketakutan membuka dan mengakui realita yang ada dalam diri pribadi dan masyarakatnya. Orang bingung itu orang yang selalu mencari patokan-patokan yang pasti. Kemana angin bertiup, kesitu orang bingung menuju. Orang bingung itu bukan burung bersayap yang bebas terbang kemana, tapi kuda pedati. Dan begitu orang berwibawa/kharismatik datang, orang bingung itu paling mudah untuk dikendalikan.
     Diperintah apapun orang bingung tidak akan pernah mempertanyakan apalagi berani membentah. Sekalipun perintah itu hanya bersifat simbolik belaka, seperti panjangkan jenggot dan pakai jubah. Orang bingung pasti akan dengan takzim akan mengikuti itu perintah. Karena pada dasarnya, orang bingung itu memang orang yang mengalami semacam krisis identitas. Mereka butuh identitas, eksistensinya ingin diakui. Maka pakai baju-celana atau simbol-simbol kesucian agamapun menjadi hal yang dianggap sangat penting bagi mereka. Karena corak-warna baju-celana yang mereka kenakan itu akan menunjukkan eksistensinya.
    Orang bingung memang akan menemukan semacam ketentraman disitu. Karena terlepas dari keharusan bersikap dan berfikir sendiri. Jadi sikap sectarian dan fanatisme dalam beragama itupun sebenarnya salah satu dari cirri-ciri pribadi yang bingung dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat yang hiruk-pikuk, pluralis dan saling mempengaruhi ini. Sebagai konsekwensi dari kebingungannya itu, akhirnya orang-orang inipun jadi bersikap eksklusif. Jika hal yang demikian ini tidak disertai adanya kesadaran analisa diri dan keberanian berfikir, memang biasa menjerumuskan seseorang pada sikap-sikap yang ekstrem. Pandanganya jadi simplistic, membeku, dogmatis dan tak punya lagi kerendahan hati, yang ada justru rendah diri. Dan sudah menjadi pemandangan yang umum, untuk menutupi rasa rendah diri atau keminderannya itu, orang  lalu suka mengagungkan budaya kekerasan dan  bersikap over. Berani mati, mengangap diri paling suci, benar dan sempurna sendiri. Sementara diluar  diri dan kelompoknya dipandang  hanyalah dunia yang sudah rusak tempat orang-orang sesat beranak-pinak. Sampai titik ini, akhirnya religiusitasnya hanyalah lebih banyak didorong oleh semangat berkelompok dan kekecutan hati andai harus kehilangajn arti saja. Takut jadi manusia telanjang!
    Dari uraian diatas, disini dapat kita tarik suatu kesimpulan; Pada siapakah sebenarnya kata ”BINGUNG”  itu lebih pantas untuk kita kalungkan?

    Apa yang mesti aku lakukan. O, Muslim?
    Aku tak mengenal diriku sendiri
    Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Gabar, bukan Muslim

    Begitulah tulis sufi Muslim besar Jallaludin Rumi, dalam sebuah sajaknya. Dan benarkah sajak diatas mencerminkan kebingungan penulisnya? Ataukah justru sebaliknya menunjukkan akan keluasan wawasan dan kedalaman pemahamannya tentang spiritualitas. Dalam bahasa verbalnya mungkin beliau ingin katakan,”Tak masalah orang itu mau pakai baju-celana merah, putih atau hitam, yang penting orang itu punya ahklak/iman.”

    Hatiku telah mampu untuk setiap bentuk:
    Dialah padang bagi kijang dan sebuah biara bagi Nasrani
    Dialah pura bagi berhal dan Ka’abah bagi berhaji
    Dialah lembar dari Taurat dan kitab Qur’an yang suci

    Itulah sepotong sajak dalam “Tarjumah Al-Ashwag” karya sufi Muslim termasyhur, Ibn’Arabi. Yang menyatakan diri sebagai pengikut agama Cinta dan Kasih: “Kemanapun unta-unta cinta itu pergi, kesana pulalah agama dan imanku lekat.”
    Benarkah sajak Ibn’Arabi diatas juga hanya menunjukkan akan kebingungan penulisnya yang tak jelas apa agamanya? Ataukah justru sebaliknya, menunjukkan kecerdasan dan kebrlianan spiritual penulisnya?  Dalam bahasa verbalnya, mungkin beliau ingin katakan, “komitmen saya pada isi, bukan pada baju dan celana!’
    Dengan kata lain, baik Rumi maupun Ibn’Arabi diatas sebenarnya adalah orang-orang besar yang telah bisa mendekati kebenaran hidup yang hakiki, yang didekatinya dengan kepribadian yang menyeluruh, seimbang dan harmonis. Orang-orang yang telah bisa keluar dari kepompong sutra emas agama dan terbang sebagai kupu-kupu indah di taman kemanusian yang utuh.
    Dan orang-orang yang telah bisa beriman dengan melampaui atau keluar kotak agama. Orang-orang yang telah bisa lebih mencintai Tuhan daripada agama, Ukhuwah/kerukuran merekapun jadinya bukan lagi sekedar ukhuwah Islamiyah lagi. Hanya rukun pada sesama Muslim saja. Tapi ukhuwah mereka sudah setingkat lebih tinggi dan luas, yaitu ukhuwah imaniah atau ukhuwah basyariah. Rukun dengan sesama orang beriman dan sesama umat manusia.
