Rabu, 27 Maret 2013

HEDONISME DI SURGA





            “Kapitalisme itu sangat hedonistic!” kata teman saya yang semangat Islamnya menggebu. Karena menurutnya hedonisme  (mencari kenikmatan jasmani) itu sesuatu yang tidak baik. Sementara dipandangnya Amerika itu sebagai pusat kapitalisme. Maka teman saya itupun paling suka memaki, Amerika itu sebagai rajanya Iblis dunia.
            Etika protestan di Amerika itu memang kuat sekali dan etika itu yang mengembangkan kapitalisme. Bekerja keras, berhemat dan beramal itu sudah sama saja dengan beribadah.  Jadi kapitalisme sebagai sebuah system, sebenarnya tidak hedonistic. Tapi bahwasanya dalam kapitalisme itu bisa berkembang hedonisme, itu memang tidak bias dipungkiri.
            Tulis Daniel Bell, dalam  Cultural Contradictions of Capitalism. Hedonisme di Amerika baru terjadi pada tahun 1950-an keatas. Dengan maraknya usaha kredit dan cicilan yang sekarang juga mewabah di Negara kita. Puncak hedonism, justru terjadi pada saat gelombang anti kapitalisme di tahun 1960-an yang dipelopori oleh kaum hippies. Mereka itu anti etika protestan, anti kerja keras dan hidup berleha-leha dan menghisap ganja untuk mendapatkan apa yang disebut dengan spiritual achievement.
            Jadi hedonisme itu bisa tumbuh dimana saja, dalam sosialisme juga bisa. Di Kuba misalnya, beberapa tahun setelah Fidel Castro berkuasa, di negeri revolusioner itu ternyata para pejabatnya paling doyan mengendari mobil Alfa Romeo deluxe 1750. Dengan Rolex di tangan dan cerutu Upmann diantara jari, mereka berkotbah tentang pengorbanan kepada massa blab la bla………………….. Sementara beribu tahanan politik di penjara.
             Dalam dunia spiritual atau agama, hedonisme juga bisa tumbuh.  Dalam sejarah kita kenal raja Kertanegara dari kerajaaan Singasari yang penganut Tantrisme (yang merasa bisa lebih dekat pada Tuhan setrelah bernikmat-nikmat}. Doktrinnya; Kalau anda suka makan, jangan berpuasa!. Jusru sebaliknya anda harus makan sekenyang-kenyangnya, hinga anda sendiri tidak punya selera lagi untuk makan. Pada saat itu anda pasti akan bisa lebih khusuk dalam beribadah kepada Tuhan, karena apa yang menyenangkan di dunia sudah tidak ada lagi.
            Mungkinkah nabi Muhamad juga pengikut Tantrisme? Terbukti beliau sampai punya istri empat, belum di hitung yang di nikahi secara mut’ah ketika beliau berada di medan perang. Dikalangan mereka yang bisa mendapatkan segala sesuatunya dengan mudah, hingga zaman ini saya kira Tantrisme masih cukup banyak penganutnya, tak peduli apa agama orang itu. 
            Dan lebih gila lagi, ada orang yang rela melakukan aksi bom bunuh diri , dengan harapan agar bisa masuk surga dan memuaskan kenikmatan jasmani/ragawinya termasuk dengan mengawini para bidadari. Itu khan pemikiran yang sangat hedonisme sekali. Masak ajaran agama/spiritual ujung-ujungnya Cuma ke masalah syahwat?. Bukan hanya hedonis tapi juga egois, mau bernikmat-nikmat diatas penderitaan orang banyak.
