Sabtu, 03 November 2012

KESEDERHANAAN YANG MENENTRAMKAN



            Bumi cukup persediaan untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi tidak akan cukup untuk memenuhi keserakahan kita(Gandhi). Kata-kata sang Mahatma dari India itu pernah aku saksikan langsung dalam kehidupan riil suku Bajo (suku laut) yang terasing. Dengan nada bergurau mereka katakan, “ lautan ini seperti kulkasnya Tuhan. Kita boleh mengambil kapan  dan apa saja isinya, tanpa harus merasa sebagai penguasa/pemilik apalagi merusak lemari esNya.” Aku juga pernah masuk di beberapa suku di pedalaman belantara. Mereka juga tidak pernah merasa sebagai penguasa/pemilik itu hutan. Mereka justru merasa jadi bagian dari belantara. Dan mereka mencintai sekaligus menghormati tempat tinggal hidupnya itu.
            Orang-orang yang katanyanya modernlah yang kemudian mematok HPH disana-sini. Para penganut pragmatisme yang selalu ingin mencapai target tertentu, lalu entah?. Pragmatisme yang seringkali juga diartikan sebagai kesediaan bermain curang dan menghalalkan segala cara?. Orang modern yang tidak ada bedanya dengan gerombolan pengendara motor besar, yang tidak toleran dengan sesama pemakai jalan/sesama pembayar pajak. Suka rame-rame menerobos lampu merah, dikawal polisi segala.
Mereka itu sesungguhnya hanya gerombolan para pengecut dan penakut yang tak paham rahasia petualangan. Masak petualang kok dikawal. Para penganut pragmatisme dan pengendara moge itu sebenarnya tidak ada bedanya dengan para pelaku bom bunuh diri. Sama-sama orang yang demam tujuan.  Orang yang ingin cepat-cepat sampai tujuan dan tidak bisa melihat dan mensyukuri keindahan dan rezeki yang dilimpahkan Tuhan disetiap langkah hidupnya. Orang yang merasa unggul tanpa dasar, suka bertingkah arogan dan meremehkan orang lain yang tidak masuk golongannya.
Saat ini banyak orang beragama/menjalankan laku spiritual karena dilandasi pemikiran pramatisme/otak pedagang. Ketika orang beribadah atau beramal dengan harapan bisa masuk Surga, jujur itu juga spiritual yang dilandasi otak dagang, spiritual penuh pamrih alias spiritual achievement.  Sudah lama aku tinggalkan spiritual sok tahu, sok pintar, sok suci, sok pasti dan sok benar sendiri seperti itu. Dan pada orang-orang sederhana yang gaptek, udik itu, justru aku kini banyak belajar tentang ketulusan dan kejujuran yang sekarang seperti jadi mahkluk langka.
Hidup tidaklah sepenuhnya merupakan perhitungan untung dan rugi. Spiritual itu tidak harus cantik, modis, sexy dan pintar, seperti SPG yang bersiasat mengambil hati orang lain dan memperoleh hasil besar karena senyum manis di bibir. Spiritual tidak ada hubungannya dengan surban, jenggot ataupun jubah. spiritual adalah soal ketulusan, kejujuran kerendahan hati, toleransi, keterbukaan, sekaligus keberanian bersikap walau harus menentang mainstream. Tidak menipu diri, bahagia dengan hidupnya dan tak pernah demam tujuan.
Pronocitro jatuh cinta pada Roro Mendut dan menikmati cinta itu tanpa peduli apa nanti hasilnya. Mereka juga siap mati demi cinta, tanpa bertanya buat apa? Untungnya apa? Ada kekonyolan disana, sekaligus kejujuran. Ada kenekatan disana, sekaligus keindahan yang tidak palsu.
Dari orang-orang sederhana itu aku banyak belajar, untuk bisa menangkap keindahan dari hal-hal sederhana yang ada disekitar langkah kita. Hidup dengan keindahan itu yang membuat kita bisa bersyukur. Bisa memberi tanpa pernah merasa kehilangan.  Merasa cukup tanpa harus menjadi serakah, seperti ketika kita memejamkan mata dan mendengar suara hujan yang mengguyur dedaunan. Tuhan menyapa kita tidak hanya lewat kitab suci dan kotbah para nabi. Tiap waktu Tuhan menyapa kita, lewat daun gugur atau kicau burung, lewat gugusan bintang-gemintang atau bening embun malam, lewat kerasnya ombak di karang atau lembutnya kabut di gunung dan sebagainya.
 Hidup di zaman yang penuh saling curiga, pragmatisme dan segalanya serba dinilai dari uang. PERCAYALAH!. Saat ini masih ada orang yang tulus jiwanya dan bebas dari ikatan materi. Orang bijak-rendah hati yang bebas dari demam tujuan. Jika selama ini anda merasa belum menemukan orang seperti itu, berkacalah! Orang itu akan langsung berdiri dihadapan anda. Anda hanya perlu untuk mengenalnya lebih dalam lagi.
Jadi kenapa harus takut jadi diri sendiri? Jika itu bisa bikin kita lebih mengerti akan rahasia-rahasia Illahi. Tuhan adalah keindahan. Dekat denganNya  akan membuat kita bisa melihat keindahan kemanapun kita memandang dan melangkah. Dan jika waktunya ajal akan menjemput kita. Kitapun kan bisa menghadapi dengan lapang dada dan senyuman dibibir. Tidak ada takut lagi, karena sudah biasa bertualang sendirian. Tidak ada gentar lagi Karena dalam kepasrahan Pada KuasaNya, segalanya indah adanya. Hidup indah matipun indah, siang indah malampun indah,  fajar indah senjapun indah, Surga indah nerakapun indah.
Kalau bisa memilih, anda akan memilih  bisa/mampu melihat keindahan Neraka, atau bisa masuk Surga tapi tersiksa. Dalam kehidupan nyata, sekarang ini banyak orang berlomba-lomba bahkan dengan menipu diri agar bisa masuk dan dicap golongannya para sosialita (surganya dunia?).  Tapi ada seorang wanita kuaya-raya yang justru merasa capek dan tersiksa hidup di dunia gemerlap yang penuh iri hati dan keserakahan itu.  Wanita itu justru kini lebih suka berkeringat menari dan melakukan meditasi untuk lebih bisa mengenal kesejatian diri.
. “Kesederhanaan itu ternyata menentramkan dan mengasyikkan.” Begitulah wanita itu pernah mengatakan. Yah,  hidup dan penampilan wanita itu  kini memang lebih sederhana dan apa adanya. Sementara untukku sendiri yang hanya seorang gelandangan, cukup meyakini ucapan RM. Sosrokartono, bahwa benar kita bisa SUGIH TANPO BONDHO!.