Facebook © 2012 · Bahasa Indonesia
Tentang · Buat Iklan · Buat Halama

SPIRITUAL ACHIEVEMENT


  •              Di tahun 60-an,  untuk mendapatkan suatu pembebasan psikologis atau untuk mendapatkan apa yang disebut SPIRITUAL ACHIEVEMENT, kaum Hippies menghisap ganja. Mereka juga anti kerja keras dan hidup leha-leha sangat hedonis. Orang hidup tanpa tujuan hidup. Tanpa makna yang lebih, selain sekedar untuk mendapat kekayaan dan kedudukan. Dan ketika semua itu sudah didapat, akhirnya hanya kekosongan dan kehampaan jiwa yang didapat, dan akhirnya larilah mereka ke daun ganja.
                Saat ini, kebanyakan agamawan/spiritualis juga hanya mengajarkan spiritual achievement, seperti bagaimana cara mendapat Surga dan menghindari Neraka, ajaran untuk bisa meraih kemenangan, kejayaan, kedigdayaan, kemuliaan.  Mengajarkan bagaimana membuka cakra, mata ketiga,  hingga bisa melihat alam ghaib, meramal dan jadi paranormal. Dan ini catatan saya, PAMRIH ATAS NAMA ROHANI TETAPLAH PAMRIH!. Maka tidak usah heran, karena tidak dilandasi oleh ketulusan, kemurnian dan kesucian jiwa, dikalangan orang-orang yang suka beribadah-meditasi seperti itu, sifat  palsu, serakah, arogan, fanatic, serba curiga, sadar kehebatan diri tidak hilang setelah itu.
                Bagaimana kita akan bisa berlaku tulus-jujur pada sesama, kalau pada Tuhan saja kita tidak pernah mau dan berani berlaku tulus-jujur. Jadi kalau saat ini banyak agamawan/spiritualis, tapi kelakuannya penuh paradokal. Jawabannya jelas, karena saat ini kebanyakan yang beredar hanyalah agamawan/spiritualis Google. Orang dianggap spiritualis tingkat tinggi jika bias  menghapal kitab suci dan bisa  memberi jawab atas segala pertanyaan dan bisa memberi jalan keluar atas semua persoalan.
                 Coba anda lihat, acara-acara keagamaan di televise,  isinya hanya mohon petunujuk umat, bagaimana menyelesaikan suatu permasalan pada sang tokoh agama. Yang seringkali, pertanyaan-pertanyaannya sangat remeh-temeh sekali. Hal seperti ini, jelas mendidik umat ketergantungan pada sang tokoh. Dan sang tokohpun sebenarnya juga tak beda dengan umatnya, sama-sama orang yang kecanduan. Hanya bedanya, disini sang tokoh kecanduan dengan kitab suci. Persis kita-kita mahkluk digital, pertanyan apapun kita tanya mbah Google. Kita bisa cerita banyak dan detail tentang negeri yang sangat jauh dan belum pernah kita kunjungi, dengan mengkopi-paste catatan mbah Google. Tidak ada bedanya dengan tokoh agama yang berkotbah tentang Surga-Neraka dengan mengkopi-paste kitab suci bukan?.
                Spiritual achievement = spiritual penuh pamrih = spiritual instan. Apapun bentuk dan kemasannya, intinya spiritual yang dekat dengan naluri otak pedagang.  Dan spiritual achievement itu yang kini jadi mainstream spiritual. Spiriutal yang tidak berdiri diatas pondasi ketulusan jiwa, tapi spiritual yang didirikan diatas tumpukan aneka macam pamrih, pamrih dapat pengikut, pamrih dapat keuntungan financial-non financial, pamrih biar dipandang sebagai orang suci dan sebagainya.
                Saya tidak menyalahkan spiritual achievement, hanya advis saya, hati-hati dengan spiritual macam ini. Karena seringkali, iklan mengalahkan realita dan propaganda sering menggerus akal sehat, dan janji-janji manis sering membuat kita buta dan lupa diri. Contoh terekstriem dari pengikut spiritual achievement, adalah para pelaku bom bunuh diri. Mereka lakukan itu semua, katanya karena membela agama dan pamrihnya agar dapat memperistri bidadari di Surga?. Pemikiran seperti itu khan jelas didasari keserakahan otak pedagang, yang mau dapat untung besar (surga) hanya dengan modal dengkul. Ingin dapat masuk Surga secara Instan dengan mencelakai orang-orang yang tak berdosa. Orang macam itu, bagiku tak ada bedanya dengan koruptor, rampok-jalanan dan pecandu narkoba. Sama-sama orang yang tidak bisa mensyukuri-menghargai atas rahmat-berkah yang diberikan Tuhan. Para pengecut yang tak berani menghadapi kenyataan hidup dan lari ingin menggapai mimpinya secara instan dan menghalalkan segala cara.
     Tapi mereka-mereka itu sebenarnya juga hanya korban iklan dan dogma. Jadi guru-guru spiritual mereka itulah (pinjam isitilah kata-katanya Yesus} sesungguhnya para ahli agama/kitab yang tidak lebih dari  KUBURAN YANG DI LABUR PUTIH. Putih bersih memang luarnya, tapi bangkai busuk menjijikkan isinya. Ahli kitab yang di jiwanya tidak ada ketulusan, tapi hanya aneka pamrih dan pamrih yang ada.