            Kematian itu suatu hal yang pasti. Jadi bagiku, para pelaku bom bunuh diri itu bukan orang pemberani, tapi sebaliknya, pengecut!. Orang yang tidak berani menghadapi kenyataan di dunia, orang yang tidak bisa menerima dan mensyukuri segala karunia Tuhannya, lalu melarikan diri dalam hayalannya tentang kindahan surgawi. Saya tidak tahu, apakah para pelaku bom bunuh diri itu di Surga akan ngamuk-amuk atau bias menerima, jika ternyata orang-orang yang selama ini dia anggap kafir, sesat, bid”ah dan sebagainya, ternyata oleh Tuhan juga di masukkan surga.
            SURGA ITU MENYENANGKAN, TAPI BELUM TENTU MEMBAHAGIAKAN. KESENANGAN DALAM UJUD LAHIRIAH, DALAM BATHIN SERINGKALI JUSTRU JADI SIKSAAN.
            Pertanyaannya, Apakah kalau mati kita masih akan membawa raga kita?


Saya bukan orang yang anti Hedonisme. Kenikmatan itu macam-macam. Bisa tidur nyenyak itu nikmat, meditasi itu nikmat, bersetubuh dengan pasangan itu nikmat, menolong orang lain itu nikmat, makan daging babi di jalan Pacenongan itu nikmat hahaha………….. Semua kembali ke motivasi tiap-tiap individunya. Cuma yang mengkhawatirkan, saat ini banyak orang yang suka mengejar kenikmatan jasmani dengan kurang menghargai nilai-nilai dan norma-norma luhur yang ada. Hedonismepun menjelma menjadi keserakahan. Hingga untuk bisa memuaskan keserakahan jasmaninya, orang tidak segan-segan lagi melakukan korupsi, menipu, mencelakai bahkan membunuh sessamanya. Hedonisme memang bisa jadi berbahaya dan bersifat merusak, ketika yang dituju semata hanya kenikmatan. Seperti filsafat epikurianisme, kenikmatan itu by produk atau tujuan?

Minggu, 24 Maret 2013

CATATAN DARI DAERAH KONFLIK




            Ini catatan saya, ketika satu kapal dengan para pengungsi dari Ambon, yang menghindar dari konfflik berlatar belakang Sara, kesenjangan social, kecemburuan ekonomi dan perebutan kekuasaan yang terjadi disana. Sangat kompleks permasalahannya. Jadi hanya orang berkaca-mata kuda yang katakan, konflik di Ambon itu sebagai perang agama!.
            Saat itu saya berada di dek teratas dibagian buritan kapal. Tempat yang nyaman buat nongkrong memandangi luasnya lautan biru. Sebab disitu disediakan meja-kursi dan ada warung kecil yang menyediakan aneka minuman, makanan kecil ataupun mie rebus. Saat itu saya satu meja dan berkenalan dengan beberapa pengungsi dari Ambon. Mungkin karena factor trauma psikologis, mereka jadi sangat hati-hati sekali dalam berbicara dan yang dibicarakan juga hanya yang bersifat umum-umum saja.
            Suasana jadi sedikit tegang, ketika salah seorang pengusngsi disitu bertanya pada saya dengan nada dingin, “Apa sih sebenarnya agama anda itu?”
            Pada awalnya saya ragu untuk berterus-terang, tapi celakanya, saya ini bukan tipe orang yang pintar  menutupi suara hati. Jika hati saya bilang “A” ya mulut ngomong “A”. Jika hati bilang “B”, mulut juga ngomong “B”. Maka dengan terus –terang saya katakana, “Saya orang tidak punya agama!”
            “Anda orang atheis?”
            “Tidak. Saya memang bukan orang beragama, tapi saya percaya adanya Tuhan.”
            Suasana tegang yang sempat terciptapun seketika mencair, begitu orang yang menanyai saya itu langsung tersenyum begitu mendengar pengakuan saya. Bagiku, pandangan orang itu yang menganggap saya bukan sebagai musuh atau ancaman, itu sudah lebih dari cukup. Soal pandangan orang itu yang masih  menganggap  saya seperti alien atau mahkluk asing dari dunia antah-berantah, itu bukan masalah. Itu hanyalah masalah waktu saja. Saya sendiri sudah terbiasa, berhadapan dengan orang yang berpandangan, bahwa orang yang tak beragama itu sama saja atheis. Bahkan ada yang lebih ngawur lagi, ada yang memvonis, bahwa orang tidak beragama itu sama saja dengan PKI!.