Senin, 22 Oktober 2012

BUDAYA KEKERASAN DI BULAN HAJI

-->




            Setiap hari-raya Idul Adha atau hari-raya Haji, hati saya selalu miris, melihat budaya kekerasan (pedangkalan iman) yang dibungkus kesolehan ritual dalam bentuk penyembelihan massal hewan ternak. Kata pak Ustad, ritual itu untuk mengingat dan menaulani, kecintaan nabi Ibrahim kepada Allah yang lebih besar dari apapun, termasuk pada anaknya sendiri. Maka Tuhanpun lalu menguji kecintaan nabi Ibrahim itu dengan menyuruhnya menyembelih anaknya sendiri.
            Ibrahim dalam versi Islam. Dalam versi Kristiani disebut Abraham, dengan julukannya yang terkenal, sebagai Bapak Segala Bangsa. Beliau ini memang jadi cikal-bakal dari ketiga agama besar yang ada saaat ini, yaitu yahudi, Kristiani dan islam. Dan yang menjadi pertanyaan, kenapa ritual penyembelihan korban itu hanya ada dalam ajaran agama islam saja?. Dalam kitab Perjanjian Lama,  Nabi Musa justru mengutuk dan menentang segala bentuk persembahan korban seperti itu dengan mengatas-namakan ALLAH!.
            `Kalau mau jujur, bagaimana kita bisa yakin bahwa ritual penyembelihan hewan itu sudah betul, atau sudah merupakan manifestasi protektif dari laku spiritual yang baik, jika ritual itu hanya karena didasari dari satu sudut pandang saja.  Ironis memang, dalam Islam itu sendiri banyak para cendikiawan dan orang-orang bijaknya yang setiap hari memuja-muji akan kemaha-pengasih dan penyayangnya Tuhan itu. Tapi ketika Idul Adha, semua kompak mendukung pembantaian massal hewan ternak. Untuk menyenangkan Tuhan?. Untuk membuktikan kecintaan kita pada Tuhan? Atau untuk menyogok/suap Tuhan? Agar kita bisa menikmti kemewahan Surga?.
            Bukankah hewan-hewan itu juga mahkluk ciptaan Tuhan?. Jadi sungguh tidak bisa masuk di logika saya,, bagaimana kita bisa mengekspresikan kecintaan kita pada Tuhan, dalam bentuk pembantaian hewan/mahkluk ciptaannya. Jika kita memang benar-benar cinta Allah,  tidakkah seharusnya, dalam prakteknya justru kita harus mencintai dan menghormati semua mahkluk-mahkluk ciptaanNya?.
             Benih apa yang kita tanam di jiwa, dapat kita lihat buahnya dalam tingkah-laku dan perbuatan kita. Dan menurut aku, ritual penyembelihan hewan di  hari raya Idul Adha itu, hanya menunjukkan dengan jelas benih apa yang tertanam dalam ajaran itu, yaitu KETAKUTAN!. Dan secara ilmu psikologis, memang benar; Orang yang ketakutan biasanya memang jadi bengis!. Orang takut miskin, jadi tega rampok-bunuh, orang takut kehilngan jabatan, jadi tega melibas lawan-lawan politiknya,  Orang takut tidak dihargai, jadi tega menipu diri dengan berlagak sok suci,  Fir’aunpun tega bunuh bayi-bayi tak berdosa-berdaya karena ketakutan dengan ramalan adanya bayi yang akan mengguncang kekuasaannya. Dan dalam kontek pembantaian hewan di bulan haji, yang saya lihat hanyalah ekspresi dari orang-orang yang ketakutan tidak kebagian kavling di Surga!.