    Sudah bukan zamannya, spiritual digerakkan dengan jualan soal Surga dan Neraka. Dagangan Surga dan Neraka, terbukti hanya mendidik umat jadi bermental pengecut dan pragmatis. Sementara disisi lain, memberi tempat para bajingan-penipu berjubah-surban agama meneguk keuntungan. Dagangan soal Surga dan Neraka itu juga mengaburkan makna dasar hampir semua ajaran agama.
                Semua agama mengajarkan hal yang sama, mengajari umat untuk mencintai Tuhan dan sesamanya. Tapi iming-iming Surga dan ancaman Neraka, telah mengaburkan ajaran itu. Orang lebih sibuk memikirkan untuk bisa menggapi Surga dan menghindari Neraka dengan menelan bulat-bulat ajaran agama (fanatic).  Hingga entah sadar atau tidak,  sesungguhnya mereka telah menuhankan/memberhalakan agama.  Beranggapan bahwa ajaran agama itu yang akan menyelamatkan dan menuntun kita. Itu khan keyakinan yang fatal, karena sebagai spiritual, kita mestinya percaya, bahwa hanya Tuhannlah  yang akan menuntun dan menyelamatkan kita.
    Jadi sebenarnya sederhana saja,  untuk kita bias  mengetahui seorang guru spiritual itu jiwanya tulus, murni dan suci atau tidak. Yaitu dengan melihat pengajarannya; Kalau guru itu mengajarkan kita untuk menemukan dan jadi diri kita sendiri,  guru itu memang berhati suci dan luhur budi. Tapi jika orang itu hanya mengajarkan spiritual achievement, sekalipun orang itu hapal kitab suci atau bisa bermujijat yang aneh-aneh. Bisa jadi guru itu hanyalah tukang jual ayat atau paranormal yang sedang cari makan. Guru macam itu hanya akan mengajar dan mengejar kemampuan akademis (spiritual teori/google) dan cenderung mengabaikan perkembangan karakter, mental dan jiwa umatnya.
    Ada seorang sufi wanita terkenal dari Basrah yang bernama Rabiah Al Adawiah. Beliau ini bisa jadi contoh mengenai totalitas penyerahan seorang hamba pada Tuhan yang maha pemurah. Yang beribadah tanpa diwarnai pamrih dan kepentingan apapun, selain hanya buat berserah diri pada segala kebesaran dan kehendaknya. Dan  beliaupun bersumpah;  Jika aku beribadah karena takut siksaan Neraka, masukkan aku di api NerakaMu. Begitupun jika aku beribadah karena mengharapkan Surga, campakkan jauh-jauh Surga itu dariku!.
    Begitulah, ketika ibadah dilandasi oleh ketulusan, kemurnian dan kesucian jiwa. Tuhanpun akan berkenan membuka hijab (tabir) yang menutupi segala rahasiaNya. Dan kini, mata hati itupun diperkenan melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata wadag. Pengalaman kedekatan langsung dengan segala kebesaran Allah itulah, yang membuatnya tidak ngiler lagi dengan iming-iming kenikmatan Surgawi, sekaligus juga tidak gentar-takut lagi dengan cerita tentang siksa bara api Neraka.
    Dan  pengalaman spiritual macam itu bukan sebuah achievement. Spiritual sejati tetap tidak bisa dan mau mendikte Tuhan.  Hal seperti itu tidak bisa dicapai, semua itu terjadi semata-mata hanya hadiah dari yang maha pemurah. Maka tepat kiranya wejangan para bijak, bahwa orang sabar itu dicinta Tuhan.
    Jadi jujur saja, kalau kita-kita ini memang belum kenal sejatinya Allah, ataupun mengerti apa yang dimaksud benar, sempurna dan suci, kita mestinya mau belajar rendah hati untuk menghargai proses kearah itu. Dan bagiku, itulah sesungguhnya makna sejatinya spiritual, yaitu proses pencarian yang terrus-menerus. Spiritual tak selalu bersifat liniar dan bisa dibatasi ruang-waktu. Spiritual bukanlah sesuatu yang final, persis dengan permainan ular-tanga. Jadi siapa merasa telah sempurna spiritualnya, sebenarnya orang itu telah game over!.
    Ketulusan jiwa juga tidak bisa dibentuk dengan kekerasan, paksaan dan ancaman. Ketulusan jiwa akan tumbuh dari jiwa yang sanggup berserah diri secara totalitas pada segala kebesaran dan kehendakNya dalam  ibadah atau meditasinya. Karena itu pengalaman spiritual tiap-tiap orang orang akan selalu  bersifat khas, unik dan mempribadi. Keunikannya tak terjelaskan,  Akal kita tak mampu menggapainya. Dalam kepasrahan-penyerahan diri itu, kita  akan langsung dituntunt oleh Allah, untuk memahami inti kebenaran yang memberi pengertian, makna dan tujuan kepada kejadian kita. Bisa jadi kebenaran/pencerahan, tuntunan dariNya itu SAMA DENGAN YANG PERNAH ORANG LAIN TERIMA. Tapi bisa juga yang kita terima itu sebagai kebenaran/pencerahan,tuntunan yang seperti absurd, ganjil dan tidak masuk akal.