            Sambil tersenyum getir si penanya saya itupun kemudian berujar, “Saya tidak tahu. Apa jadinya dunia ini, jika isinya hanya orang-orang tidak beragama seperti anda ini. Sedang ada agama dan orang-orangnya mengaku beragama saja, masih pada saling bunuh, bakar, siksa, rampok, perkosa, dan sebagainya!”
            “Seperti anda, saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.” Jawab saya. “Tapi satu hal yang saya tahu pasti, dalam hati anda sendiri sebenarnya meragukan keberadaan agama yang bisa membuat manusia jadi lebih baik.”
            “Maksud anda?”
            “Bukankah tadi anda katakan sendiri, orang punya agama saja masih pada saling bunuh, bakar, siksa, perkosa dan sebagainya?. Dan sekarang anda lihat, saya orang yang tidak punya agama ini. Bukannya bermaksud menyomnongkan diri, tapi alhamdulilah, syukur puji Tuhan. Sampai sekarang saya belum pernah melakukan tindakan kriminal. Apalagi sampai jadi pembunuh sesama manusia.
            Inilah kesalahan kita selama ini, yang suka menilai dan memandang seseorang itu bukan dari moralitas dan tingkah lakunya. Tapi lebih suka menilai dan memandang orang lain itu dari apa agamanya, sukunya, rasnya, orientasi sexsualnya, gendernya dan sebagainya. Orang lain jika dilihatnya tidak sama agamanya dengan kita, divonis salah, sesat, kafir dan harus ditaubatkan dari keyakinannya?  Pandangan seperti itu khan picik dan sempit sekali. Bagaimana kita akan bisa jadi bangsa yang besar, jika cakrawala pemikiran masyarakatnya sedemikian kerdilnya.”
 “Tapi saya tetap tak habis bisa mengerti, apa jadinya jika kehidupan ini hanya diisi oleh orang-orang tak punya aturan dan tak tahu agama seperti anda Ini”
            “Anda tentu tahu khan, siapa itu Sokrates, Plato atau Aristoteles? Jelas mereka bukan orang Yahudi, Hindu, budha, kristiani, ataupun Islam. Tapi mereka toh tahu dan bisa berkelakuan penuh keluhuran budi. Mereka juga bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk ataupun mana yang salah dan mana yang benar. Mereka juga bisa punya keteguhan hati untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan ditengah-tengah kesewenang-wenangan penguasa. Mereka juga bisa buktikan dalam hidup mereka meskipun tanpa agama, bahwa kwalitas hidup seseorang itu bukan diukur dari jabatan dan kekayaannya, melainkan dari konsistensinya untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
            Mereka orang yang belum terkontaminasi doktrin agama, dan sekarang anda lihat sendiri orang-orang yang katanya beragama itu moralital dan kelakuannya seperti apa???”
            “Tapi saya tetap berkeyakinan, orang itu akan lebih baik jika beragama daripada tidak!”
            “Saya hargai keyakinan anda itu dan yang terpenting harus bisa di buktikan. Tapi kalau boleh saya nanya, ‘Apa sih cirinya orang bisa disebut beragama itu?’ “  karena saya Tanya beberapa waktu orang itu hanya diam saja, akhirnya saya jawab sendiri pertanyaan saya itu. “Orang bisa disebut beragama karena punya dua hal yang mendasar, yaitu kitab suci dan nabi. Dan sekarang kita coba lihat kehidupan para nabi itu sendiri. Bukankah para nabi itu jadi nabi bagi dirinya sendiri? Dan kitab suci itu bukankah tercipta-susun setelah beberapa waktu nabi itu wafat? Dengan demikian bukankah bisa dikatakan, bahwa para nabi itu sendiri sebenarnya bukan orang-orang yang beragama? Karena tidak punya nabi dan kitab suci?