            Spiritual/agama yang didasari ketakutan pasti nilainya tidak dalam. Kalau mau berani, kita harus punya banyak pengetahuan dan kalau mau jadi bijak, harus mau mengenal kebanyakan orang dengan segala kompleksitasnya secara lebih baik. Dan pedangkalan iman itu yang membuat kebanyakan orang islam takut perubahan. Padahal makna spiritual itu sendiri sebenarnya adalah perubahan. Prubahan dan perubahan menuju ke hal yang lebih baik. HIKMAH (KEBIJAKSANAAN) ADALAH BARANG MILIK ORANG BERIMAN YANG HILANG, MAKA DIMANAPUN KAU TEMUI PUNGUTLAH!.
             Tuhan juga memberi kita kemampuan membedakan mana barang bernilai dan mana sampah. Dengan sedikit saja kemampuan berpikir kritis, jika kita mau dan berani jujur, kita pasti bisa menilai; Budaya penyembelihan hewan di bulan haji itu sebenarnya sesuatu yang bernilai ataukah hanya ajaran sampah?.
            Orang yang biasa menguyah ajaran sampah kekerasan, akan cenderung jadi manusia sombong, arogan, pemarahan, otoriter, pendendam dan suka membalas. Ada studi memperlihatkan, seorang penindas belajar kekerasan dari orang-tuanya. Orang yang suka melakukan kekerasan adalah orang yang punya kepribadian neurosis. Dia akan mencari legitimasi dari agama, dari idiologi atau dari apapun. Prahara sosial yang terjadi di tahun 1966 ataupun di tahun 1997/1998 ataupun beberapa tindak kekerasan bernuansa SARA yang mudah meledak akhir-akhir ini. Menurut saya, semua itu terjadi karena mainstream sistem pendidikan kita yang lebih menekankan pada kepatuhan yang dilandasi oleh ketakutan belaka! Contoh kecil dalam keluarga, bagi saya, suami yang mengurung rapat istrinya dan memaksa istrinya di rumah dan tidak boleh keluar rumah, adalah jenis manusia yang punya masalah di dalam jiwanya.
            Ketika pendidikan formal lebih banyak bertumpu  pada scientific modern yang terkotak-kotak dan tak melibatkan emosi. Maka menurut saya, pendidikan di keluarga adalah benteng terakhir untuk pembentukan karakter anak. Kalau dari awal anak di didik karakter yang bagus, anak pasti akan jadi manusia yang terbuka dan toleran. Jika anak di limpahi kasih-sayang, saya kira anak juga akan tumbuh jadi anak yang penuh kasih-sayang. Tapi kalau kita memang ingin punya anak-anak/generasi penerus yang suka korup dan kekerasan, ya suapi saja anak-anak kita dengan sampah kekerasan dan ketakutan!.
            Kesalahan  yang terus-menerus dilakukan,  pada akhirnya akan menjadi kebiasaan (imun) yang tak lagi dirasa/anggap sebagai kesalahan. Tapi efeknya paradoknya akan bisa kita lihat, contohnya bisa kita lihat; Orang suka teriak-teriak, “Tuhan maha pengasih dan penyayang!” Tapi kelakuannya bengis dan kejam, suka meneror dan memuja kekerasan.
            Atas nama agama sekarang membunuh binatang untuk dapatkan Surga. Tidak menutup kemungkinan, besok_besok jika ada ulama yang berfatwa “Bahwa kavling di Surga bisa dibeli dengan darah manusia!!!” Saya percaya,  mereka tidak akan segan-segan pula untuk membunuh sesama manusia.
           
Sebagai penutup, disini saya hanya mau bertanya, “Masihkah kita secara hati nurani dan akal sehat, bisa membenarkan BUDAYA KEKERASAN DI BULAN HAJI, itu, meskipun hanya pada binatang??????????????”

Foto Saya

Senin, 15 Oktober 2012

SATRIO PININGIT, SIAPA ITU?