     Jadi menurutku, kebenaran, pencerahan, tuntunan, dari allah itu ada dua macam. Satu, tuntunan (wahyu?) yang hanya untuk diri sendiri, dan dua tuntunan yang untuk umum. Yang pertama, namanya untuk diri sendiri, ya tuntunan hanya untuk dikonsumsi sendiri. Pengalaman spiritual yang semakin menguatkan keyakinan kita akan keberadaan Tuhan. Dan tak perlu untuk diceritakan pada orang banyak, karena jika diceritakan hanya akan menjerumuskan kita di kotak kesombongan. JIka diceritakan, lebih banyak tidak baiknya daripada baiknya.  Jika diceritakan, orang yang suka kita, bisa-bisa akan mengkultuskan kita sebagai orang suci? Sementara orang yang tidak suka kita, bisa jadi akan mengannggap kita tidak lebih dari orang gila yang sedang berhalusinasi.
    Dan kedua, pencerahan, kebenaran, tuntunan atau wahyu dari Allah yang bisa/boleh diungkap ke public. Cirinya pasti; JIka diungkap ke public, akan memberi  pula pencerahan dan manfaat bagi kehidupan banyak orang. Dan ini hal terpenting menurut saya,  kita tidak perlu kotbah, iklan dan koar-koar, “Ini wahyu dari Allah! Tuntunan dari Allah, ini bisikan dari Malaikat!” Dan sebagainya.  Jadi yang terpenting adalah buktikan! Apa yang kita lakukan itu memang dibimbing oleh tuntunan Allah yang pada akhirnya pasti juga akan memberi pencerahan, kebaikan dan manfaat bagi banyak orang.
    Yang terjadi sekarang umumnya khan terbalik. Orang berkoar-koar dahulu, ini wahyu dri Allah! Ini tuntunan dari Allah! Ini bisikan malaikat dan sebagainya. Yang biasanya juga lanatas disertai ancaman dan paksaan untuk mengikuti dan tidak boleh ditentang , kalau tidak mau  dilaknat Tuhan jadi penghuni Neraka. Padahal sejatinya Allah itu seperti apa dan dimana mereka juga tidak tahu.  Mereka tahu perintah itu juga cuma dari hasil membaca kitab-suci. Bacaan yang juga bisa ditafsir darimana dudut pandang sang pembacanya. Jadi menurutku, sudah saatnya spiritual meninggalkan object dan atau kajian yang mengawang, kajian dan atau object yang abstrak, a-historis harus ditinggalkan dan menangkap fenomen yang kongkret, historis dan actual.
    Ada kisah, orang yang tiap hari kerjanya hanya melantunkan ayat-ayat suci dan memuja-muji Allah di rumah ibadah. Dan seorang nabi ditanya pendapatnya tentang orang yang super sibuk beribadah itu. Tapi sang nabi bukannya menjawab, malah balik bertanya, “Kalau orang itu tiap waktu kerjanya hanya beribadah melulu, lalu bagaimana dia dapat makan?”. Orang yang ditanya sang nabi itupun menjawa, “Dia selalu dikasih makan oleh saudaranya.” Dan sang nabipun akhinya menyimpulkan, “Kalau begitu, sesungguhnya yang spiritualis sejati adalah saudaranya yang bekerja-keras dan memberinya makan itu!’
    Tuhan itu tidak gila pujian dan butuh penghormatan. Jujur, orang yang suka berdo’a panjang-panjang itu sesungguhnya yang gila pujian dan punya pamrih ingin di hormati sebagai orang suci?. Tuhan juga tidak perlu dilayani. Tapi melayani dan menghormati ciptaanNya, berarti kita juga telah melayani dan menghormati Dia yang mencipta. Maka spiritualis sejati akan selalu melayani dan menghormati sesamanya atas namaNya. Jadi spiritual tidak hanya dalam bentuk ritual ibadah-meditasi, tapi juga dalam bentuk kerja cucuran keringat  atau pemikiran dalam praktek hidup keseharian yang juga tetap bersandar pada segala kasihNya.
    Jadi kalau ada orang yang mengajarkan umatnya untuk TAKUT KEPADA ALLAH. Sekalipun orang itu hapal kitab suci, saya berani katakan  orang itu sesungguhnya masih jauh dari cahaya kasihNya. Orang macam itu hanyalah penipu yang sekaligus mengajarkan umat jadi penipu. Tuhan itu tidak untuk ditakuti, tapi dicintai. Kenapa? Karena sikap hormat orang yang ketakutan pasti tidak tulus. Sementara sikap hormmat yang dilandasi cinta pasti tulus, murni dan jujur. Spiritual yang dilandasi ketakutan dan tidak ketulusan jiwa pada Tuhan, produk keluarnya pasti juga hanya akan menakut-nakuti orang banyak. Sementara spiritual yang dilandasi cinta dan ketulusan jiwa pada tuhan, produk kel;uarnya pasti juga akan dalam bentuk cinta kasih pada sesama ciptaanNya.
    Kau hendak mengenal Tuhan?/ Maka janganlah kau jadi pemecah persoalan/ Seyogyanya, kau pandangi dahulu sekitarmu/ Disitu kau khanlihat Tuhanmu yang tengah bermain dengan anak-anakmu {Khalil Gibran}.