            Para nabi itu seperti saya khan, tidak beragama tapi percaya adanya Tuhan? Beragama itu tidak identik dengan berTuhan.  Dan bagi anda yang sudah ngaku beragama tapi masih suka rampok, siksa, bakar, bunuh dan perkosa sesamanya. Itu artinya anda baru beragama tapi belum berTuhan. Dan sekarang terserah anda mau pilih mana. Mau pilih Tuhan yang abadi atau pilih agama yang bisa di tafsir belok-belokkan sesuka hati itu”
            “Anda tak punya nabi dan kitab suci, tapi paling tidak anda khan punyalah guru, pembimbing, panutan atau apalah sebutannya.”
            “Pengalaman adalah guru yang terbaik, kata orang bijak. Jadi kemanapun saya melangkah, sebenarnya saya tengah bertemu dengan guru saya. Termasuk ketika saya bertemu anda kali ini, sebenarnya saya juga tengah bertemu dengan guru saya. Karena jujur saya harus akui, pertemuan kita kali ini memang memberi banyak sekali pelajaran dan inspirasi buat saya. Dan saya trmasuk tipe murid yang sangat hormat pada para gurunya hahaha………………“
            Pembicaraan kamipun terus berlanjut. Diskusi kamipun terus mengalir dafri topic yang satu ke topic yang lain. Bahkan beberapa pemuda disitu menanyakan, tentang bagaimana cewek-cewek di Jawa? Hahaha…………….. Pembicaraan yang hangat, penuh canda-tawa dan penuh keakrapan seolah seperti perjumpaan sahabat lama saja. Dan satu hal yang membuat hati saya sangat bahagia, ketika saya menatap mereka yang tadinya dingin seolah menyembunyikan dendam, curiga, derita dan amarah. Kini tidak ada lagi kesan itu. Yang ada hanya sorot mata yang berbinar-binar jernih. Dan saat itu saya hanya bisa berdoa’a, semoga sorot mata yang indah itu tetap seperti itu selamanya.
            Pengalaman adalah guru yang terbaik? Jadi betapa tololnya kita-kita ini jika tidak bisa mengambil hikmah/pelajaran dari kejadian nyata yang sungguh sangat mahal sekali harganya itu. Pelajaran yang tidak hanya harus ditebus dengan pengorbanan harta-benda, tapi juga harus mengorbankan banyak nyawa saudara-saudara kita sendiri.
            Perjuangan menegakkan keadilan dan perdamaian itu memang terbatas oleh ruang dan waktu. Kita memang tidak bisa melawan kodrat alam sebagai mahkluk yang terbatas. Tapi itu bukan alas an kita untuk menyerah dan berhenti mengusahakan nilai-nilai universal, seperti halnya perdamaian. Justru keterbatasan itu yang menyadarkan kita, untuk bersedia ditegur, mengerti rasa malu, takut berbuat dosa dan selalu bersikap kritis agar tidak terbelokkan oleh dunia yang terus berubah ini.
            Pengalaman eksistensial mengenai keterbatasan diri dan dunianya, sekaligus memendam kerinduan untuk bisa menggapai perdamaian dan kebahagiaan yang hakiki. Cepat atau lambat, saya percaya itu akan mengantar siapapun orangnya pada kesadaran akan keberadaan Tuhan YME. Dialah sang penjamin kebahagian dan arah perjuangan hidup manusia.
            SEMAKIN JAUH AKU MENGEMBARA, SEMAKIN TERANG-BENDERANG TANAH MUASAL

Sabtu, 26 Januari 2013

SPIRITUAL YANG MEMBEBASKAN

-
Ketika terjadi konflik Syi’ah di Sampang Madura, untuk mengatasi masalah itu ada seorang tokoh masyarakat yang memberi advis begini; Jalan terbaiknya ialah para pengikut Syi’ah beralih menjadi Suni!.