  • Dewasa ini, kita sedang mengalami die neue unubrsichlichkeit atau ketidak jelasan baru (Jurgen Habermas). Kita sama-sama tidak tahu, mengapa masalah terjadi dan bagaimana sesuatu itu bisa diatasi. Mengapa orang bisa berteriak Tuhan maha pengasih, sekaligus berkelakuan bengis? Mengapa kerusuhan massal mudah meledak, hanya karena hal-hal yang sangat sepele?. Mengapa nilai rupiah mendadak anjlok dan sebagainya. Dan dalam momentum-momentum besar, ketika terjadi krisis kepemimpinan atau saat rakyat merasa tertindas hidupnya, banyak orang suka menyebut dan mengharapkan hadirnya sang SATRIO  PININGIT!.
                Piningit (bahsa Jawa) artinya tersembunyi/misteri. Karena kemisteriusannya itu, maka aneka tafsirpun bermunculan mengenai satria yang satu ini. Dan yang paling banyak diyakini masyarakat, satria ini merujuk pada salah satu sosok atau tokoh. Tokoh suci, manusia ideal semacam nabi baru yang akan membawa/menuntun umat manusia kepada keadaan yang lebih baik?.
                Saya termasuk orang yang percaya, akan datangnya massa Satrio Piningit seperti yang tertulis di Jangka Jayabaya itu. Tapi menurut saya, Satrio Piningit itu tidak dalam bentuk sosok manusia, tapi dalam bentuk system atau tatanan baru yang lebih bersifat memanusiakan manusia. Karena jika aspirasi Satrio piningit itu dalam bentuk sosok manusia, itu akan menjebak dan menjerat kita pada pengkultusan nabi baru. Nabi baru yang harus diikuti ketauladanannya? Ajaran-ajarannyapun kemudian disusun sebagai kitab suci? Lalu disebar-luaskan layaknya agama?.
                Dalam suatu krisis yang gawat, memang biasa lahir seorang pemimpin yang komplek. Bukan hanya pemimpin politik, tapi juga seorang manejer kebersamaan sekaligus sebuah mercu-suar moral sekelas nabi.  Tapi realitas sejarah juga mengajarkan kepada kita, Agama demi agama turun ke bumi, tapi dosa toh tetap saja terus mengalir. Banyak orang percaya agama itu mulia, tapi sejarah toh ternyata tidak banyak mencatat adanya penguasa yang mulia. Banyak orang kagum dan menziarahi keindahan kuburan Saladin di Damaskus atau kuburan Richard Lionheart di Fontevraud, Prancis. Tapi tahukah anda, berapa ribu orang yang mati sia-sia tanpa kuburan demi perang konyol yang katanya suci itu? Pernahkah anda dengar kisah, Ingmar Bergman, dalam The Seventh Seal? Kisah tentang Antonius Blok yang pulang dari perang salib/suci, yang ditemui ternyata bukan orang-orang yang menjadi suci, justru yang ditemui hanyalah orang-orang yang ketakutan dan karena itu jadi bengis.
                Dengan kata lain, kekuasaan yang bersandar pada moralita/agama itu tidak memadai. Bahkan punya kekacoannya sendiri. Moralitas seorang pemimpin memang bisa punya kekuatan sebagai tauladan. Tapi hanya sampai disitu. Dan begitu sang nabi wafat, lihat apa yang terjadi dalam agama Islam misalnya. Masih satu agama saja pada saling bunuh, merasa paling benar dan rebutan kekuasaan begitu nabi Muhamad wafat.
                Jadi bagiku, orang yang mendambakan hadirnya Satro Piningit dalam ujud sosok manusia, hanyalah orang-orang yang sudah terjangkiti penyakit masyarakat modern yang cenderung suka mencari penyelesaian masalah secara instan. Kita itu tidak hanya punya problem moral, politik dan ekonomi. Tapi yang paling mendasar, kita itu punya problem pengetahuan. Karena tidak tahu, kita jadi mudah terjerumus dalam penyelesaian yang dangkal dan instan. Kebutaan pengetahuan itu, selain membuahkan pemahaman yang dangkal, sekaligus juga mencerminkan ketidak-mampuan kita untuk mengerti permasalahan MENDASAR  kita sendiri.