    Kita tidak mungkin bisa mengenal sejatinya Allah, sebelum kita bisa kenal/tahu siapa sejatinya diri pribadi kita. Dan kita juga tidak mungkin akan bisa mengenal siapa diri pribadi kita itu, sebelum kita mau mengenal orang kebanyakan. Spiritualis itu orang yang mencrai kebenaran, bukan orang yang mencari membenaran diri. Jadi spiritualis harus dan tidak takut terbuka terhadap aneka ajaran/pandangan daru luar. Apa-apa yang dari luar itu akan menguji, menguatkan, mungkin juga merontokkan keyakinan yang kita peluki selama ini. Kalau kenyataannya keyakinan yang kita peluki sel;ama ini memang tidak benar dan mewakili jati-diri kita, ya memang harus dirontokkan keyakinan itu, digantikan keyakinan yang lebih  jujur mewakili wajah diri. Spiritual  yang merupakan hasil pencarian diri, bukan spiritual dari warisan orang tua atau tekanan lingkungan belaka.
     Orang yang beribadah, meditasi atau sujud pada sejati Allah, hatinya akan penuh ketentraman dan kedamaian. Dan hanya dari jiwa yang damai akan melahirkan insan spiritual yang matang dan dewasa dalam hidup kesehariannya. Orang yang matang spiritualnya itu, selalu rendah hati, terbuka, toleran sederhana apa adanya, jujur, tidak serakah, pendedam, pemarahan, dan suka iri hati. Orang yang matang spiritualnya juga akan selalu menghargai kerja-keras, tak kenal putus asa, tak pernah demam tujuan dan selalu mensyukuri disetiap pahit-manis  disetiap langkah hidupnya. Orang yang dewasa spiritualnya adalah orang yang bisa dan berani menertawai dirinya sendiri. Mau menerima kritik yang paling pedas dan tak beralasan sekalipun dengan lapang dada.
    Dalam spiritual, pada haqiqatnya kita semua ini sama. Hanya sama-sama murid yang masih belajar pada sang GURU  SEJATI, yaitu Tuhan YME. Jadi meskipun saya bisa ngoceh banyak dan menulis sangat panjang. Sebenarnya aku tak bermaksud untuk menggurui. Saya hanya ingin berdialog, hingga ada proses sharing, untuk berbagi, bersama belajar dan mengajar, hingga semakin tumbuh keyakinan untuk menemukan sang jati diri kita masing-masing, yang akan berujung pada pengenalan haqiqat kesejatian Tuhan itu sendiri.
    Rahayu.

    • Gardu Aktif tulisan bagus,subektif,agak akurat,non refrensi...
      tapi kok gak aa yg nanggepin yach???
      apa karena kepanjangan atau karena pada tertohok dg tulisan ini atau mereka males dg gaya seperti ini???

Kamis, 04 Oktober 2012

REVOLUSI SPIRITUAL


        Didalam Indonesia merdeka, kita merdekakan rakyatnya, kita merdekakan jiwanya (bung Karno}.

            Seperti halnya revolusi sosial, selalu dimulai dari kenyataan-kenyataan/ketimpangan social yang dirasakan oleh orang banyak dan disadarkan oleh satu-dua orang diantara orang banyak. Begitupun dengan revolusi spiritual, dimulai dari kenyataan-kenyataan/ketimpangan spiritual yang dirasakan oleh orang banyak, dan disadarkan oleh satu-dua orang diantara orang banyak.
            Dan sekarang kita lihat, bagaimana kenyataan-kenyataan spiritual yang dirasakan oleh orang banyak pada umumnya saat ini?.Apakah rakyat kita kebanyakan sudah merasakan hidup merdeka didalam kemerdekaan? Sebagai parameter hal itu bisa kita lihat pada mereka-mereka yang masuk golongan minoritas. Apakah mereka sudah merasa aman, bebas dan nyaman sebagai rakyat Indonesia?.  Melihat kenyataan seperti Ahmadiyah, Syia’ah, ataupun kepercayaan-kepercayaan local-tradisional yang ada saat ini. Saya bisa katakan, sebagian  besar rakyat kita sesungguhnya belum merasakan hidup merdeka didalam kemerdekaan.
            Bagaimana dengan jiwanya? Lebih parah lagi. Penuh paradokal. Orang ngaku beragama/spiritualis, bukannya jadi rendah hati, terbuka, toleran, percaya diri.  Justru jadi arogan, fanatic, tertutup dan hanya bisa membebek. Orang mengaku percaya Tuhan maha mendengar, tapi masih juga suka  teriak-teriak lewat pengeras suara memanggil-manggil namaNya. Percaya Tuhan maha tahu dan pemurah,  tapi tiap berdo’a isinya hanya  mendikte dan mengemis-ngemis melulu. Minta naik pangkat,  naik gaji, lancar rejeki, tambah kaya, sepertinya Tuhan itu kepala kepegawaian  di kantor kita saja. Allah kita sembah puja-puji segala kebesaranNya,  lalu kita perah rejeki dan berkahnya tanpa rasa malu.