            Penyelesaian secara instan seperti itu bukanlah cerita baru, beribu tahun yang lalu para paus dan ulama juga sudah suka kotbah seperti itu. Pindah agama, tinggalkan ajaran sesat dan bagi kau terbukalah pintu Surga!. Dan beberapa waktu kemudian kita semuapun tahu, pertikaian itu sebenarnya bukan konflik antara Syi’ah Vs Suni. Tapi hanya pertikaian keluarga yang berlatar-belakang perebutan harta-warisan dan perempuan belaka!.
            “Semakin banyak kau bisa membunuh musuhmu, semakin luaslah kavling di Surga bakal kau miliki!”, Itulah fatwa terkenal yang sama-sama keluar baik dari kaum Muslim maupun Nasrani dalam Perang Salib. Zaman ketika agama hanya dijadikan kedok untuk melindungi kepentingan ekonomi dan kekuasaan sejumplah kecil orang. Agama telah kehilangan semangat profetiknya dan terlalu banyak diwarnai ambigiutas dan paradok. Kotbah tentang kebajikan agama yang mengajarkan tentang perdamaian, cinta-kasih dan menghargai sesama, tapi dalam praktiknya hingga kini diseluruh penjuru dunia masih saja terjadi konflik antar suku, pemusnahan etnis, pengusiran sebuah bangsa, yang kesemuanya itu sering dibalut oleh keyakinan sempit dalam beragama.
            Dalam kaca-mata para  ilmuwan sudah sampai pada suatu kesimpulan: AGAMA MATI SEIRING TERBITNYA MODERNISME!. Agama dianggap tidak lebih dari sis-sisa kepercayaan dari masa gelap yang mewartakan dunia apokalipstik di masa depan. Transendensipun telah direduksi jadi kabar angin dan itu jadi isyarat awal dari kebangkrutan agama-agama formal!.
            Sejak Galileo dijatuhi hukuman oleh gereja, kemajuan ilmu dan kedudukan agama memang seperti anjing dan kucing, saling mencurigai dan membenci. Agama mencurigai ilmu pengetahuan sebagai sumber kesesatan, dosa, sekularisme dan atheisme. Sementara ilmu-ilmu modern pada masa pencerahan (aufaklarung) menghinakan agama sebagai kekolotan yang tak dapat ditanggung oleh kemajuan zaman. Karena itu agama pasti akan segera lenyap dari kehidupan manusia. Tidak hanya agama. Filsafat yang memperdebatkan ilmu pengetahuan macam Positivisme, Neokantianisme dan Mazhab Wina juga pernah di curigai dan disingkiri oleh ilmu.
            Anda mau berpandangan, bahwa yang menjadi asas cuma materi dan apa yang dinamakan roh, nyawa atau Tuhan itu hanya tipuan angan-angan atau produk materi belaka. Atau anda mau mempertahankan yang sebaliknya?. Semua terserah dan kembali kepada keputusan kita masing-masing Aku sendiri memilih, disaat-saat kesadaran yang paling cerah (meditatif), nyawa, roh atau Tuhan berbayang pada diri kita. Dan dalam kesadaran yang paling cerah itu, kita hanya diam membisu dan pasrah berserah diri secara totalitas pada segala kehendaknya. Biarlah semua terjadi menurut kehendaknya, bukan kehendakku.
            Sampai titik ini pikiran kita tidak mampu menjangkaunya. Spiritual macam ini juga tidak bisa diprogramkan dan dimassalkan sebagaimana agama. Itu juga bukan spiritual achievement, kita tidak bisa dan mau mendikte Tuhan. Disinilah bukti nyata, bahwa Tuhanlah yang maha kuasa bukan kita. Hal itulah yang menyadarkan kita, bahwa tidak mungkin orang mampu mempercayai adanya tuhan, tanpa mengakui dirinya sendiri terbatas. Dan keterbatasan/ketidak sempurnaan, bukanlah jadi alasan kita untuk terus-menerus menghalalkan kerakusan. Keadan tidak sempurna itu justru jadi alasan kita untuk bersedia rendah hati, bersedia ditegur, mengerti rasa malu dan dosa!.