                 Di zaman digital-globalisasi saat ini, sejarah memang berubah secara drastic, cepat dan tidak terduga. Terjadi semacam lompatan kualitatif yang menyebabkan perubahan cultural secara global pula. Terjadi transformasi cultural yang menciptakan suatu realita baru. Banyak orang beranggapan,  kemajuan teknologi hanya menyebabkan dekandensi moral. Saya sendiri, termasuk orang yang optimis bahwa kita sedang menuju dunia baru. Dan yang diperlukan dalam dunia baru itu, bukanlah ajaran baru, agama baru atau datangnya Satrio Piningit dalam ujud manusia sebagai nabi baru. Tidak!.
                Yang diperlukan, bukanlah nabi baru, tapi keberanian kita untuk intropeksi diri. Mawas-diri dengan jujur. Dan mau menyelami lebih dalam agama masing-masing hingga bisa melihat apa yang disebut dengan relio perennis yaitu aspek-aspek abadi dalam agama.  Dan di dasar semua ajaran agama itu, yang akan diketemukan hanyalah satu dan sama; yaitu,  BAHWA TUHAN ITU MAHA TERSEMBUNYI, MAHA MISTERI, MAHA PININGIT!.
                Tuhan yang tidak bisa dimonoli atau diklaim milik nabi, golongan atau bangsa tertentu. Tuhan yang universal. Dan kita akan bisa melihat kesejatian Tuhan yang seperti itu, jika kita lebih dulu berani menanggalkan sikap dan benteng-benteng dogmatis yang sedemikian lama mengurung dan membutakan pengetahuan kita. Dan dari kesadaran/kepercayaan akan Tuhan Yang Maha Misteri itu, dari situ akan menumbuhkan diI jiwa kita sikap rendah hati, terbuka dan toleran dan menghargai proses pencarian yang terus-menerus.
                 Agama atau nabi baru tidak akan mungkin dapat mennyelesaikan masalah di zaman global-digital ini sendirian. Inovasi tidak datang dari agama. Inovasi terjadi karena dialog. Di zaman Satrio Piningit,  agama yang bersifat dogmatis-ritualis pasti akan kehilangan pamornya. Tapi bukan berarti agama akan kehilangan perannya sama sekali. Agama akan tetap punya peran, selama tidak berpegang pada arogansi lama dan menjauhkan diri dari nafsu intervensi.
                Dan tahukah anda? Inilah ajaran spiritual nenek-moyang bangsa kita yang luar-biasa sekaligus terlupakan. Ajaran spiritual yang tak pernah meletakkan Tuhan dalam kotak mati dogmatis-ritualis yang bernama AGAMA!, Tidak pernah mencipta-puja   berhala yang bernama AGAMA!. Ngelmu iku kelakone kanti laku. Spiritual itu hidup, mengalir terus seperti air. Spiritual yang terus berproses. Spiritual yang timbul dari suara kebenaran/tuntunan Allah yang berintikan penyadaran sendiri bukan tiruan dari dogma atau dogtrin belaka.
                Kita kenal filsafat Yunani, filsafat, Romawi, Filsafat Jerman, tapi filsafat bangsa sendiri kita tidak kenal? Bagaimana kita akan jadi bangsa besar? Kalau dengan kepribadian bangsanya sendiri kita tidak kenal. Kita memuja-muji kesempurnaan ajaran agama dari negeri seberang, seolah-olah Tuhan cuma bermukim disana dan milik mereka. Padahal Tuhan juga ada disini.  Dan kesempurnaan juga hanya milik Allah, bukan milik bangsa Arab atau yahudi. Bagaimana mungkin bangsa lain akan menghargai kita, kalau sebagai bangsa kita tidak punya karakter/percaya diri dan lebih suka membebek atau membeo belaka.
                 Jadi memang pantas dicuriagai sikap agamawan yang sok suci, sok tahu dan sok pasti itu. Menurut saya, kebanyakan agamawan saat ini, kelakuannya tidaklah lebih daripada seorang Marxis, yang suka menyombong; Bahwa segala sesuatu sudah ada jawabnya pada kami!. Hanya bedanya, yang Marxis menyombongkan  dealitika pemikiran kritisnya, sementara yang agamawan menyombongkan kesempurnaan agama/kitab sucinya yang bisa menjawab semua pertanyaan?. Karena kedua-duanya juga memberhalakan hal yang sama, yaitu materi, yang satu dalam bentuk pemikiran dan satunya dalam bentuk dogma.  Maka lihat saja kalau ketemu, keduanya pasti akan memperlihatkan sifat dasarnya yang sama pula’ Suka intervensi dan emosian. Suka melecehkan, berkelahi, bahkan berkelakuan bengis demi tuhannya ( dengan ’t’ kecil).