             Paradokal spiritual seperti itu, sesungguhnya menunjukkan dengan jelas, bahwa keyakinan yang seperti itu sesungguhnya hanya ada di mulut saja. Belum sampai di hati. Teriakkan dan permintaan-permintaan macam itu, dengan jelas juga menunjukkan keserakahan jiwa pelakunya yang sesungguhnya masih buta dan tuli akan segala ke maha mendengaran dan maha pemurahnya Tuhan itu.
            Karena itu tidak usah heran, jika di negeri ini jadi sarangnya para koruptor. Karena dari hal yang paling mendasar, yaitu ibadah. Kitapun sudah terbiasa diajar untuk bermental korup, serakah dan tidak jujur. Kita diajar doktrin pengetahuan (teori) bahwa Tuhan itu maha segala-galanya, tapi kita tidak pernah diajar mengenal sejatinya Allah itu seperti apa. Kita tidak pernah diajar untuk berani berlaku jujur. Kalau memang belum kenal sejatinya Allah itu seperti apa, ya katakan saja apa adanya. Begitupun jika kita sudah percaya dan mengakui akan segala kebesaranNYa. Mestinya apa yang keluar dari mulut kita itu, bukan cuma cerminan kemampuan intelektual kita saja,  tapi memang pengalaman dari pergulatan batin yang telah menyaksikan sendiri akan segala kebesaranNya. Karena hanya dengan demikian, akan selalu ada satunya antara yang di hati, mulut dan perbuatan kita.
             Ini zaman, memang dimana orang lebih suka memuja kebisingan, omong-kosong, iklan dan pencitraan ornamen-ornamen luar yang dangkal, seperti surban, jubah dan jilbab yang rapat. Daripada menghargai ketulusan jiwa. Saat ini banyak orang yang suka asal bunyi (asbun), bahwa agamanya yang paling baik, benar, suci dan sempurna sendiri. Pertanyaan saya; Apa gunanya kita punya agama yang sempurna, kalau kelakuan kita penuh paradokal?.  Sama dengan pertanyaan; Apa gunanya kita punya computer canggih, kalau kita tidak bisa mengoperasikan dan memberi manfat bagi keseharian hidup kita?. Agamapun akhirnya hanya jadi alat menyebalkan, sebagai kesempurnaan yang mengganngu saja?.
            Dan celakanya, saat ini kebanyakan yang beredar adalah agamawan/spiritualis asbun. Spirituali asbun itu memang paling suka beredar dan narsis abis. Orang-orang sok suci dan sok tahu yang lidahnya paling fasih mengutip ayat-ayat dari kitab suci, untuk melegitimasi atas segala yang diucapkannya. Dan ujung-ujungnya kalau sudah terkenal, hanya akan jadi bintang iklan. Jadi corong budaya instan, konsumenrisme dan hedonis.
 Dan umat hanyalah jadi objek/konsumen yang dieksplotasi dan dijejali hasutan-hasutan doktrin yang tak boleh di kritik apalagi di bantah. Hingga umat tak tahu lagi dirinya sendiri. Lihat saja di bulan ramadhan/puasa yang seharusnya jadi bulan penghematan. Kenyataannya, justru terbalik/paradok, jadi bulan pengeluaran belanja yang lebih besar. Ironis sekali, bulan Ramadhan yang di kotbahkan dengan berbusa-busa sebagai bulan suci-spiritualis. Tapi dalam prakteknya, mengikuti ajaran Mark dan Engels, yang di tahun 1848  merumuskan, bahwa sang maha pengatur manusia adalah capital alias modal. Dinamika agama ekonomi ini, menciptakan akumulasi laba dan modal alias uang sebagai dogma dasar yang amat mempengaruhi perilaku manusia secara meluas saat ini.
 Kehidupan berbangsa saat ini yang morat-marit penuh paradokal, kemunafikan, kesejangan social, penindasan, krisis ketauladanan, dekandensi moral, korupsi, maraknya budaya kekerasan dan inferior dihadapan bangsa lain. Semua itu sesungguhnya merupakan cerminan dari sebagian besar jiwa manusia-manusia  Indonesia yang belum merdeka. Dan siapa yang menjajah bangsa ini, dengan tegas saya katakana AGAMA!. Agama yang senantiasa mengajarkan spiritual yang bersifat massal, legal, formal, ritual, tekstual dan normative belaka. Hingga orangpun merasa tidak malu dan berdosa korupsi, selama secara legal-formal tidak bisa dibuktikan di pengadilan?.
Kita telah jadi bangsa diatas kertas (penipu); Beras hasil import di kotbahkan kita surplus pangan. Kita telah jadi bangsa tak berdaulat/punya harga diri; Hasil bumi dikeruk keluar negeri, kita hanya bisa mengemis-ngemis minta tambahan komisi.  Kita tak punya lagi budaya malu; suka berbaju gamis dan sok suci, tapi kelakuannya seperti preman jalanan. Kita telah jadi bangsa pengecut, yang selalu berkiblat pada bangsa lain dan tak punya lagi kebanggaan sebagai orang Indonesia.