            Sampai titik ini, saya melihat kecerdasan spiritual bangsa sendiri. Bangsa yang tidak pernah melahirkan agama-agama formal. Karena spiritual sejatinya memang tidak bisa diformalkan, dimassalkan atau didogmakan seperti agama. Hubungan manusia dan Tuhannya itu bersifat unik, khas dan mempribadi. Tidak ada seorangpun atau lembaga  yang punya otoritas untuk menilai kedekatan seseorang itu dengan Tuhannya. Spiritual bukanlah soal pintar-pintaran kotbah atau tebal-tebalan kitab suci. Spiritual adalah proses pengenalan dan pendekatan diri pada kasunyatan (sejatinya realita/Tuhan) kata orang Jawa.  Dan dari kedekatan dan pengenalan kita akan kesejatian Tuhan, kitapun akan bisa menjalani hidup seperti kehendakNya.
            Telah tiba saatnya membangkitkan jiwa-jiwa yang tenggelam yang masih tetidur pulas dan tidak menjalankan hidup seperti kehendak Ilahi. Jika para nabi mendekatkan dan membangunkan kesadaran umatnya akan keberadaan Tuhan lewat aneka muzizat yang aneh-aneh.. Di zaman kontenporer ini, ilmu pengetahuan, kreatifitas dan kecerdasan itulah muzizat yang diturunkan Tuhan di zaman modern ini. Agama, budaya dan tradisi, tanpa pengetahuan hanya akan menciptakan stagnasi bahkan dekandensi berpikir. Orang yang tidak biasa berpikir secara rasional dan kontekstual, kesadarannya akan mudah dinina-bobokan oleh janji-janji surgawi agama.
            Tapi cerdas saja tanpa dilandasi keyakinan adanya Tuhan, hanya akan menciptakan manusia-manusia atheis sombong yang siap menghalalkan segala cara untuk bisa meraih ambisi-ambisinya.
            Jadi jelas sudah, kenapa agama dan ilmu pengetahuan itu sering tidak akur. Karena pada dasarnya, keduanya sama sombong dan besar kepalanya. Yang agamawan, berkeyakinan, semua tanya bisa dicari jawabnya dalam kitab suci. Sementara ilmuwan merasa semua tanya ada jawabnya dalam dialitika pemikiran kritisnya. Yang satu MEMBERHALAKAN AGAMA! Satunya lagi MEMBERHALAKAN KECERDASANNYA!. Apa bedanya?. Tidak ada bedanya, keduanya sama-sama tidak menyembah sejatinya Tuhan.
            Barang siapa memuja/memberhalakan selain sejatinya Allah, orang itu pasti akhirnya akan diperbudak olehnya dan menjadi manusia robot yang tak berjiwa. Tapi barang siapa mau mencari dan mencintai sejatinya Allah, orang itu akan menemukan jatidirinya sendiri dan kebebasannya yang hakiki. Jiwanya akan merdeka sekaligus penuh kasih-sayang. Dan itu bukan kemewahan yang nikmat, tapi kewajiban yang dalam bagi seorang spiritualis.
Spiritual itu dinamis dan penuh dialitika. Spiritual itu akan membebaskan/memerdekakan jiwa dan pikiran kita. Kita akan bebas memilih para pemimpinnya, bebas ikut dalam politik, bebas dari acuan tradisi dan tahayul. Bebas pula dari kekurangan materi. Dan dalam semangat kebebbasan itu, alternative-alternatif bias diperoleh dan kemungkinan-kemungkinan baru untuk menyelesaikan suatu permasalahan dapat dicari.