                Selain PEMBERHALAAN AGAMA, saat ini juga banyak orang yang MEMBERHALAKAN PEMIKIRANNYA. Filsafat modern telah menempatkan akal sebagai pusat dalam setiap subyek manusia. Pkiran dinobatkan sebagai satu-satunya penguasa yang berwenang sebagai penentu segala arah, cikal dan muasal segala gerak. Seorang Marxis berpandangan, bahwa yang ada atau menjadi asas cuma materi, dan apa yang dinamakan nyawa, roh atau Tuhan itu hanya tipuan angan-angan atau produk materi belaka.
                Seperti agamawan yang merasa menemukan kesempurnaan wajah tuhan dalam kitab suci. Ilmuwan Stephen hawking yang kondang sedunia itupun ingin bisa mencipta/temukan suatu teori yang sempurna (Agama pemikiran?). yang dapat dipakai semua orang untuk menjawab pertanyaan mengenai, mengapa kita dan jagat-raya ini ada. Kesimpulan beliau, jika teori macam itu bisa diketemukan, itulah kemenangan terakhir manusia, karena berarti kita telah tahu pikiran Tuhan!. Luar-biasa! Sama-sekali tidak ada bedanya khan kesombongan orang Marxis dan agamawan dogamatis-ritualis itu?.
                Kecerdasan, kreatifitas, dan pemikiran maju, bagiku itu hanyalah semacam mujijat  karunia Tuhan yang turun di zaman digital ini. Dan seorang spiritualis tidak akan memuja mujijat, tapi memuja yang memberi mujijat, yaitu Tuhan YME. Siapa dikaruniai mujijat oleh Allah, memang akan menjadi semacam dewa diantara sesamanya. Dan hanya orang yang masih mempercayai adanya Tuhan,  yang akan terhindar dari kesombongan. Kita boleh saja punya hasrat melakukan perubahan social secara radikal, tapi tetap perlu demensi spiritual  (kerendahan hati) itu agar tidak terjatuh dalam Totalitarianisme! Baik atas nama agama atau demi kepentingan orang banyak.
                Nenek moyang bangsa kita mengajarkan, Bahwa kesejatian Tuhan itu tidak bisa didekat/pahami dengan kecerdasan otak. Otak itu terbatas. Tuhan tidak pula bisa didekati/pahami dengan kesombongan penguasaan agama secara sempurna. Kesejatian Tuhan hanya bisa dipahami/dekati dengan ketulusan, kemurnian, dan kesucian jiwa.  Maka jika Deskrates katakan, Aku berfikir maka aku ada. Orang beragamapun juga sama; Aku beragama maka aku ada. Seorang spiritualis justru akan mengatakan,  AKU BERTUHAN MAKA AKU TIDAK ADA (luluh egonya) yang ada hanyalah Allah.
                Jadi bagiku, massa satrio Piningit adalah massa ketika kita kembali menggali ajaran-ajaran luhur bangsa kita sendiri. Massa ketika kecerdasan intelektual berpadu dengan kearifan spiritual, yang akan bermuara pada pencapaian haqiqat kebahagiaan dan kesejatian hidup di dunia. Massa ketika orang tidak lagi mempermasalahkan soal suku, ras, agama, gender, orientasi sexsual ataupun status social ekonomi, yang penting orang itu baik, jujur, terbuka, toleran, dan punya empati pada penderitaan sesama.
                 Jadi bagiku, satrio Piningit itu tidaklah merujuk pada salah satu tokoh atau orang. Kalau toh kita mempercayai, Satrio piningit itu dalam ujud sosok manusia yang baik, mengapa tidak kita semua berlomba-lomba untuk menjadi Satrio Piningit? Berlomba-lomba menjadi orang baik tanpa harus mengaku-aku sebagai satrio Piningit! Dan hal seperti ini pula yang aku harapkan/percaya: Bahwa massa satrio piningit itu akan datang karena dari adanya koalisi besar dan murni dari seluruh komponen bangsa yang bersifat lintas sektoral, lintas agama, lintas golongan, lintas ras dan etnik. Koalisinya orang-orang yang mencintai sejatinya Tuhan (terserah apa anda memberi nama) diatas rasa cintanya terhadap harta, tahta, agama, nama besar dan sebagainya. Koalisinya orang-orang yang mendapat tuntunan dari Allah. Koalisinya orang-orang yang sadar dan percaya, bahwa Tuhan itu maha tak terbatas, maha misteri, maha piningit!.
                 