Inilah masalah mendasar bangsa kita saat ini, yaitu masalah mental. Dan melihat kenyataan-kenyataan spiritual bangsa kita yang penuh paradokal dan ketimpangan itu, menurut aku, memang sudah saatnya untuk terjadi revolusi spiritual itu. Revolusi mental, revolusi jilid dua, revolusi tanpa pertumpahan darah. Dan jika kita memang ingin mendapatkan jawaban yang mendasar, suka atau tidak suka, kita harus berani mengkritisi agama. Karena agama itu yang jadi mainstream ajaran spiritual yang ada saat ini, yang logisnya juga paling bertanggung-jawab menciptakan mental masyarakat kita yang seperti saat ini.
 Dan tegas saya katakana, kesalahan mendasar kita saat ini adalah, entah sadar atau tidak, kita telah menjadikan AGAMA ITU SEBAGAI BERHALA BARU!.  Agama yang sebenarnya hanyalah ALAT menuju Tuhan. Tapi  agama justru kini dijadikan tujuan  hidup itu sendiri. Bahkan dikalangan orang Islam, ada yang tidak bisa lagi membedakan antara agama Islam dengan budaya Arab.  Mereka menganggap belum sempurna Islamnya, kalau belum tampil dengan meng-Arabkan diri. A’u tidak boleh dibaca angu, dzubi tidak boleh dibaca dubi, ain tidak boleh dibaca ngain. Guru bahasa Arabkupun pernah membentakku,”Bahasa Arab itu tidak senbarangan, salah bunyi lain, bisa-bisa dosa kamu mengubah Al’quran.”
Gila! Mau belajar malah nyari dosa, pikirku. Dalam spiritual, jika pengujapan tajwid yang sempurna lebih utama daripada ketulusan jiwa. Ya, seperti yang kita lihat saat ini, hanya orang Arab dan mereka yang suka meng-Arabkan diri saja yang sepertinya punya otoritas atas agama. Kalau Tuhan tahunya juga cuma bahasa Arab, ya hanya orang Arab dan mereka yang suka meng-Arabkan diri saja yang punya kavling di Surga.
Jadi pencarian dan pengenalan akan Tuhanlah yang seharusnya jadi laku utama dalam kehidupan beragama/spiritual. Bukannya pengenalan wacana agama secara sempurna formal-ritualis. Sayang memang, dunia sufisme yang mengajarkan dan praktek pengenalan langsung akan haqiqat Tuhan itu sejak abad 18 sudah ditolak dan ditentang oleh gerakan Islam puritan yang rasional dan anti mistik. Islampun kemudian  lebih nampak sebagai gerakan social-politik yang mencoba melawan keterdesakan dari dunia/budaya barat. Karena itu tidak mengherankan, jika kehidupan beragamapun kemudian lebih hanya banyak digerakkan oleh semangat pakaian seragam belaka. Kesatuan, kekuatan, massa, militansi, seakan jadi ajaran utama agama. Dan ketika perlawanan menjadi hala yang terpenting, orang memang akan selalu cenderung berpikiran hitam-putih. Fanatik, siapa yang tidak bersama kami adalah musuh kami.
 Begitulah akibatnya, jika orang menjadikan agama sebagai tujuan, bukannya alat. Menjadikan agama sebagai berhala, bukan sekedar peta. Hatinya akan jadi buta dan otaknya jadi tumpul. Tidak bisa lagi menyadari, bahwa hubungan manusia dan Tuhannya itu sesungguhnya bersifat privat/mempribadi. Karena bersifat privat, ibadahpun sifatnya menjadi KEBUTUHAN bukan lagi  KEWAJIBAN!.  Karena jika ibadah kita terima sebagai suatu kewajiban, pasti akan bersifat massal, mekanik, menindas dan mudah melecehkan. Ada tukang becak yang pernah ngeluh padaku begini, “Kalau puasa ngak kuat narik. Kalau tidak puasa dikatai kafir dan tidak Islami.”
Begitulah akibatnya jika spiritual dibawah ikatan agama, hasilnya hanya epigonisme yang hanya berujung paradokal dan keluh-kesah melulu. Lain jika ibadah bisa kita terima sebagai kebutuhan yang bersifat privat. Ibadahpun akan lebih bersifat jujur mewakili wajah diri kita. Seperti kita butuh makan, tiap orang punya selera dan kapasitasnya masing-masing. Jadi hanya ketika ibadah telah bisa kita terima sebagai suatu kebutuhan, sikap TOLERAN akan tumbuh dengan sendirinya dari situ. Karena kita sadar, bahwa untuk hidup tidak semua orang memang harus makan nasi (ikut mainstream). Jadi memang tidak adil, bahkan merupakan penindasan, kesewenang-wenangan dan penjajahan spiritual, ketika seorang tukang becak yang bekerja keras memeras keringat, diwajibkan menjalankan ibadah puasa sama dengan tukang kotbah yang kerjanya Cuma jualan abab!.
Jadi bukan karena dilandasi egoentris, jika aku mencampakkan agama dan lebih suka mendalami-menjalani ajaran laku spiritual bangsa sendiri. Bukan karena di bangsa ini ada ajaran yang lebih baik, ada nabi yang lebih mulia atau ada kitab yang lebih tebal-sempurna. Tidak. Kekuatan utama ajaran spiritual bangsa kita, justru karena tidak menempatkan spiritual itu dalam bentuk kotak besi kaku-dogmatis dengan nama agama. Spiritual itu seperti air yang mengalir, spiritual yang terbuka, hidup dan terus berproses. Spiritual yang menekankan kesadaran, bahwa hubungn manusia dan Tuhannya itu bersifat mempribadi.