Jadi intinya, spiritualis sejati itu memandang hidup dan Tuhan itu sebagai maha misteri. Hal itulah yang menyadarkan seorang spiritualis untuk selalu rendah hati. Tuhan juga bias member cahaya kebenaranNya lewat siapa, kapan dan dimana saja. Hal itulah yang menyadarkan seorang spiritualis untuk selalu TERBUKA DAN TOLERAN terhadap siapa saja. Kita sadar, kebenaran kini tidak bias digenggam sendirian oleh selapisan elite, nabi, dosen, tokoh masyarakaty. Penguasa, orang tua dan sebagainya. Di zaman kontenporer ini, kebenaran adalah suatu realitas yang dimiliki bersa,a. Dan hanya solidaritas berkomunikasilah yang bias melahirkan itu, yaitu lewat dialog.
Perbedaan pendapat dengan demikian adalah suatu rahamat. Jadi kalau ada ilmuwan, agamawan, ataupun orangyang ngku spiritualis, tapi alergi kritik, sombong, tertutup, fanatic dan merasa sudah paling benar, pintar, sempurna dan suci sendiri. Saya berani katakan; Mereka sejatinya manusia pemuja selain Tuhan. Bahkan kita juga boleh meragukan, orang itu sesungguhnya masih juga manusia yang terdiri dari daging dan roh ataukah hanya robot berotak yang tak berjiwa!.
Saat ini kebanyakan kesadaran jiwa manusia tenggelam dalam kegelapan, karena dalam spiritual terlalu banyak mencari hal-hal di luar diri dan dengan pemikiran yang bermacamacam> Tapi intinya hanya ingin menguasai dan biar terlihat lebih dibandingkan orang kebanyakan.Hal itulah sesungguhnya yang jadi penyebab utama banyak peristiwa-peristiwa yang tidak bias di nalar akal sehat bias terjadi, seperti kasus sampang, korupsi kitab suci, penghancuran rumah ibadah dan sebagainya.
Maka jika kita memang ngaku spiritualis, cari dan kembalilah pada sang jati-diri!. Belajar mencari yang ada didalam diri, supaya lebih mudah melihat yang di luar. Jernih jiwa, maka kita akan melihat dengan jernih pula hal-hal yang di luar. Kembali menemukan sang jatidiri dan hidup dalam bimbingan Ilahi. Itu inti spiritual yang ada dalam agama dan ajaran religious manapun yang dicai sejak zaman dulu. Intropeksi, mawas diri, berkumpul dan melakukan praktik spiritual dengan meditasi, dari situ kesadaran kita pasti akan bangkit dan hidup seperti kehendak Illahi, sesuai dengan kapasitas dan peran kita masing-masing.
Mencintai Tuhan dengan sepenuh jiwa raga dan mencintai sesama seperti bagaimana kita mencintai diri sendiri, itulah inti ajaran semua agama/spiritual. Dan tugas utama seorang spiritualis adalah membuka wawasan umat dan tidak takut kehilangan otoritasnya. Bimbing, berkati dan tunjukkan pada umat untuk bias menemukan jatidirinya sendiri, kaena itulah jalan untuk bisa menemukan Tuhan yang bersifat universal.  BHINEKA TUNGGAL IKA.
Kalau pengetahuan tentang keTuhanan dilandasi asas kebebasan penegenalan langsung akan haqiqat kesejatian Tuhan, umat pasti juga akan lebih cerdas dan memahami Tuhan yang menghendaki kehidupan manusia yang lebih sejahtera, tak peduli apa itu suku ras, agama, orientasi sexsualnya, gender dan sebagainya.
Religius sekaligus sosialistis terbuka, itulah dua gambar dalam satu mata uang yang tidak terpisahkan. Dan hal itu tidakkah sebenarnya sudah pula dirumuskan dalam dasar Negara kita. Pancasila?