Selasa, 09 Oktober 2012

KUBURAN BUAT PARA SPIRITUALIS

  •     .
       
    Ini kisah kematian teman ku yang penganut kepercayaan terhadap Tuhan YME. Sebagai seorang pelaku spiritual minoritas/bukan mainstream yang selama hidupnya selalu menyatakan diri sebagai orang yang tak punya agama. Kematiannyapun jadi polemic. Harus di kuburkan dengan prosesi pemakaman macam apa orang seperti ini?.
    Bagi si mati sih tidak ada masalah. Mau dikuburkan dengan prosesi pemakaman macam apa juga  tidak mungkin akan protes. Masalahnya justru pada yang hidup. Pada anak, istri dan keluarga besar yang di tinggalkannya. Dalam keadaan berkabung, bukannya penghiburan yang mereka dapat. Tapi justru gunjingan dan cibiran menyakitkan yang mereka dapat. Ada juga orang yang berkotbah di hadapanku begini, “Begitulah akhir hidup orang kafir yang selama hidupnya tidak tahu dan mau tahu agama. Matinya hanya bikin malu keluarga saja!”
    Disindir begitu, aku hanya tersenyum. Dalam anganku terbayang kisah hidup para khalifah sahabat nabi Muhamad. Siapapun yang pernah mempelajari sejarah perkembangan agama Islam pasti tahu. Selain  Abu Bakar, ketiga khalifah sesudahnya semua mati terbunuh dengan tragisnya. Bahkan khalifah Usman, beliau tewas dibunuh oleh orang Islam sendiri. Salah satu persendiannya dipatahkan. Dalam Islam ada hukum, untuk tidak boleh terlalu lama menunda-nunda pemakaman bagi orang mati. Tapi jasad khalifah Usman sampai tertahan dua malam. Sebagian kaum Muslim juga tidak mau menyolatkan dan melarang di makamkan di pekuburan Baqi. Di bawah lemparan batu, akhirnya jasad beliau di makamkan di Hisy Kaukab yang merupakan area pekuburan orang Yahudi!.
    Kita semua tentu juga tahu, bagaimana akhir kematian orang-orang yang kuat mengukuhi kebenaran yang diyakininya, seperti Sokrates, Yesus, Al’halag ataupun para pejuang bangsa yang tak pernah kita ketahui bagaimana akhir nasibnya  dan  dimana kuburnya. Karena itu, aku sendiri tak pernah peduli, seperti apa wajah kematian yang akan menjemput ku kelak. Begitupun dengan bentuk prosesi pemakamannya. Karena semua itu bukan gambaran dari nilai kwalitas spiritual kita.
    Selama menggelandang aku juga mencatat , bagaimana ada kuburan khusus orang Islam, khusus orang Nasrani, khusus etnis tertentu, khusus orang kaya, khusus anggota keluarga, khusus orang suci, khusus para pahlawan dan sebagainya. Aku juga pernah mengunjungi satu makam yang di sucikan oleh orang banyak. Tapi aku tidak boleh masuk. Kata si penjaga makam, yang boleh masuk di area pekuburan itu hanyalah orang-orang penting saja.  Akupun langsung membungkuk sambil kentut, ada-ada saja, batu nisan kok maunya hanya dikunjungi orang-orang penting saja, termasuk para artis dan selebriti?.
    Kuburan hanyalah lambang, symbol dan pengingat kita akan adanya alam kematian. Kematian merupakan peristiwa yang akan kita alami semua dan tidak mungkin untuk bisa dihindarkan, mengingat akan adanya peristiwa pembentukan dan penghancuran, seperti yang kita kenal dengan istilah anabolisme dan katabolisme dalam sel organism. Mengingat akan hal itulah, saya jadi punya ide untuk membuat kuburan yang akan jadi rumah masa depan kita bersama.
    Dalam benak saya, ada gambaran tentang punden berundak (lambang laku spiritual). Punden berundak sederhana tanpa relief dan hiasan apa-apa, seperti stupa di puncak candi Borobudur  (lambang puncak spiritual yang sesungguhnya memang sangat sederhana). Punden berundak yang puncaknya berlubang  dan tembus ke aliran sungai/samudera (lambang kembalinya ke tanah-muasal. Dan di puncak punden berundak itulah, abu kremasi jasad kita semua disemayamkan. Jadi istilahnya, kuburan model SALOME (satu lobang rame-rame).
    Dan aturan dasar di kuburan ini ada dua;
    1. Siapapun yang mau dikuburkan disini, jasadnya harus dikremasi/bakar, sebagai lambang dari totalitas laku spiritual yang telah bisa melepaskan diri dari himpitan benda-benda keduniawian. Lambang dari kemerdekaan jiwa yang telah bisa bertahan dari rasa kekurangan badan.
    2. Siapapun tanpa terkecuali boleh dimakamkan disini. Tak peduli apa itu suku, ras, agama, status social-ekonominya,  jenis kelamin ataupun orientasi sexsualnya dan sebagainya. Orang atheis? Mereka yang mengaku dirinya sebagai orang atheis juga boleh dimakamkan disini. Bagiku orang atheis juga seorang spiritualis (dalam pemikiran) karena masih mencari. Seorang PSK? PSK juga boleh dan berhak mendapat penghormatan pemakaman yang sama disini. Alkisah, ada seorang psk yang berjalan bersimpangan jalan dengan seorang biarawati. Dan sang bijakpun ditanyai pendapatnya tentang kedua perempuan itu. Maka jawab sang bijak, “Sesungguhnya aku sedang melihat dua wanita yang sedang sama-sama berjalan menuju rumah Allah (tanah-muasal). Hanya bedanya, yang satu berjalan dengan do’a, sementara satunya lagi berjalan dengan air-mata.”