Inilah kecerdasan intelektual-spiritual bangsa kita, yang tidak pernah menciptakan agama (consensus kebenaran?) yang selalu berasumsi bahwa apa yang ada dalam agama itu selalu benar. Sekalipun itu hanya ilusi. Dan seperti dibuktikan dalam sejarah, agama adalah proyek kekuasaan. Komunikasipun dibetot dari rohnya, pelan-pelan demi consensus. Dengan bendera iman, semua jadi seperti rumus ilmu past yang harus diterima dengan taklid. Entah sadar atau tidak, disini telah terjadi pemberhalaan agama yang ditopang oleh kekuatan dan kekuasaan, baik dalam bentuk modal, tahta maupun senjata.
Jadi disini aku tidak ingin menuntut adanya perubahan ajaran agama. Disini aku hanya ingin MENYADARKAN kita semua, perlunya paradigm baru dalam memandang agama. Agama hanyalah alat yang juga sering dan bisa ketinggalan zaman. Seperti dalam sejarah gereja Khatolik misalanya, struktur masyarakat telah berubah dari masyarakat agraris menuju masyarakat industry, sementara ajaran gereja Khatolik masih berpegang pada system feodal-agraris. Baru dibawah Paus Leo XIII, gereja mencoba mengeluarkan ajaran social baru karena perubahan struktur masyarakat beserta implikasinya terhadap keadilan social.
Dan di zaman global-digital yang serba cair ini, menurut aku agama juga lagi-lagi terlambat bangun. Yang diwakili agamawan formal-ritualis yang otaknya masih feodal-tradisional; Spiritual hanya untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan. Padahal ini zaman, komunikasilah yang banyak menyelesaikan masalah, bukannya kekuasaan. Sudah bukan zamannya saat ini sikap idiologis {baca; merasa benar sendiri} sikap yang berorentasi dakwah eksklusif, yang memandang keyakinan yang dianut orang lain sebagai salah dan harus ditaubatkan dari keyakinannya.
Memang diperlukan adanya paradigm baru dalam spiritual saat ini. Kata paradigma menjadi populair sejak Thomas Kuhn menerbitkan bukunya,  THE STRUCTURE OF SCIENTIFIC REVOLUTION.  Kata paradigm adalah semacam grundmodell (model dasar) yang digunakan untuk memandang dan merancang sesuatu. Jadi kata pardigma itu mengandung makna yang dinamis bahkan revolutif. Sudah bukan zamannya sekarang seorang spiritualis itu terjebak dalam pemikiran yang dogmatis-formalis. Kita harus pakai otak sebagai karunia Tuhan, dan tidak menghujamkan segalanya hanya pada apa kata kitab suci jika menemui masalah social di dunia ini. Jadi bagaimana membuat iman kita pada Tuhan itu berarti dan apa relevansi iman itu bagi masalah ketidak-adilan yang kita hadapi. Jadi spiritual justru harus bisa jadi pembebas dari tata-nilai membelenggu-dogmatis yang hanya akan membuat kita jadi manusia kerdil, bodoh dan sempit wawasan.
 Kita tidak mungkin akan bisa menghargai bangsa sendiri, sebelum kita bisa menghargai diri kita sendiri. Kita juga tidak mungkin akan bisa mengenal sejatinya Tuhan, sebelum kita bisa dan mau mengenal siapa sejatinya diri pribadi kita sendiri. Jadi memang perlu kita itu untuk bisa mengenal siapa diri kita itu. Dan itu tidak pernah diajarkan, bahkan ditentang oleh agama. Tahu kenapa? Karena jika kita bisa mengenal diri sendiri, kita akan jadi punya percaya diri. Dan jika kita bisa mengenal sejatinya Ilahi, sebagai alat, otomatis agama akan tidak laku lagi alias bangkrut. Dan hal seperti itu jelas tidak pernah diinginkan oleh mereka-mereka yang suka MEMBERHALAKAN AGAMA.Karena mereka bisa hidup karena jualan agama, bisa menjajah bangsa lain karena bendera agama, bisa berkuasa karena bersenjata agama.
Akan panjang sekali ceritanya jika kita kupas relasi antara agama dan kekuasaan itu.  Mungkin lebih baik kita mulai saja dari hal yang paling mendasar dan sederhana; yaitu jika kita mati kelak, kita juga harus berjalan sendiri. Kita tidak bisa lagi membawa dan hapal kitab suci, para nabi dan orang suci juga tidak mungkin bisa nemani kita lagi. Karena itu kita memang butuh punya kepercayaan diri dengan jalan mengenal sang diri pribadi, yang akan berujung pada pengenalan haqiqat Tuhan itu sendiri. Sebagai spiritualis, kita tentunya percaya, hanya Tuhanlah yang akan bisa jadi pebimbing sejati kita, baik di dunia ataupun di alam nanti. Dan hanya orang-orang yang mencintai Tuhan diatas rasa cintanya pada apapun termasuk agama, yang akan berani selalu merevolusi jiwanya setiap saat.
Sekarang semua kembali kepada  kita masing-masing, merasa perlukah kita perubahan  atau revolusi spiritual itu?
  •  
Top of Form

    •  
    • http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-ash4/275742_100000305339212_722972788_q.jpg