    Jadi siapapun boleh dimakamkan disini, karena seperti sang maut, dia juga mau menjemput siapapun tanpa pilih-pilih. Kuburan macam begini, selain untuk memberi penghormatan yang layak kepada siapapun yang meninggal dunia. Kuburan macam begini, bisa juga jadi rumah ibadah dan tempat ziarah kita bersama. Jadi tempat kita berkumpul, untuk berbagi kekuatan dan kasih. Tempat kita merenungkan akan haqiqat hidup kita. Tanah-muasal kita. Tempat kita berani memasuki medan pertempuran terbesar, yaitu perang terhadap hawa nafsu kita sendiri. Tempat belajar meluluhkan sang ego diri.Hingga kita akan sampai pada satu titik kesadaran; Bahwa kita semua itu sesungguhnya SAMA. SAMA seharkatnya sebagai citra Allah yang sederajat. Sekaligus SAMA pula sebagai pribadi-pribadi yang berhak menentukan diri kita masing-masing. Jadi kuburan ini juga akan jadi lambang dari  TOLERANSI DAN  PLURALISME. Bhineka tunggal lobang?. Jka kita memang tidak bisa satu dalam pemikiran, paling tidak kita masih bisa satu dalam diam, dalam meditasi. Begitu juga satu dalam kuburan.
     Kuburan macam begini juga akan bisa jadi symbol ikatan emosional anak cucu kita semua  kelak. Lewat kuburan model begini, kita ajarkan apa itu makna haqiqatnya spiritual. Sekaligus kita beri contoh ketauladanan yang nyata, bahwa meskipun berbeda-beda kita tetap bisa bersatu. Walau hanya bersatu di lobang kubur. Kuburan juga bisa jadi tempat kita intropeksi. Mawas-diri dan bertanya, “Apakah hidup?”  Serta sejenak mengabaikan pertanyaan, “Bagaimana harus hidup?”.  Karena dalam keseharian kita sudah terlalu banyak dijejali pertanyaan, “How to live?” dan cenderung mengabaikan pertanyaan, “What  is life?”. Mana asal, mana kejadian? Mana kemajuan, mana kemunduran?. Mana lebih kekal, tubuh atau nyawa?.
    Dengan mengingat akan kematian, ambisi keduniawian kita pasti akan jadi lebih lembut. Dengan mengingat akan kematian, iman kita akan makin dewasa, spiritual kita akan semakin matang, jiwa kita akan semakin besar. Dan lewat kuburan model Salome ini, kita buktikan/contohkan, akan kebesaran dan keiklasan jiwa kita yang telah mampu meleburkan sekat perbedaan antara aku dan kita.
    Hidup ini singkat. Kita tidak akan pernah tahu, berapa lama lagi kita masih akan bisa melihat mentari pagi. Silahkan anda semua bertengkar/berkelahi untuk mencari/meyakini kebenaran diri. Silahkan anda bersilat lidah, banggakan ketinggian ilmu, keluasan pengetahuan dan kejeniusan pemikiran anda. Tapi cepat atau lambat, anda pasti akan diajar oleh usia menua. Akan diajar (keinsafan) akan kelemahan diri. Persis si Binatang Jalang, Chairil Anwar, yang di akhir-akhir hidupnya pun menulis;  Hidup hanya menunda kekalahan/ Tambah terasing dari cinta sekolah rendah (agama?)/Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan/ Sebelum pada akhirnya kita menyerah.
    Pada ummnya, para pelaku spiritual memang ingin bisa menguasai/memiliki ilmu spiritual yang tinggi dan aneh-aneh ataupun hapal isi kitab suci. Tapi setinggi, aneh dan fasihnya anda mengutip kitab suci, pada saatnya harus juga menyerah pada sang maut, termasuk orang sekelas nabi sekalipun. Padahal untuk jadi spiritualis, anda tidaklah harus punya ilmu yang tinggi, aneh atau harus hapal isi kitab suci. Tidak! Tinggi-tinggian ilmu (ego) itulah yang justru seringkali jadi pemicu pertengkaran, permusuhan, penipuan, penindasan dan perpecahan. Padahal sesungguhnya spiritual itu sederhana saja. Anda cukup (dan harus bahkan) jadi diri anda sendiri, bisa bahagia dengan hidup anda, tidak merugikan orang lain, bekerja penuh cinta dan punya empati pada penderitaan sesama. Jika anda bisa begitu saja, itu artinya anda sudah jadi seorang spiritualis tingkat tinggi, sekalipun anda orang miskin dan buta huruf sekalipun.
    Karena itulah, dalam spiritual advisku hanya satu, mari jadi pelaku spiritual yang langsung terjun langsung belajar meluluhkan sang ego diri. Persis yang di tulis Mahatma Gandhi dipengantar otobigrafinya; SAYA HARUS MERENDAHKAN DIRI SAMPAI NOL!.
    Saya percaya, jika kita semua mau dan bisa belajar meluluhkan sang ego diri, tak peduli apa agama atau kepercayaan anda, kita semua pasti bisa bersatu. Bersatu dalam ketulusan, bukan bersatu karena penindasan. Bersatu dalam kebebasan, bukan bersatu dalam ketakutan. Bersatu untuk melawan kedzoliman, bukannya bersatu untuk membuat kedzoliman. Hanya persatuan yang akan membuat kita maju dan kuat. Sudah saatnya kebangkitan spiritual bangsa sendiri di mulai. Dan salah satu kelemahan atau kurang berkembangnya spiritual bangsa kita ini adalah, tidak adanya satu symbol spiritual yang bisa menyatukan kita semua. Jadi menurut saya, kuburan model Salome ini bisa jadi langkah awal kebangkitan itu.
    Aku juga percaya,  salah satu jalan untuk bisa meluluhkan sang ego diri dan sekaligus untuk bisa memasuki alam roh adalah dengan jalan penyerahan diri. Kebenaran hidup dan kesadaran diri, hanya dapat dicapai dengan penyerahan, kepasrahan dan keiklasan yang total pada sang hidup.
     Akhir kata, semoga semua apa yang saya tulis ini tidak hanya akan jadi wacana belaka. Dan sebagai langkah awal, kepada siapa saja yang tertarik dengan ide ini saya ini. Saya mengajak, yuk belajar berani menginjak tanah (realita), jangan hanya berani jadi jagoan berkicau di dunia maya saja. Mari berkumpul, bahu-membahu dan saling berbagi  untuk mewujudkan ide ini. Sekecil apapun sumbang sih anda, meskipun itu hanya dalam bentuk kata/do’a,  selama semua itu  didasari oleh ketulusan hati dan niat baik, itu semua sudah merupakan amal ibadah.
    Sudah saatnya bangsa ini punya keseimbangan antara kecerdasan intelektual (IQ) dan kearifan emosional (EQ). Karena hanya itu yang akan bisa mengangkat bangsa kita dari keterpurukan selama ini. Aku percaya, pada saatnya nanti, di tangan para spiritualis berjiwa besar yang mendasarkan hidupnya pada asas sikap penyerahan, pengorbanan dan kasih. Ide tentang pembuatan kuburan model Salome ini pasti akan jadi kenyataan. Kuburan yang akan jadi symbol; TRASCENDENT UNITY OF RELIGIONS!.
    Rahayu, rahayu, rahayu umat sejagat.